News and Education Versi penuh
News

FPM Sulsel Kritisi Festival Pinisi Bulukumba, Andi Fatahuddin: Mana Ruang untuk Talenta Daerah?

Oleh Redaksi 18 Oct 2026 00:06 3 menit baca

Jalurdua.com Intens.id, Bulukumba -Penyelenggaraan gelaran tahunan Festival Pinisi kembali memantik sorotan tajam dari kalangan penggiat sosial dan kepemudaan di Kabupaten Bulukumba. Di balik kemeriahan lampu panggung dan keriuhan penonton, hajatan yang digadang-gadang sebagai etalase utama promosi pariwisata dan kebudayaan daerah ini dinilai masih meminggirkan potensi seniman lokal.

Kritik keras tersebut salah satunya dilayangkan oleh aktivis pemuda Bulukumba, Andi Fatahuddin. Ia menyayangkan minimnya porsi keterlibatan talenta lokal dalam agenda bergengsi tersebut. Menurutnya, festival yang disokong anggaran daerah bernilai fantastis itu berpotensi kehilangan roh utamanya jika panggung megah yang dibangun justru diprioritaskan untuk deretan penampil dari luar daerah.

"Kita sangat sayangkan. Festival Pinisi ini adalah etalase budaya Bulukumba. Ironis jika artis dan musisi lokal kita sendiri hanya jadi penonton di kampungnya sendiri. Padahal Bulukumba memiliki artis lokal yang sudah mengenalkan daerah ini di kancah nasional," tegas Andi Fatahuddin kepada awak media di Bulukumba. Sabtu, (17/10/2026).

Pernyataan tersebut mengungkap isu struktural yang acap kali melanda penyelenggaraan festival kebudayaan di berbagai daerah, kontradiksi antara mengejar daya tarik instan lewat headliner populer dan upaya membangun ekosistem ekonomi kreatif lokal yang berkelanjutan.

Sebagai ajang tahunan yang masuk dalam jajaran kalender pariwisata nasional, Festival Pinisi semestinya berfungsi ganda. Tidak sekadar menjadi instrumen penarik wisatawan, festival ini sewajarnya menjadi laboratorium sekaligus panggung pematangan bagi seniman, musisi, serta pelaku seni tradisi di Tanah Panrita Lopi. Ketika porsi penampilan didominasi oleh artis luar, fungsi penguatan kapasitas lokal ini dinilai luntur.

Andi Fatahuddin, yang aktif mengawal isu kepemudaan, lingkungan, dan pergerakan Karang Taruna, menggarisbawahi bahwa ketidakberdayaan musisi daerah bukan disebabkan oleh minimnya kualitas. Banyak grup musik lokal, penyanyi solo, hingga sanggar seni tradisional di Bulukumba memiliki rekam jejak karya dan performa panggung yang tidak kalah bersaing. Namun, hambatan utamanya terletak pada akses keterbukaan dan keberpihakan kebijakan dari pihak penyelenggara.

Isu ini tidak sekadar berputar pada persoalan kebanggaan kedaerahan, melainkan beririsan langsung dengan putaran roda ekonomi kreatif. Alokasi anggaran festival yang besar seyogianya memberikan dampak multiplier bagi para pelaku seni lokal. Ketika honorium dan panggung utama dialokasikan secara dominan ke pihak luar daerah, potensi kapital yang seharusnya berputar di dalam ekosistem kesenian Bulukumba ikut mengalir keluar.

Atas dasar pertimbangan tersebut, Andi mendesak adanya formulasi aturan yang jelas terkait standar keterlibatan pengisi acara pada perhelatan mendatang.

"Bagaimana ekonomi kreatif mau tumbuh kalau panggung terbesar di daerah sendiri tidak memberikan ruang? Festival Pinisi harusnya punya regulasi yang jelas, minimal 60 persen pengisi acara adalah artis lokal Bulukumba. Jangan semua anggaran lari ke luar," terangnya.

Penerapan kuota atau batas minimal penampilan seniman lokal dinilai sebagai langkah afirmatif yang krusial. Kebijakan ini dapat menjamin proteksi sekaligus memberi garansi ruang ekspresi bagi para kreator daerah di tengah gempuran tren hiburan arus utama.

Sebagai langkah korektif, Pemerintah Kabupaten Bulukumba beserta Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga diminta untuk tidak menutup mata terhadap aspirasi publik. Evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola dan konsep penyusunan acara dianggap sebagai prioritas mendesak.

Guna menghindarkan prasangka nepotisme atau subyektivitas dalam pemilihan pengisi acara, Andi mendorong dilibatkannya lembaga independen serta komunitas seni lokal dalam proses penyusunan program.

"Kami minta tahun depan, kurator festival harus melibatkan dewan kesenian dan komunitas lokal. Berikan panggung untuk anak-anak Bulukumba. Festival Pinisi harusnya membesarkan seniman Bulukumba, bukan sebaliknya," pungkasnya.

Hingga laporan ini diturunkan, pihak panitia pelaksana Festival Pinisi maupun perwakilan dinas terkait belum memberikan keterangan resmi atau tanggapan balasan mengenai proporsi pasti komposisi pengisi acara serta formulasi alokasi anggaran hiburan pada gelaran tahun ini. Ketiadaan penjelasan resmi ini kian mempertegas pentingnya transparansi tata kelola acara publik yang dibiayai oleh dana daerah.