back to top
Kamis, Desember 11, 2025

Inai Tutu Iya Upa’, Inai Pacapa’ Iya Cilaka

Sejarah dunia menunjukkan hanya homo sapiens yang selalu bermasalah terhadap keseimbangan alam. Bahkan bermasalah terhadap keseimbangan jiwa. Homo sapiens bertanggung jawab penuh pada berbagai tindakan pemusnahan flora dan fauna, perang, serta pencemaran.

Lantas apakah bumi hanya sekadar mengalami demam ketika diinvasi wabah? Sapiens mengeluarkan antibodi ketika diinvasi organisme luar. Namun tidak selamanya mereka bisa bertahan.

Peristiwa pemurnian-pemurnian dalam sejarah dikategorikan penghakiman. Itulah sebabnya banyak yang menyimpulkan pandemi merupakan penghakiman paling tepat bagi spesies kita.

Kalau benar bumi sedang dimurnikan maka idiom “normal baru” tidak sepenuhnya keliru. Bisa jadi ia hanyalah fase yang berulang. Agama-agama dan berbagai budaya punya hubungan intim terhadap persoalan pemurnian.

Sekali waktu pemurnian merupakan antonim dari kata “kecerobohan”. Ia selalu komplit. Prosesnya pasti disublimasi secara matang.

Sebuah puisi kuno Makassar yang penulisnya anonim, berbunyi: “Inai tutu iya upa’/Inai pacapa’ iya cilaka.” Mengutip pemaparan budayawan dan sastrawan Bulukumba, Andi Mahrus Andis, puisi minimalis itu dinukilkan oleh seorang seniman teater yang meraih doktor di bidang kajian kesusastraan daerah, Dr. A. Nojeng. Puisi ini sebentuk pesan leluhur yang terjemahannya kira-kira berbunyi: “Siapa yang berhati-hati maka dia selamat/Siapa yang ceroboh, maka celakalah dia.”

Dalam hari-hari yang tidak menentu manusia memang harus membentuk “katutu” atau “berhati-hati” terhadap apa pun yang berbau ancaman. Tidak “pacapa’ atau “ceroboh” dalam bersikap. Kemunculan kebijakan “new normal” untuk mengkondisikan posisi manusia terhadap pandemi wajib menghindari “capa”

Banjir besar di jaman Nabi Nuh adalah salah satu fakta pemurnian yang pernah ada. Nuh diharuskan menyelamatkan hanya puluhan orang beriman dan berbagai spesies hewan dan tumbuhan. Dalam bahtera super canggih sepasang hewan berdarah panas bisa sekapal dengan pasangan hewan lainnya yang berdarah dingin. Teknologi apa gerangan yang digunakan Nabi Nuh? Berbulan-bulan bahtera itu terombang-ambing di atas banjir bah raksasa.

Sebuah peradaban baru harus diselamatkan. Dengan tingkat “katutu” yang maksimal kapal Nuh diperlengkapi bahan pangan dan obat-obatan terlengkap sepanjang sejarah peradaban umat manusia. Kapal itu merupakan miniatur ekosistem darat. Karnivora, herbivora, dan omnivora tercukupi kebutuhannya dalam satu kapal. Miniatur masing-masing habitatnya pun didesain sedemikian rupa sehingga hewan dan tumbuhan yang berpasang-pasangan itu tetap lestari di atas kapal selama misi penyelamatan besar itu berlangsung.

Konsekuensi dari mengabaikan atau melawan hukum alam adalah penyakit, wabah, dan bencana alam.Apakah pemurnian juga dialami oleh peradaban Atlantis dan Sumeria? Kedua peradaban yang sangat tinggi itu justru menghilang.

Tidak ada jejak arkeologis yang cukup meyakinkan bahwa Atlantis adalah peradaban yang pernah dimurnikan. Atlantis lebih tepatnya “dibinasakan.” Teknologi antariksa Atlantis yang konon sudah mencapai penemuan portal teleportasi tidak mampu menjadi penyelamat.

Peradaban Sumeria merupakan jenis prestasi pertama di dunia. Bangsa Sumeria memiliki obat dan farmakope pertama di dunia. Operasi otak pertama di dunia. Pertanian dan almanak petani pertama di dunia. Kosmologi dan astronomi pertama di dunia. Kode hukum pertama di dunia. Dan mereka menggunakan teknologi yang mencapai metalurgi canggih, peleburan, pemurnian dan paduan serta pemurnian bahan bakar minyak bumi. Yang paling penting, bangsa Sumeria bertanggung jawab atas rekayasa genetika pertama di dunia. Toh Sumeria senasib Atlantis, “dibinasakan.”

Jangan pernah “pacapa”. Tetaplah “makkatutu.” Pemurnian beda tipis dengan penghancuran.(*)

Pustaka RumPut, 28 Mei 2020

- Advertisement -

Populer minggu ini

Satres Narkoba Bulukumba Ringkus Sopir Pengedar Sabu, Positif Metamfetamin

JALUR DUA.COM, BULUKUMBA. – Satuan Reserse Narkoba Polres Bulukumba...

Andi Utta Apresiasi Indonesia Bahagiakan Santri, Pantai Merpati Jadi Venue Utama

JALUR DUA.COM, BULUKUMBA,- Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, resmi siap...

The Thrill of Games of Chance Delving into the World of Gambling

The Thrill of Games of Chance Delving into the...

6 Sekolah Lansia Bulukumba Sukses Wisuda Akbar 2025, Ini Daftar dan Pesan Pentingnya

JALUR DUA.COM, BULUKUMBA – Hotel Agri, 9 Desember 2025...

Polisi Bulukumba Tangkap Pelaku Curanmor dalam Waktu Singkat: Kronologi dan Pengakuan Tersangka

JALUR DUA.COM, BULUKUMBA.--Dalam aksi kilat yang menunjukkan ketangkasan aparat...

Topics

Descubriendo secretos del mundo de los casinos en línea

Descubriendo secretos del mundo de los casinos en línea La...

Kumar Dünyasının Sahnesinde Kazinonun Sırları ve Eğlencesi

Kumar Dünyasının Sahnesinde Kazinonun Sırları ve Eğlencesi Kazino Kültürü ve...

The Thrill of Games of Chance Delving into the World of Gambling

The Thrill of Games of Chance Delving into the...

KPID Sulsel Gelar Award 2025 Rayakan 20 Tahun Penyiaran, Dorong Literasi Digital dan UMKM Naik Kelas

JALUR DUA.COM, BULUKUMBA.– Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Sulawesi...

6 Sekolah Lansia Bulukumba Sukses Wisuda Akbar 2025, Ini Daftar dan Pesan Pentingnya

JALUR DUA.COM, BULUKUMBA – Hotel Agri, 9 Desember 2025...

Opdag hemmelighederne bag populære spilleautomater i kasinoet

Opdag hemmelighederne bag populære spilleautomater i kasinoet Hvad gør spilleautomater...

Die Anziehungskraft des Glücksspiels_ Möglichkeiten und Risiken in der digitalen Ära

Die Anziehungskraft des Glücksspiels_ Möglichkeiten und Risiken in der...

The Allure of Online Gaming Discovering What Sets Casinos Apart

The Allure of Online Gaming Discovering What Sets Casinos...

Related Articles

Popular Categories

spot_imgspot_img