La Baco

  • Whatsapp
banner 300600

Di wilayah terminologi, La Baco adalah sebuah istilah yang bias. Kadang bisa merujuk pada sebutan personal. Namun bisa juga merujuk kelompok, kelas, maupun tabiat tertentu. Secara umum, dia lebih merepresentasikan hegemoni dari satu pihak atas pihak lainnya. Dengan demikian imbasnya sangat besar dan kompleks ketika istilah La Baco dieksplore untuk tujuan tertentu.

La Baco secara istilah, muncul jauh mendahului kedatangan bangsa-bangsa penjajah di bumi nusantara. La Baco dan termin lainnya yang sejenis merupakan produk dari jaman perbudakan di berbagai suku, puak, dan nagari-nagari di nusantara jaman baheula.

Bacaan Lainnya

banner 300600

La Baco dilahirkan dari feodalisme purba. Jauh sebelum leluhur kita melawan penjajah. Jauh sebelum bangsa kita memekikkan kata merdeka. Jauh sebelum Pancasila dikenal, bahkan jauh sebelum islam masuk ke negeri ini.

Ketika kolonial Belanda datang maka feodalisme pun dimanfaatkan untuk melestarikan penjajahan. Feodalisme bisa menjadi alat untuk memecah belah. Suatu masa, hanya anak-anak dari kalangan bangsawan -khususnya yang dekat dengan kolonial- yang boleh bersekolah tinggi. Di jaman penjajahan, dahulu di Sulawesi Selatan, Belanda menandai nama anak-anak bangsawan itu dengan gelar “Andi” di depan nama.

Taktik licik Belanda mengobrak-abrik “tatanan” gelar itu bertujuan untuk memudahkan mereka mengontrol pribumi terpelajar khususnya di kalangan bangsawan. Di samping menjadi pranata abadi dalam memecah belah bangsa ini. Strata-strata sosial dipertajam. Istilah La Baco salah satunya.

Siasat yang sama ketika Belanda menandai nama orang-orang yang baru datang berhaji di Tanah Suci dengan gelar “haji”. Kita pun merawat tradisi warisan penjajah itu. Bahkan setelah merdeka kita lebih kreatif lagi. Kita menandai para muslimah yang sudah berhaji dengan gelar “hajjah”.

Bagi Belanda, tidak semua anak keturunan ningrat bisa diajak bekerjasama. Terbukti banyak tokoh pemuda terpelajar yang bergelar Andi yang kemudian memimpin gerakan menentang Belanda.

Keuntungan bagi Belanda adalah mereka mudah memetakan level dan kekuatan para “pemberontak” berdasarkan rumpun keluarga, kerabat dan pengaruh. Sebagaimana kemudahan kontrol terhadap pengaruh para haji. Belanda sudah belajar banyak dari pengalaman sebelumnya, pergerakan menentang Belanda banyak dimotori oleh tokoh-tokoh religius yang baru saja datang dari Mekah. Belanda trauma terhadap Syekh Yusuf, Teuku Cik Di Tiro, Tuanku Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, dan lainnya.

Kaum penjajah memang egois. Di Tanah Sulawesi misalnya, Belanda sebenarnya tidak paham bahwa gelar bangsawan bukanlah hak semata-mata, melainkan kewajiban. Semua bangsawan berkewajiban bertingkah laku baik, tidak angkuh, tidak takabur, menyayangi orang biasa, sehingga ia berwibawa di mata rakyat. Ada pepatah orang Bugis, “Sabbui asselemu, risappappo muompok, ” yang artinya “Sembunyikanlah asal kebangsawananmu, dan kalau dicari barulah engkau tampil.” Maksudnya, jangan menyombongkan diri dan mengandalkan asal usul sebab tingkah laku dan tabiat seseoranglah yang menentukan apakah ia orang baik-baik atau bukan.

Di masa kini, ketika gelar bangsawan seharusnya menjadi warisan lestari budaya yang luhur dan sejarah, yang mampu mencairkan sekat sosial, maka sungguh naif jika ada yang mereduksi gelar bangsawan untuk kepentingan-kepentingan yang bertolak belakang dengan nilai-nilai luhur budaya. Lebih parah lagi jika kembali muncul kekerasan verbal semisal istilah “La Baco” untuk tujuan tertentu.

Jika melompat ke ranah lain, di hari-hari ini banyak muncul “La Baco modern”, yaitu mereka yang menghambakan diri pada asing dan aseng. Dengan begitu maka sebenarnya lawan kata dari La Baco adalah “Manusia Merdeka.”(*)

*ditulis setelah menyimak saja dengan diam sebuah debat virtual, Pustaka RumPut, 14 Mei 2020.

Pos terkait

banner 300600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

2 Komentar