Jalurdua.com

Menggapai Hidup Tentram

Tiga Perjuangan Hidup Manusia

1 Bahagia dunia dan akherat
2 Pilih salah satu
3 Hancur dua-duanya

Tiga pilihan itulah yang ada untuk seluruh umat manusia. Pilihan pertama adalah yang paling diidam-idamkan orang . Namun kenyataannya dalam perjalanan hidup seseorang harus puas dengan pilihan kedua. Bahkan pilihan ketiga pun sering kali kita lihat dalam kehidupan ini, menimpa seseorang . Suatu kerugian yang besar tentunya.
Jika Anda lihat, orang lalu-lalang di jalanan, kerja keras di kantor, banting- tulang diproyek dan lain sebagainya, sesungguhnya apa yang mereka cari? Uang! Untuk apa uang itu ? Untuk membeli kenikmatan. Karena itu selalu muncul dalam benak seseorang bahwa dengan mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya maka ia akan mendapat kenikmatan yang banyak pula.
Tapi apa betul dengan banyak uang itu berarti seseorang akan mendapat kenikmatan yang berlimpah. Tidak selalu dan tidak pasti. Sudah banyak contoh yang menjungkirbalikan pendapat semacam itu. Tapi mengapa sebagian besar dan hampir seluruh umat manusia itu selalu punya pikiran untuk mendapatkan uang sebanyak-banyaknya ?
Memang tak bisa dipungkiri, untuk keperluan hidup tiap orang perlu uang. Karena uang adalah simbol dari kualitas hasil karya individu. Karya seseorang dinilai dengan uang, kemudian uang itu ditukar dengan barang atau jasa untuk keperluan hidup sehari-hari.
Pertanyaan, berapa besar uang yang Anda butuhkan untuk keperluan hidup, untuk mencapai kebahagiaan itu ? Ketika pertanyaan ini saya utarakan kepada sejumlah pengusaha. Jawabnya beragam, malah beberapa para di antara tidak menjawab, diam.
Saya sependapat dengan mereka yang diam itu karena sesungguhnya keperluan manusia tidak terbatas. Namun kondisi individu yang membatasinya. Jika seseorang melanggar batas kondisi individu maka dia akan berada di luar kontrol. Seseorang yang berada di luar kontrol maka ia tidak akan mengetahui tujuan hidup.
Jika manusia sudah tidak tahu tujuan hidup, dia akan berputar-putar dengan hartanya. Maka yang ia dapat adalah kebahagian dunia, akherat lepas. Padahal Allah SWT telah menetapkan bahwa perjalanan manusia adalah menuju akherat. Dunia hanyalah sebagai tempat transit saja. Banyak manusia yang tertipu karena menganggap tujuan akhir perjalanan hidup ini di tempat transit itu. Bekalnya dihabisnya di tempat transit itu sehingga ketika perjalanan ini dilanjutnya ia tidak punya bekal cukup.
“ Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami sempurnakan pekerjaannya di dunia, dan mereka tidak dirugikan.”
“Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akherat kecuali neraka dan lenyaplah apa yang telah mereka usahakan (di dunia), dan sia-sialah apa yang mereka kerjakan.” ( QS: Surat Huud , 15 dan 16)

