Oligoi dan Arkhein Kembali Berpaket di Pilkada

Kepada dunia di masa depan yang selalu berubah-ubah, Aristoteles di masa silam pernah mengirimkan sebuah pesan penting, “Oligarki adalah bentuk pemerintahan yang dipegang oleh sekelompok cendekiawan demi kepentingan kelompoknya.” Akhirnya hari ini kita melihatnya sebagai suguhan yang lazim mulai hulu sampai ke hilir.

Oligarki adalah kekuasaan yang dikendalikan oleh “oligoi” yaitu segelintir orang, tetapi memiliki pengaruh dominan dalam “arkhein” yaitu pemerintahan. Si Oligoi dan Si Arkhein inilah tipe paling klasik dari suatu kekuasaan.

Oligarki tidak pernah menampik bahwa dia adalah cucu kandung tersayang dari kolonialisme. Oligarki juga identik dengan tangan khas bajak lautnya itu, kait tajam di ujung lengan besi. Kita menyebutnya kapitalisme.

Di belahan bumi manapun saat sempat dan betah menggurita maka oligarki selalu menguasai alat produksi, sumber daya, dan bahan baku. Untuk melestarikan monopoli dengan memakai tangan-tangan ajaib di jantung kekuasaan maka oligarki mendesain mentalitas kacung.

Mentalitas kacung bisa jadi bentuknya yang paling ril yaitu berupa ketergantungan sosial. Mentalitas ini dirawat sedemikian rupa. Dia dipupuk dalam bentuk bantuan berupa uang, sembako, dan semacamnya. Dia juga bisa berbentuk money politic. Untuk memelihara kroni-kroni maka bentuknya berupa bancakan.

Mentalitas ini dipelihara bagai microchip yang dibenamkan dalam-dalam di alam bawah sadar rakyat. Dia diprogram sesuai kebutuhan. Ketika musim kampanye tiba dia disetel agar rakyat melihat bahwa pilkada itu adalah pundi-pundi. Para calon bupati adalah nominal dalam kalkulus. Tim sukses adalah rupiah. Maka hari pencoblosan pun identik dengan semua itu, uang!

Ketika pemimpin telah duduk di kursi kekuasaan, microchip tetap disetel sesuai kebutuhan. Rakyat pun tetap memandang pemimpinnya dalam bingkai nominal, angka-angka fulus.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Index