News and Education Versi penuh
Edukasi

Cara Komunitas hingga Pemuda, Bergerak Bergerak Bersama Mengurai Sampah di Kota Makassar

Oleh Redaksi 23 Aug 2026 16:20 5 menit baca

Jalurdua.com Klikhijau.com - Sampah masih menjadi salah satu persoalan lingkungan yang dihadapi Kota Makassar. Sampah yang dibuang sembarangan dan masih bercampur berdasarkan jenisnya membuat pengelolaannya menjadi tidak mudah. Karena itu, kesadaran masyarakat, komunitas, dan pemuda dibutuhkan untuk ikut mengurangi persoalan sampah di lingkungan.

Salah satu kelompok yang sudah lama bergerak dalam persoalan tersebut adalah komunitas Manggala Tanpa Sekat (MTS), Ahmad Thalib, warga Tamangapa yang telah terlibat dalam aktivitas pengelolaan sampah sejak 2016, menceritakan beragam kegiatan yang dijalankan komunitasnya untuk mengelola sampah sekaligus mengajak masyarakat lebih peduli terhadap lingkungan.

Salah satu kegiatan yang dilakukan komunitas adalah mengolah sampah organik, terutama kulit buah, menjadi eco enzyme. Temuan pengolahan tersebut dipakai untuk menyiram kolam lindi di TPA Tamangapa sebagai salah satu usaha mengurangi bau. Komunitas juga menjalankan sosialisasi kepada masyarakat mengenai pembuatan dan penggunaan eco enzyme.

Sampah yang dikelola berasal dari warga sekitar dan salah satu gerai Alfamidi di wilayah tersebut. Thalib mengatakan sampah organik dan anorganik sama-sama banyak akibatnya keduanya perlu mendapat perhatian dalam pengelolaannya.

Untuk sampah anorganik, pengelolaannya dilakukan sampai tahap penjualan tanpa melalui tahapan pengolahan. Sedangkan sampah organik diolah menjadi eco enzyme, meskipun belum sampai pada tahap penjualan.

Dalam kegiatan tersebut, Ahmad dan anggota komunitas ikut menyajikan edukasi serta sosialisasi kepada masyarakat. Mereka juga memberikan contoh dan membagikan pengalaman mengenai penggunaan hasil pengolahan sampah.

Masyarakat juga mulai dilibatkan dengan memilah sampah dari rumah. Akan tetapi, mengubah kebiasaan masyarakat menjadi salah satu tantangan yang masih dirasakan komunitas.

“Kendalanya mengubah kebiasaan dan karakter yang sudah mendarah daging,” ujar Thalib.

Karena itu, komunitas berusaha mengajak masyarakat melalui contoh secara langsung. Anggota komunitas tidak hanya memberikan penjelasan, tetapi juga menjadi praktisi, memberikan testimoni di hadapan masyarakat dan memperlihatkan cara memilah sampah.

Anak Muda Aktor Penting

Menurut Thalib, anak muda juga sudah ikut terlibat dalam kegiatan komunitas. Mereka dapat memberikan inovasi dan ide kreatif serta menjadi penghubung dalam kegiatan pengelolaan sampah.

Keterlibatan pemuda juga terlihat dari pandangan Nabila, mahasiswa berusia 20 tahun. Menurutnya, persoalan sampah di Makassar masih cukup serius karena masih banyak sampah yang dibuang sembarangan dan belum dipisahkan berdasarkan jenisnya.

Nabila menilai pemuda mempunyai peran penting karena bisa menjadi contoh bagi masyarakat dan mengajak orang lain untuk lebih peduli terhadap lingkungan.

Dalam kesehariannya, Nabila berusaha membuang sampah pada tempatnya, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, serta memisahkan sampah yang masih bisa digunakan atau didaur ulang.

Meski begitu, menurut Nabila, belum semua pemuda mempunyai kepedulian yang sama terhadap persoalan sampah. Masih ada yang menganggap persoalan tersebut hanya menjadi tanggung jawab petugas kebersihan. Kurangnya kesadaran dan rasa malas juga menjadi salah satu alasan sebagian pemuda belum terbiasa ikut dalam kegiatan pengelolaan sampah.