Ada contoh menarik. Ada anak orang miskin yang menderita radang lambung, badannya panas tak kunjung turun. Bapaknya hanya punya uang Rp 50.000. Anak itu lantas dibawa ke poliklinik Gotong Royong yang terkenal dengan biaya murah di Surabaya. Biaya periksa dokter dan obat hanya Rp 49.000. Dua hari kemudian anak itu sembuh. Pada saat hampir bersamaan, tetangga saya orang kaya, katanya, anaknya terkena radang lambung. Dia dibawa ke rumah sakit mewah. Total biaya yang dikeluarkan sekitar Rp 1.7 juta. Dua hari kemudian anaknya sembuh. Jika kita renungkan, apa bedanya biaya Rp Rp 49.000 atau Rp 1,7 juta, kalau ternyata penderita sama-sama sembuh.
Allah SWT kalau menghendaki orang sakit itu sembuh maka sembuhlah dia tanpa mempedulikan biaya. Ada contoh lain, kawan saya yang berada di Kalimatan malam-malam telepon kepada saya yang mengabarkan anaknya kena diari (mencret). Ia tak punya uang untuk membawa ke dokter. Dia minta bantuan agar dipinjami uang dan dikirim lewat bank. Saya bilang ke dia tak mungkin saya kirim uang malam ini. Kalau besok pagi mungkinlah.
Kemudian ia saya sarankan agar tengah malam ini ia salat sunah dan minta kepada Allah SWT agar anaknya diberi kesembuhan. Teman saya melakukan semua itu dengan sungguh-sungguh karena sudah tidak ada pilihan lagi. Kemudian, ia mengambil air putih sambil mengucapkan Basmalah lalu air itu diminumkan ke anaknya yang sedang sakit. Alhamdulillah, anaknya sembuh. Pagi hari sudah tidak mencret lagi. Ia p[un batal memminjam uang dari saya. Itulah salah satu bukti bahwa kalau seseorang itu bersungguh-sungguh minta pertolongan Allah SWT tanpa biaya pun bisa sembuh.
Seseorang yang punya pandangan hidup jauh ke depan, bisa merasakan apa yang sebenarnya dicari dalam menuju cita-cita hidup bahagia dunia dan akherat ini. Ia bisa mengerti apa yang akan terjadi dalam melangkahkan kakinya untuk bekerja dan beraktivitas sehari-hari. Ia juga mengerti apa saja tipuan-tipuan di dunia ini sehingga bisa menghindarinya. Dalam kehidupan ini juga banyak sekali jebakan-jebakan yang siap menyengsarakan menusia di belakang hari.
Dari tubuh kita, bagian mana yang bisa merasakan bahagia atau tidak, senang atau sedih ? Jawabnya tentu, hati yang bisa merasakan semuanya. Hati bukan dalam bentuk fisik (liver atau jantung) yang ada tubuh kita, tapi hati dalam arti ‘bagian-bagian halus’ yang berhubungan dengan ruh. Tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata ‘bagian yang halus itu’ karena urusan ruh adalah wewenang Allah SWT.
Seseorang naik mobil Jaguar, hatinya senang. Seseorang lainnya naik Toyota Kijang tua, hatinya juga senang. Apa yang membedakan dari dua orang itu ? Yang membedakan adalah orang yang mengerti yang akan terjadi dengan tumpangan kendaraan itu. Jika pemilik Jaguar itu dalam mendapatkan mobil mewahnya itu dengancara salah (haram) maka ia merasakan senang sekarang tapi susah di kemudian hari. Pilihan nomor dua yang ia dapatkan. Pemilik Kijang reyot jika cara mendapatnya kendaraan dengan cara halal maka dia dapatkan senang sekarang, senang di kemudian hari. Pilihan nomor satu yang ia dapatkan. Kita banyak saksikan kejadian tersebut di masyarakat sekarang ini.
Allah SWT memberi kebebasan kepada menusia untuk memilih. Jika ia menginginkan germerlapan dunia, akan dikasih. Begitu pula mereka yang tak ingin kepada germerlapan dunia dan mengharapkan akherat, juga dikasih. Orang cerdas dalam srti sesungguhnya, tentu memilih kehidupan nanti (akherat) ketimbang kehidupan dunia yang singkat ini.
Gambaran sederhananya adalah , jika Anda ditawari uang Rp 10 triliun, apapun yang Anda inginkan pasti dapat. Tapi waktu Anda untuk menikmati semua itu hanya seminggu. Kemudian selama 100 lahun Anda disiksa terus menerus dengan tubuh yang dibakar. Apa Anda mau ? Tentu Tidak. Tapi banyak orang yang secara tidak sadar maupun sadar bersedia menerima tawaran itu. Tapi yang paling menyedihkan adalah, di dunia miskin tapi beragama non Islam, hancur dua-duanya.
Di dunia ini sekarang hidup sekitar 6,5 milyar jiwa. Hanya 1,5 milyar yang beragama Islam. Padahal Allah SWT secara jelas berfirman bahwa mereka yang bisa menikmati hidup bahagia di akherat nanti adalah orang Islam. Namun tidak semua orang Islam bisa langsung masuk surga. Mereka yang mengaku Islam tapi berbuat dosa terus menerus dan tidak tobat sampai akhir hayatnya. Tentu saja harus merasakan siksaan lebih dulu di neraka, kemudian atas kemurahan Allah SWT mereka diangkat masuk surga.
“Dan barang siapa mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima, dan di akherat dia termasuk orang-orang yang rugi.” (QS: Ali Imran, 85)

Post Metadata

Date
June 22nd, 2009

Author
admin

Leave a Reply