News and Education Versi penuh
Daerah

Dampak Sampah Pesisir, RSUD Bulukumba Turun ke Pantai

RSUD Bulukumba turun langsung tangani dampak sampah pesisir di Pantai Merpati. Simak aksi nyata tenaga kesehatan putus rantai penyakit di hulu.

Oleh Uno 14 Jun 2026 21:45 4 menit baca

Jalurdua.com BULUKUMBA – Krisis lingkungan di kawasan pesisir bukan lagi sekadar isu estetika pariwisata, melainkan ancaman nyata bagi kesehatan publik. Menyadari rantai dampak sampah pesisir yang berujung pada penuhnya bangsal perawatan, puluhan tenaga kesehatan dari RSUD H. Andi Sulthan Daeng Radja Kabupaten Bulukumba memutuskan keluar dari ruang steril rumah sakit. Mereka turun langsung menyisir Kawasan Pantai Merpati pada Jumat, 12 Juni 2026.

Aksi pungut sampah ini bukan agenda biasa. Kehadiran para dokter, perawat, dan manajemen rumah sakit dalam memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 tersebut menjadi sinyal kuat: sektor hilir kesehatan kini harus berjuang di hulu guna memutus mata rantai penyakit akibat pencemaran lingkungan.

Suasana di ikon wisata Kabupaten Bulukumba itu tampak berbeda sejak pagi hari. Sembari menenteng kantong sampah besar, para tenaga medis yang biasanya berhadapan dengan jarum suntik dan stetoskop, kini harus membungkuk memilah sampah plastik yang berserakan di sepanjang garis pantai. Langkah taktis ini diinisiasi oleh Pemerintah Kabupaten Bulukumba melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK), yang juga merangkaikannya dengan Pasar Murah serta program inovatif Tukar Saldo Sampah dengan Sembako.

Memutus Rantai Penyakit dari Hulu Pesisir

Langkah manajemen rumah sakit daerah ini memuat pesan edukasi yang mendalam bagi masyarakat lokal. Selama ini, kesadaran publik terhadap korelasi antara kebersihan wilayah pesisir dan tingkat kesehatan individu masih sangat minim. Sampah plastik yang tertimbun di pantai tidak sekadar merusak pemandangan, tetapi berpotensi menjadi sarang vektor penyakit hingga mencemari rantai makanan melalui mikroplastik.

Humas RSUD H. Andi Sulthan Daeng Radja Bulukumba, Andi Abhy, menegaskan bahwa keterlibatan aktif institusinya merupakan bagian dari tanggung jawab sosial yang tidak bisa ditawar. Ada beban moral yang dipikul penyedia layanan kesehatan ketika melihat laju kerusakan lingkungan terus meningkat.

"Lingkungan yang bersih akan berdampak pada kesehatan masyarakat, sehingga kami mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan," ujar Andi Abhy di sela-sela kegiatan bersih pantai.

Menurutnya, paradigma penanganan kesehatan harus diubah. Rumah sakit tidak boleh hanya menunggu pasien datang dalam kondisi sakit, melainkan harus aktif terlibat dalam gerakan preventif di tengah komunitas.

Sinergi Ketahanan Pangan dan Gerakan Ekonomi Sirkular

Pantai Merpati dipilih bukan tanpa alasan. Sebagai pusat keramaian dan ikon wisata baru di Bulukumba, produksi sampah di kawasan ini terbilang tinggi. Gerakan gotong royong yang mempertemukan berbagai instansi ini mencoba mengurai benang kusut pengelolaan sampah melalui pendekatan yang lebih humanis dan menyentuh kebutuhan dasar warga.

Kehadiran stan Pasar Murah dan program Tukar Saldo Sampah dengan Sembako menjadi stimulus penting. Skema ini membuktikan bahwa edukasi ekologi akan jauh lebih efektif jika dibarengi dengan solusi ekonomi. Masyarakat tidak hanya dilarang membuang sampah sembarangan, tetapi diberikan insentif konkret yang mendukung ketahanan pangan berkelanjutan di tingkat rumah tangga.

"Kami berharap kegiatan seperti ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan serta lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan sekitar," tambah Andi Abhy. Semangat gotong royong yang diperlihatkan oleh lintas sektor pada hari itu diharapkan mampu mengkristal menjadi budaya sehari-hari, bukan sekadar riuh musiman demi menggugurkan kewajiban seremonial tahunan.

Transformasi Budaya Bersih demi Generasi Masa Depan

Tantangan terbesar pasca-aksi bersih-bersih ini adalah konsistensi. Mengubah perilaku masyarakat pesisir dan pengunjung pantai membutuhkan edukasi yang masif dan berkelanjutan. Dampak sampah pesisir terhadap ekosistem laut dan kesehatan manusia adalah bom waktu jika penanganannya hanya mengandalkan aksi satu hari.

Pihak RSUD Bulukumba berharap, kehadiran nyata para tenaga kesehatan di lapangan mampu memberikan efek psikologis bagi warga. Ketika para perawat dan dokter yang merawat orang sakit saja peduli pada kebersihan sampah di fasilitas umum, sudah sepatutnya publik yang sehat memiliki kepedulian yang jauh lebih besar.

"Melalui kegiatan ini diharapkan semakin tumbuh kesadaran bersama untuk menjaga kebersihan lingkungan serta memperkuat budaya gotong royong dalam mewujudkan Bulukumba yang bersih, sehat, dan berkelanjutan," tutur Andi Abhy menutup pernyataannya.

Masa depan kesehatan warga Bulukumba kini tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan fasilitas medis di dalam gedung RSUD H. Andi Sulthan Daeng Radja. Masa depan itu sedang dipertaruhkan di sepanjang garis Pantai Merpati, pada setiap jengkal tanah yang bebas dari limbah, dan pada setiap kesadaran individu yang menolak merusak alamnya sendiri.***

Topik terkait
Dampak Sampah Pesisir Pantai Merpati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026