News and Education Versi penuh
Edukasi

Cara Mengurangi Food Waste dari Rumah, Langkah Mudah Cegah Sampah Makanan

Oleh Redaksi 20 Sep 2026 20:24 5 menit baca

Jalurdua.com Klikhijau.com - Kalian pernah nggak sih membeli sayuran tetapi lupa mengelolanya atau menyimpan makanan di kulkas terlalu lama sehingga tidak lagi bisa di kosumsi. Kalian sadar nggak kalau itu tidak baik, memang kalau kita lihat mungkin kebiasaan itu sederhana, tetapi ketika itu terus berulang terjadi membuat persoalan sampah rumah, food waste. 

Food waste atau pemborosan makanan adalah makanan yang seharusnya masih bisa di konsumsi atau diolah tetapi akhirnya tidak dapat di konsumsi dan akhirnya akan menjadi sampah.

Persoalan tersebut tidak hanya terjadi ketika makanan di piring tersisa. Makanan juga bisa terbuang karena membelinya terlalu banyak, atau makanan yang lupa diolah sehingga membusuk, dan penyimpanan yang kurang tepat. 

Persoalan tersebut masih menjadi terbesar dari masalah persampahan di Indonesia. Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) per Maret 2026 mencatat bahwa sepanjang 2025 terdapat sekitar 25,15 ton timbulan sampah, dengan 40,62% diantaranya merupakan sampah sisa makanan.

Kita bisa lihat angka bahwa angka sisa makanan tersebut akan berakhir menjadi sampah dan ini bukan persoalan kecil. Bahkan, pada Maret 2025, Menteri lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofid juga menyebut berdasarkan data SIPSN, sampah sisa makanan menjadi jenis sampah proporsi terbesar dari timbulan sampah yang tercatat pada tahun 2024, yaitu sekitar 39,87% atau hampir 20 juta ton.

Sampah rumah tangga menjadi salah satu tempat untuk melihat persoalan food waste, karena kenapa keputusan soal makanan terjadi setiap harinya, mulai dari apa yang harus di belli, berapa banyak yang akan di masak, bagaimana makan disimpan, sampai apakah makanan yang tersisa akan di konsumsi kembali atau hanya akan di buang menjadi sampah.

Pemahaman yang baik belum selaras praktik

Penelitian Sholilah, Tumuyu, dan Herdiansyah yang diterbitkan dalam Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (IPB) pada 2025 meneliti pengelolaan food waste pada 114 rumah tangga.

Penelitian tersebut melihat pengetahuan, sikap, dan praktik masyarakat dalam mengelola food waste. Hasilnya menunjukkan bahwa pengetahuan masyarakat sudah cukup baik, tetapi sikap dan praktik pengelolaannya masih berada pada tingkat sdang. 

Kita bisa lihat dari temuan tersebut bahwa mengetahui saja mengenai persoalan food waste belum tentu langsung mengubah kebiasannya.kesadaran perlu diikuti dengan praktik sehari-hari agar makanan yang dibeli dan dimasak tidak akan berakhir menjadi sampah.

Menghabiskan makanan sebagai salah satu langkah terdekat yang sederhana untuk mengurangi food waste. Pemeritah juga mendorong perubahan gaya hidup dan pemilahan sampah mulai dari rumah. 

Mengurangi food waste sebenarnya bisa dilakukan dalam rumah tangga, yaitu sebelum kita pergi berbelanja sebaikya kita membuat list yang akan dibelanja sesuai dengan kebutuhan dan perkiraan jumlah makan yang akan dikomsumsi dengan itu kita dapat mencegah pembeliaan yang berlebihan.

Tidak hanya berbelanja saja yang harus diperhatikan, setelah berbelanja juga kita harus memeperhatikan penyimpanan. Bahan makanan yang sudah dibeli sebaiknya ditempatkan ditempat yang terlihat sehigga dapat digunakan terlebih dahulu. 

Cara tersebut terlihat sederhana namun dapat membantu mencegah makanan yang biasa terlupakan sehingga mengakibatkan rusak. 

Pada saat memasak juga kebiasaan tersebut membuaat seseorang sering kali memasak terlalu berlebihan sehingga membuat makanan tersisa. Maka dari itu sebelum memasak harus disesuaikan dengan jumlah orang yang akan makan.

Begitu juga ketika mengambil makanan dipiring mesti disesuaikan dengan porsi makanan yang kita inginkan agar sisa makan di piring tidak tersisa. 

Penelitian Diniary, Indraswari, dan Arundina dalam Al-Muzara’ah, Jurnal IPB tahun 2024, yang membahas pengelolaan food waste rumah tangga di Indoesia juga menunjukkan bahwa kesadaran terhadap dampak, pengetahuan lingkungan, kepedulian finansial, dan faktor sosial menjadi bagian dari faktor yang berkaitan dengan niat mengelola food waste pada generasi yang diteliti. 

Artinya, mengurangi food waste tidak hanya membutuhkan pengetahuan tentang sampah, tetapi perubahan cara pandang terhadap makanan. Makanan yang dibelli memiliki nilai ekonomi dan membutuhkan sumber daya sebelum sampai meja makan.

Jadi tidak semua makan yang tersisa langsung akhirnya menjadi sampah, selama masih aman dan masih bisa dikomsumsi, makanan tersebut dapat disimpan dan dimakan atau bisa diolah menjadi menu lain untuk dikomsumsi lagi.

Namun ketika makan yang sudah tidak bisa dikomsumsi lagi, pengelolaanya juga tetap perlu diperhatikan karena sisa makanan dapat dipilah dari sampah lainnya sehingga lebih mudah diolah sebagai sampah organik.

Pemerintah juga menyoroti pentingnya pengelolaan sampah makanan dari sumbernya. Pada 2025, KLH menyebut sisa makanan masih menjadi penyumbang terbesar timbulan sampah dan mengingatkan bahwa ketika food waste masuk ke TPA, persoalan pengelolaannya menjadi lebih besar.

Disisi lain, kita bisa melihat bahwa sisa makanan juga memiliki nilai apabila dikelola dengan tepat. Penelitian mengenai pengelolaan food waste rumah tangga menunjukkan adanya berbagai alternatif pengelolaan sampah organik, termasuk pengomposan dan pengelolaan lainnya. 

Maka dari itu food waste bukan hanya sekedar persoalan makanan yang masuk ke tempat sampah, tetapi terdapat persoalan sampah didalamnya mulai dari kebiasaan membeli, menyimpan, memasak, mengkomsumsi, hingga mengelola makanan yang tersisa. 

Karena itu kita bisa memulai dari hal yang paling sederhana seperti membeli sesuai dengan kebutuhan, menyimpan makanan dengan benar, memasak secukupnya, mengambil makanan sesaui porsi, dan menghabiskan makana yang telah diambil.

Mulai dari rumah, karena rumahlah yang menjadi tempat paling dekat untuk memulai perubahan. Sebelum berbicara mengenai pengelolaan sampah dalam skala besar, sebaiknya kebiasaan untuk tidak menyisakan dan membuang makana dapat dilakukan dari meja makan sendiri.