JALUR DUA.COM, BULUKUMBA – memasuki usia ke-66 pada 4 Februari 2026 dengan sebuah pertanyaan besar: sudah sejauh mana pembangunan mampu menjaga jati diri sekaligus menyiapkan masa depan? Enam puluh enam tahun bukan sekadar hitungan waktu administratif, melainkan perjalanan panjang yang membentuk watak daerah dan karakter manusianya.
Di titik inilah refleksi menjadi penting. Pembangunan tidak boleh berhenti pada angka pertumbuhan ekonomi atau deretan proyek fisik. Ia harus hidup dalam nilai, sikap, dan cara masyarakat memaknai kemajuan.
Akar Budaya sebagai Pondasi Pembangunan
Bulukumba tumbuh dari akar budaya yang kuat. Nilai-nilai masyarakat adat Kajang, prinsip hidup selaras dengan alam, serta tradisi kemaritiman yang diwariskan lintas generasi membentuk karakter daerah ini: teguh pada prinsip, jujur dalam sikap, dan berani menjaga identitas.
Kearifan lokal tersebut sejatinya adalah modal sosial yang tak ternilai. Di tengah arus modernisasi dan globalisasi, karakter inilah yang menjadi pembeda Bulukumba dengan daerah lain. Pembangunan berkarakter berarti memastikan bahwa setiap kebijakan dan program tetap berpijak pada nilai-nilai lokal, bukan tercerabut oleh logika instan.
Pembangunan Tidak Sekadar Infrastruktur
Momentum Hari Jadi ke-66 Kabupaten Bulukumba menjadi ruang refleksi bersama bahwa pembangunan sejati tidak semata diukur dari jalan yang mulus atau gedung yang menjulang. Pembangunan yang bermakna adalah pembangunan yang memperkuat manusia—membentuk masyarakat yang berdaya, kritis, dan adaptif terhadap perubahan zaman.
Di era disrupsi digital, tantangan semakin kompleks. Informasi bergerak cepat, opini publik mudah dibentuk, dan batas antara fakta serta disinformasi kian tipis. Di sinilah karakter masyarakat diuji: apakah mampu berpikir jernih, bersikap bijak, dan tetap berpegang pada nilai kebenaran.
Media dan Tanggung Jawab Peradaban
Sebagai Ketua Forum Pimpinan Redaksi Multimedia Indonesia (FPRMI) Bulukumba, saya memandang pembangunan berkarakter dan berkelanjutan sebagai dua pilar yang tak terpisahkan. Media memiliki peran strategis dalam proses ini—bukan hanya sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai penjaga nalar publik.
Media yang berkarakter adalah media yang menjunjung etika, menjaga integritas, dan berpihak pada kepentingan publik. Kritik yang disampaikan harus konstruktif, informasi yang disajikan harus berimbang, dan narasi yang dibangun harus memberi harapan, bukan sekadar sensasi.
Di tengah algoritma digital dan tekanan klik, tantangan insan media adalah tetap konsisten pada nilai profesionalisme agar pembangunan yang didorong hari ini tidak mengorbankan masa depan generasi mendatang.
Makna Keberlanjutan yang Lebih Luas
Keberlanjutan sering dipersempit hanya pada isu lingkungan hidup. Padahal, maknanya jauh lebih luas. Keberlanjutan mencakup kesinambungan nilai, pengetahuan, dan tanggung jawab sosial. Bulukumba yang berkelanjutan adalah Bulukumba yang mampu menyiapkan generasi muda dengan karakter kuat, literasi yang baik, serta kesadaran akan perannya sebagai pewaris daerah.
Generasi muda tidak cukup hanya cerdas secara akademik, tetapi juga harus memiliki kepekaan sosial dan etika publik. Mereka adalah penjaga masa depan Bulukumba—penentu apakah pembangunan hari ini benar-benar membawa manfaat jangka panjang.
Kolaborasi sebagai Kunci Masa Depan
Di usia ke-66 ini, kolaborasi menjadi kata kunci. Pemerintah, masyarakat, dan insan media harus berjalan seiring. Pemerintah dengan kebijakan yang visioner, masyarakat dengan partisipasi aktif, dan media dengan fungsi kontrol serta edukasi publik.
Dengan kolaborasi yang sehat, Bulukumba dapat terus menarasikan harapan, mengawal kebijakan secara objektif, serta menumbuhkan kesadaran kolektif bahwa pembangunan berkarakter adalah investasi peradaban.
Merawat Harapan di Usia ke-66
Hari Jadi ke-66 Kabupaten Bulukumba bukanlah akhir perjalanan, melainkan pengingat bahwa arah pembangunan harus terus dijaga. Karakter dan keberlanjutan bukan slogan, melainkan komitmen jangka panjang.
Dirgahayu Kabupaten Bulukumba ke-66.
Bulukumba Berkarakter, Bulukumba Berkelanjutan.
Saiful Alief Subarkah
Ketua Forum Pimpinan Redaksi Multimedia Indonesia (FPRMI) Bulukumba






