JALURDUA.COM, BULUKUMBA—Di bawah langit pagi yang cerah, Masjid Al-Muamanah Bulukumba menjadi saksi lahirnya sebuah gerakan besar: Gerakan Seribu Titik Kampung Thayyibah Digital.
Ratusan jamaah, pengurus masjid, ibu-ibu pengajian, hingga tokoh masyarakat memadati masjid. Suasana khidmat berubah penuh semangat saat Presiden Kurir Langit Indonesia, Ustadz Andi Muhammad Nur Syahid, memaparkan visi besarnya: “Menata ulang peradaban dari akar rumput dengan masjid sebagai jantung kehidupan umat.”
“Membangun peradaban dari masjid bukan sekadar mimpi. Rasulullah telah mencontohkan bahwa masjid adalah pusat spiritual, pendidikan, sosial, ekonomi, hingga kemasyarakatan. Inilah yang ingin kita wujudkan bersama!” tegas Ustadz Syahid.
Acara yang berlangsung dari pagi hingga sore ini menghadirkan kolaborasi strategis: Bank Indonesia, Bank Sulselbar Syariah, Masjid Kapal Munzalan, Baznas, Kemenag, hingga sejumlah lembaga lain.
Visi besarnya jelas: menjadikan masjid tak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga pusat musyawarah, pendidikan, dakwah, literasi, dan pemberdayaan ekonomi umat.
Dengan penuh keyakinan, Ustadz Syahid menegaskan:
“Kita ingin menciptakan masyarakat yang takwa, cerdas, dan beradab. Digitalisasi akan memperluas dampak masjid sebagai pusat peradaban.”
alah satu inovasi penting adalah Kampung Thayyibah Digital, yang memanfaatkan teknologi untuk memperkuat literasi, ekonomi, dan konektivitas sosial masyarakat di sekitar masjid.
Meski menyadari tantangan besar yakni mengubah paradigma masjid sebagai tempat ritual semata—Ustadz Syahid optimistis gerakan ini akan berhasil.
“Ini gerakan untuk Islam, Indonesia, dan dunia,” ujarnya dengan penuh keyakinan.
Di Masjid Al-Muamanah, benih peradaban baru telah ditanam. Dari Bulukumba, gerakan ini akan berkembang ke seribu titik masjid lain, membawa harapan lahirnya masyarakat yang lebih bertakwa, cerdas, dan beradab.
Sebagaimana pesan penutup Ustadz Syahid:
“Masjid adalah jantung umat. Jika jantung ini berdetak kuat, maka peradaban akan hidup.”






