DAAZ Raup Pendapatan Naik Jadi Rp12T, Tapi Laba Anjlok di Kuartal III

DAAZ Raup Pendapatan Naik Jadi Rp12T, Tapi Laba Anjlok di Kuartal III
Bacakan Artikel

JALURDUA -

EmitenTrust.com - PT Daaz Bara Lestari Tbk (DAAZ) mencatatkan penurunan laba bersih sebesar 43,34% menjadi Rp157,03 miliar hingga kuartal III-2026, dibandingkan Rp277,13 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan laba terjadi meskipun pendapatan perseroan berhasil tumbuh lebih dari 22% menjadi Rp12,04 triliun. Berdasarkan laporan keuangan perseroan per 30 September 2026, DAAZ membukukan pendapatan sebesar Rp12,04 triliun, meningkat 22,11% dibandingkan Rp9,86 triliun pada periode Januari-September 2025. Namun, kenaikan pendapatan tersebut diikuti peningkatan beban pokok pendapatan sebesar 23,54% menjadi Rp11,44 triliun, dari sebelumnya Rp9,26 triliun. Akibatnya, laba kotor DAAZ hanya tumbuh tipis 0,69% menjadi Rp603,45 miliar, dibandingkan Rp599,30 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Tekanan semakin terlihat pada kinerja operasional dan keuangan perseroan. Beban usaha meningkat 32,56% menjadi Rp168,78 miliar, dari sebelumnya Rp127,33 miliar. Selain itu, beban keuangan turut mengalami kenaikan 10,93% menjadi Rp165,34 miliar, dibandingkan Rp149,05 miliar pada periode Januari-September 2025. Kombinasi peningkatan beban tersebut membuat laba sebelum pajak DAAZ merosot 22,24% menjadi Rp243,27 miliar, dari sebelumnya Rp312,86 miliar. Alhasil, laba bersih tahun berjalan yang berhasil dibukukan perseroan hanya mencapai Rp157,03 miliar, turun 43,34% dibandingkan Rp277,13 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Dari sisi neraca, total aset DAAZ per 30 September 2026 tercatat sebesar Rp6,62 triliun, meningkat sekitar 4,75% dibandingkan posisi 31 Desember 2025 sebesar Rp6,32 triliun. Sementara itu, total liabilitas perseroan mencapai Rp4,36 triliun, naik sekitar 5,31% dibandingkan Rp4,14 triliun pada akhir Desember 2025. Dengan demikian, berdasarkan angka yang disampaikan, total ekuitas DAAZ secara indikatif mencapai sekitar Rp2,26 triliun pada akhir September 2026.