BerandaEdukasi"Butterfly", Novel Karya Remaja Bulukumba Yang Ditulis Hanya 8 Hari

“Butterfly”, Novel Karya Remaja Bulukumba Yang Ditulis Hanya 8 Hari

JalurDua.Com, Bulukumba – Usianya masih belia, 13 tahun. Namun gadis remaja yang masih duduk di bangku SMP itu sudah punya karya berupa novel. Judulnya “Butterfly”. Nayla Putri Humaira, namanya. Gadis desa asal Salassae, Kecamatan Bulukumpa, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.

Nayla mengaku, selama ini terinspirasi dari beberapa penulis terkenal, salah satunya Tere Liye. Buku karya penulis terkenal lainnya pun tak luput ia baca. Bahkan menjadi koleksi pribadinya.

Hingga akhirnya memutuskan menulis novel pertamanya. Nayla banyak didampingi orang terdekatnya. Alhasil hanya butuh 8 hari untuk menyelesaikan tulisannya.

Wakil Bupati Bulukumba, Tomy Satria Yulianto mengapresiasi Nayla dan karyanya. Sebagai bentuk penghargaan yang tinggi kepada Nayla, secara spesial Wakil Bupati Bulukumba, Tomy Satria Yulianto meminta bertemu. Silaturahmi pun terjadi di kantor Pemkab Bulukumba, Senin (27/7/2020).

Wabup berkacamata itu memuji dan salut kepada Nayla. Bakat menulisnya yang mulai muncul sejak masih SMP, kata Tomy Satria, harus terus diasah dan didampingi agar mampu menjadi penulis andal berskala nasional.

“Adik Nayla, bakat yang kamu miliki hari ini, harus kamu teruskan. Kita butuh sosok seperti adik Nayla. Ke depannya adik Nayla kita bantu dalam hal pendampingan,” Kata Tomy Satria.

Sepintas gadis hitam manis itu sama saja dengan remaja lainnya. Belajar di Sekolah, dan belajar di rumah di tengah Pandemi. Tingkahnya polos, namun tetap santun. Hanya saja, ada satu pembeda dibanding remaja sebayanya. Di  usianya yang belia, putri dari pasangan ibu Leha dan Pak Asri itu sudah mampu menulis novel yang dicetak dalam bentuk buku. Hobinya yang memang menulis, mengantarkan remaja kelas 9 SMP itu, mampu menulis novel di tengah pandemi Covid-19.

“Selama libur sekolah, saya manfaatkan waktu untuk menulis. Alhamdulillah saya bisa menerbitkan novel.” Kata gadis kelahiran 2006 itu.

Meskipun limited edition, novel ‘Butterfly’ milik Nayla akan dijual ditempat-tempat tertentu. Uang hasil penjualannya pun akan digunakan untuk biaya pendidikannya.Butterfly yang berarti kupu-kupu, kini sudah bisa dipesan, jumlahnya pun terbatas hanya 80 eksemplar.

“Saat ini bagi yang ingin pesan, boleh melalui kontak whatsapp di https://wa.me/6285242201522. Insya Allah semoga bisa berkah,” Katanya.

Novel Butterfly berisi kisah perjuangan seorang ayah dalam mengasuh anaknya. “Teruntuk orang tua, berikan kasih sayang kepada anakmu tanpa membeda-bedakan anak satu dengan yang lainnya, kalaupun mereka berbuat salah tegur dengan baik tetapi tetap tegas. Anak adalah anugrah, yang tidak semua orang dapat memiliki,” Ujar Nayla sedikit menyibak secuil dari isi dari novelnya.

Kata Nayla, jauh sebelumnya ia telah banyak menulis, cerpen. Hanya saja karena terkendala biaya, akhirnya mengurungkan niatnya untuk menerbitkannya dalam sebuah buku. Cerpen-cerpen karangan Nayla masih tersimpan rapi. Hingga akhirnya mendapat support dari kerabatnya dan memutuskan mencetak novelnya.

Tomy Satria mengapresiasi Nayla dengan membiayai percetakan novel Butterfly. Hasil penjualannya, Tomy berharap dapat digunakan oleh Nayla untuk menempuh pendidikannya lebih lanjut. Bakat menulisnya pun harus terus diasah.

“Virus menulis Nayla semoga menjadi pandemik di generasi kita di Bulukumba. Pemimpin masa depan juga harus lahir dari seorang penulis, agar mampu menguatkan sejarah kepemimpinannya,” Kata Tomy Satria.(*)

Alfian Nawawihttp://jalurdua.com/
Kolumnis dan Editor JalurDua.Com
Stay Connected
16,985FansSuka
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan
Must Read
Related News