Menurutnya, pemuda bisa mengambil bagian melalui kegiatan bersih lingkungan, memberikan edukasi tentang pemilahan sampah, mengurangi penggunaan plastik dan ikut bergabung dalam komunitas lingkungan.

Media sosial juga dapat dimanfaatkan untuk mengajak lebih banyak pemuda. Nabila melihat Instagram dan TikTok bisa digunakan untuk membuat konten edukasi yang menarik, membagikan kegiatan lingkungan dan mengajak anak muda untuk ikut melakukan kegiatan pengelolaan sampah.

Jika mendapat kesempatan membuat kegiatan sendiri, Nabila ingin mengadakan pemilahan dan pengumpulan sampah di lingkungan masyarakat. Sampah yang masih mempunyai nilai dapat dikumpulkan dan kemudian disalurkan ke bank sampah.

Pandangan yang hampir sama juga disampaikan Atirastiwati atau yang biasa dipanggil Tita. Mahasiswa berusia 20 tahun tersebut mengatakan bahwa jumlah sampah di Makassar masih cukup banyak. Selain membuat lingkungan terlihat kotor, bau dari sampah juga dapat mengganggu masyarakat.

Menurut Tita, pemuda harus lebih aktif dalam menjaga lingkungan. Kesadaran tersebut bisa dimulai dari diri sendiri, salah satunya dengan membuang sampah pada tempatnya.

Tita bersama teman-temannya berusaha melakukan hal tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Ia juga mengingatkan teman-temannya untuk membawa tumbler agar dapat mengurangi penggunaan plastik.

Namun, Tita melihat kepedulian pemuda masih belum merata. Ada yang sudah peduli terhadap kebersihan, tetapi masih ada juga yang berpikir bahwa masalah tersebut bukan tugas mereka karena sudah ada petugas kebersihan dari pemerintah.

Menurutnya, pola pikir tersebut membuat sebagian pemuda menjadi malas untuk ikut terlibat dalam kegiatan pengelolaan sampah.

Padahal, ada banyak kegiatan yang bisa dilakukan. Tita mencontohkan kegiatan volunteer membersihkan lingkungan, termasuk membersihkan kawasan pantai. Pemuda juga bisa mengajak masyarakat untuk melakukan gotong royong.

Kegiatan tersebut tidak harus dimulai dari tempat yang jauh. Menurut Tita, pemuda dapat memulainya dari lingkungan sekitar rumah dengan mengajak teman, masyarakat, ketua RT maupun RW.

Media sosial juga dinilai dapat membantu mengajak masyarakat lebih peduli terhadap lingkungan. Anak muda yang aktif memakai Instagram dan TikTok bisa memanfaatkan platform tersebut untuk membuat konten mengenai pemilahan sampah dan cara menjaga lingkungan.

Tita juga berharap pemerintah lebih sering membuat ajakan yang menarik bagi anak muda. Edukasi tentang cara memilah sampah dan menjaga lingkungan bisa disampaikan melalui poster maupun konten media sosial yang mudah dipahami.

Ujungnya, keterlibatan komunitas dan pemuda dalam pengelolaan sampah tidak harus selalu melalui kegiatan besar. Hal-hal sederhana seperti memilah sampah, mengurangi penggunaan plastik, membawa tumbler, membuang sampah pada tempatnya, mengikuti kegiatan lingkungan dan mengajak orang lain untuk peduli juga merupakan bentuk kepedulian terhadap lingkungan.

Ahmad berharap Makassar dapat menjadi kota seroweis atau bebas dari persoalan sampah dan masyarakatnya juga bisa menjadi lebih sejahtera. Sementara itu, Nabila dan Tita berharap pemuda tidak hanya peduli ketika ada kegiatan tertentu, tetapi bisa menjadikan menjaga kebersihan sebagai kebiasaan sehari-hari.

Dari komunitas yang terus memberikan edukasi hingga pemuda yang memulai dari kebiasaan sendiri, pengelolaan sampah membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Menjaga kebersihan bukan hanya tugas petugas sampah, tetapi juga tanggung jawab bersama untuk menciptakan lingkungan Makassar yang lebih bersih.