News and Education Versi penuh
Edukasi

FPL Sulsel Gelar Lintas Merah Putih XIV, Bersihkan Sampah di Jalur Gunung Bawakaraeng

Oleh Redaksi 18 Aug 2026 18:10 6 menit baca

Jalurdua.com Klikhijau.com - Pengibaran Merah Putih di Puncak Gunung Bawakaraeng pada Hari Kemerdekaan, Senin (17/8/2026), menjadi puncak perjalanan 38 peserta Lintas Merah Putih XIV 2026. Namun, setelah upacara selesai, mereka tidak langsung turun.

Para peserta justru menyusuri jalur pendakian untuk memungut sampah yang tertinggal.

Aksi itu menjadi bagian dari pesan yang dibawa Forum Pemerhati Lingkungan (FPL) Sulawesi Selatan melalui kegiatan bertema “Sinergi Merah Putih, Kolaborasi Aksi Minim Jejak.”

Perayaan kemerdekaan di gunung memang menghadirkan pemandangan yang berbeda. Bendera berkibar di ketinggian, ribuan pendaki berkumpul, dan semangat nasionalisme memenuhi jalur menuju puncak. Tetapi semakin banyak orang datang ke ruang alam, semakin besar pula tanggung jawab untuk memastikan gunung tidak ditinggalkan dengan beban yang sama besarnya.

Di titik itulah Lintas Merah Putih XIV 2026 mencoba menempatkan persoalan lingkungan sebagai bagian dari perayaan.

Dari Makassar menuju Bawakaraeng

Ekspedisi tersebut dimulai dari Lapangan Hertasning, Makassar, pada Rabu (12/8/2026).

Sehari kemudian, Kamis (13/8), para peserta mulai menjejak jalur pendakian Kaki Gunung Bialo. Mereka datang dari berbagai latar belakang, mulai dari penggiat alam, pemerhati lingkungan, pecinta alam hingga aktivis ekologi.

Pesertanya juga tidak seluruhnya berasal dari Sulawesi Selatan. Sejumlah peserta datang dari Pulau Jawa dan Kalimantan untuk bergabung dalam ekspedisi yang digelar dua tahunan tersebut.

Perjalanan menuju kawasan puncak berlangsung dalam medan pendakian yang menantang. Namun, bagi peserta, perjalanan itu tidak hanya menjadi urusan mencapai ketinggian. Kebersamaan dan gotong royong menjadi bagian dari perjalanan.

Puncaknya berlangsung pada Hari Kemerdekaan Indonesia.

Di Puncak Gunung Bawakaraeng, 38 peserta bersama ribuan pendaki lainnya mengikuti upacara pengibaran Merah Putih.

Bendera berkibar di tengah lanskap pegunungan. Bagi para pendaki, momen tersebut menjadi salah satu bagian emosional dari perjalanan yang telah mereka tempuh sejak beberapa hari sebelumnya.

Tetapi perayaan belum benar-benar selesai.

Setelah upacara, para peserta Lintas Merah Putih bergerak turun sembari melakukan aksi bersih atau clean-up. Sampah yang ditemukan di jalur pendakian dikumpulkan sebelum rombongan menuju titik kumpul di Kampung Petualang, Desa Lembanna, Kabupaten Gowa.

Di sinilah slogan minim jejak mendapatkan bentuk nyata.

Pendakian bukan sekadar mencapai puncak

Bagi FPL Sulawesi Selatan, kegiatan tersebut memang tidak dirancang hanya sebagai perjalanan menuju puncak.

Andi, Ketua FPL periode 2019-2021, mengatakan ada pesan edukasi yang ingin dibawa melalui Lintas Merah Putih.

"Lintas Merah Putih ini bukan hanya tentang pendakian saja, tetapi juga tentang bagaimana kita belajar bertanggung jawab terhadap alam," jelas Andi kepada awak media.

Menurut Andi, pengalaman yang dibawa pulang peserta semestinya tidak berhenti pada cerita tentang perjalanan atau keberhasilan mencapai puncak.

Peserta juga diharapkan memahami pentingnya menjaga kebersihan, menerapkan prinsip zero waste, memahami etika pendakian dan ikut menjaga kelestarian ekosistem gunung.

“Karena bagi kami menjaga gunung tetap lestari adalah tanggung jawab bersama,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menempatkan kegiatan pendakian dalam konteks yang lebih luas. Gunung tidak semata menjadi lokasi untuk merayakan kemerdekaan atau menikmati panorama alam. Ia juga merupakan ekosistem yang memiliki batas terhadap tekanan aktivitas manusia.

Ketika ribuan orang datang dalam waktu bersamaan, persoalan sampah menjadi salah satu konsekuensi yang perlu diperhatikan.

Karena itu, aksi bersih yang dilakukan setelah upacara menjadi bagian penting dari pesan kegiatan tersebut.

