JALUR DUA.COM, BULUKUMBA.-Dalam hembusan angin Sumatera Barat yang masih membawa aroma lumpur pascabencana, sebuah kunjungan hangat dari jauh membawa secercah cahaya. Rabu, 14 Januari 2026, menjadi momen bersejarah ketika Wakil Bupati Bulukumba, Andi Edy Manaf, melangkah ke Rumah Jabatan Bupati Tanah Datar.
Di tangannya, bukan hanya sekadar amplop berisi dana, tapi simbol solidaritas antar saudara sebangsa. Donasi kemanusiaan senilai Rp500 juta diserahkan langsung untuk meringankan beban ribuan warga yang terdampak banjir bandang dan longsor akhir tahun lalu—bencana yang telah merenggut rumah, infrastruktur, dan harapan banyak keluarga.
Cerita ini bukan sekadar berita politik; ini adalah kisah human interest tentang bagaimana ikatan budaya dan kemanusiaan mampu menjembatani jarak ribuan kilometer. Bayangkan: di tengah puing-puing rumah yang hancur di Kecamatan Batipuh Selatan, warga Tanah Datar masih berjuang membersihkan sisa-sisa lumpur.
Sementara itu, ribuan kilometer di Sulawesi Selatan, masyarakat Bulukumba—dari aparatur sipil negara (ASN) hingga warga biasa—bergotong royong mengumpulkan dana melalui Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) setempat.
“Donasi ini berasal dari hati nurani warga Bulukumba yang dikumpulkan oleh BAZNAS Kabupaten Bulukumba,” kata Andi Edy Manaf dengan suara mantap, seperti dikutip dari pertemuan itu. Dari total Rp500 juta, Rp300 juta datang dari Dompet Peduli Aceh dan Sumatera yang terkumpul hingga akhir Desember 2025, sisanya dari infak sukarela termasuk kontribusi ASN.
Wakil Bupati Tanah Datar, Ahmad Fadly, menyambut rombongan dengan mata berbinar. Di tengah ruangan yang sederhana, ia menyampaikan rasa syukur mendalam. “Terima kasih banyak atas kunjungannya ke Tanah Datar, ini sesuatu yang sangat luar biasa. Terima kasih banyak pula kepada seluruh warga Kabupaten Bulukumba atas bantuannya buat kami, semoga Allah berikan balasan terbaik buat semua,” ungkap Ahmad Fadly.
Ia menceritakan bagaimana bencana itu menyisakan trauma: rumah-rumah hilang diterjang air, jembatan rusak parah, tapi untungnya tak ada korban jiwa. “Kami bersyukur karena tidak ada korban jiwa, walau banyak rumah warga dan fasilitas umum yang rusak akibat banjir dan longsor,” tambahnya.
Kunjungan ini tak hanya soal uang; ini tentang mempererat tali persaudaraan. Wakil Ketua DPRD Bulukumba, Syahruni Haris, yang ikut dalam rombongan, menyoroti dimensi budaya. “Kunjungan ini merupakan kunjungan kemanusiaan sekaligus kunjungan kebudayaan, mengingat Dato Ri Tiro yang melakukan Islamisasi di Bulukumba pada abad XVI silam adalah ulama dari Minangkabau,” jelasnya.
Rombongan yang juga termasuk anggota DPRD H. Safiuddin, komisioner BAZNAS, dan relawan, diajak berkeliling ke nagari-nagari terdampak. Mereka melihat langsung jembatan yang roboh dan rumah yang lenyap, sambil berbagi cerita dengan warga setempat. Usai sambutan dan sarapan pagi, perjalanan itu menjadi pengingat bahwa di balik bencana, ada kekuatan gotong royong yang tak tergantikan.
Bencana di Tanah Datar bukan yang pertama di Sumatera Barat. Data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan, banjir dan longsor sejak akhir November 2025 telah menewaskan ratusan orang dan merusak infrastruktur senilai triliunan rupiah. Kerugian ditaksir mencapai Rp31,2 triliun, dengan lebih dari 296.345 jiwa terdampak.
Dibandingkan dengan donasi serupa, seperti bantuan dari Kalimantan Timur senilai Rp1,5 miliar untuk Aceh pascabencana serupa, inisiatif Bulukumba menonjol karena sentuhan pribadi dan hubungan historis. Ini sejalan dengan tren nasional di mana donasi kemanusiaan untuk bencana alam semakin marak, seperti yang terlihat di platform sosial media di mana relawan lokal turun langsung untuk memastikan bantuan tepat sasaran.
Pemkab Tanah Datar kini memasuki masa transisi pemulihan hingga Juli 2026, fokus pada rekonstruksi infrastruktur dan kehidupan masyarakat. Donasi seperti ini menjadi katalisator harapan, mengingatkan kita bahwa di tengah cuaca ekstrem yang semakin sering akibat perubahan iklim, solidaritas adalah senjata terkuat.
Kisah ini bukan akhir, tapi awal dari pemulihan yang lebih baik—dimana satu tangan dari Bulukumba bisa mengangkat ribuan jiwa di Tanah Datar.(*)