Minim jejak dimulai sebelum sampah muncul

Membersihkan sampah yang sudah berada di jalur tentu penting. Tetapi prinsip minim jejak sebenarnya menuntut langkah yang lebih jauh: mencegah sampah sejak awal.

Di sinilah edukasi mengenai zero waste dan etika pendakian menjadi penting.

Pendaki bukan hanya dituntut membawa kembali sampah yang dihasilkan sendiri. Mereka juga disebut perlu memahami bahwa setiap barang yang dibawa ke kawasan gunung berpotensi meninggalkan jejak apabila tidak dikelola dengan baik.

Persoalan lingkungan di jalur pendakian pada akhirnya tidak hanya bergantung pada kegiatan bersih-bersih. Ia juga berkaitan dengan kebiasaan para pengunjung sebelum, selama, dan setelah melakukan perjalanan.

Dalam kegiatan Lintas Merah Putih XIV 2026, FPL Sulsel mencoba menyatukan kedua hal tersebut: aksi membersihkan jalur dan edukasi mengenai perilaku pendakian yang lebih bertanggung jawab.

Namun, bahan kegiatan belum menyertakan data mengenai jumlah atau jenis sampah yang berhasil dikumpulkan. Belum tersedia pula informasi mengenai bagaimana sampah hasil clean-up tersebut selanjutnya dikelola.

Karena itu, keberhasilan aksi tersebut dalam mengurangi persoalan sampah di kawasan Bawakaraeng belum dapat diukur secara kuantitatif berdasarkan informasi yang tersedia.

Yang terlihat jelas adalah adanya upaya untuk mengubah cara memandang pendakian: datang ke gunung tidak cukup hanya dengan menikmati perjalanan, tetapi juga dengan kesediaan merawat tempat yang dikunjungi.

Ketika gunung menjadi ruang perayaan

Pemandangan ribuan pendaki di Puncak Bawakaraeng pada Hari Kemerdekaan memperlihatkan bagaimana gunung telah menjadi salah satu ruang publik untuk merayakan momentum nasional.

Ada yang datang untuk mengikuti upacara, ada yang mengejar pengalaman pendakian, dan ada pula yang menjadikan perjalanan sebagai bagian dari aktivitas komunitas.

Keramaian tersebut membawa konsekuensi.

Semakin tinggi intensitas kunjungan, semakin penting pula kesadaran mengenai daya dukung kawasan dan etika berada di alam. Gunung bukan ruang yang dapat menerima semua aktivitas manusia tanpa konsekuensi.

Karena itu, pesan aksi minim jejak menjadi relevan jauh setelah kegiatan Lintas Merah Putih berakhir.

Aksi tersebut dapat menjadi pengingat bahwa menjaga gunung tidak cukup dilakukan ketika sampah sudah menumpuk. Tanggung jawab ekologis idealnya dimulai sejak seseorang memutuskan apa yang dibawa, bagaimana digunakan, dan apa yang dibawa kembali ketika meninggalkan kawasan.

Dalam bahan kegiatan ini belum terdapat informasi mengenai program lanjutan, pemantauan kondisi jalur, maupun bentuk kolaborasi dengan pihak lain setelah ekspedisi berakhir.

Artinya, satu persoalan penting masih terbuka, bagaimana semangat minim jejak yang dibangun selama kegiatan dapat dipertahankan sebagai kebiasaan, bukan berhenti sebagai agenda dua tahunan.

Merayakan kemerdekaan dengan merawat alam

Rangkaian Lintas Merah Putih XIV 2026 ditutup pada Selasa (18/8) melalui kegiatan lomba keakraban dan seremoni penutupan.

Namun, pesan ekologis kegiatan tersebut sebenarnya tidak berhenti di hari terakhir ekspedisi.

Ada gagasan yang lebih sederhana sekaligus lebih sulit untuk dijalankan: kemerdekaan juga dapat dirayakan melalui cara manusia memperlakukan alam.

Mengibarkan Merah Putih di puncak gunung adalah simbol. Membawa turun sampah, menjaga jalur, menerapkan zero waste, dan menghormati ekosistem adalah tindakan.

Keduanya dapat bertemu ketika perayaan tidak meninggalkan beban baru bagi lingkungan.

Lintas Merah Putih XIV 2026 memperlihatkan upaya untuk membawa gagasan tersebut ke dalam aktivitas pendakian. Tantangannya kini bukan sekadar menyelenggarakan aksi bersih, melainkan memastikan kesadaran tentang minim jejak menjadi bagian dari perilaku setiap orang yang datang ke gunung.

Sebab, ukuran sebuah perayaan di alam bukan hanya bagaimana manusia merayakannya.

Ada pertanyaan yang lebih penting ketika semua orang telah turun, apa yang kita tinggalkan di gunung setelah kita pergi?.