Jalurdua.com mengucapkan Selamat Hari Pers Nasional Indonesia 9 Februari 2024

Become a member

Get the best offers and updates relating to Liberty Case News.

― Advertisement ―

spot_img

Cahaya Qurban di Hati Mahendra

Di setiap sudut masjid dan halaman rumah, gema takbir berkumandang. Udara pagi Idul Adha terasa berbeda, penuh harapan dan keikhlasan. Sungguh hari yang dinanti-nanti...
BerandaHeadlineHelena Lim, Kita, dan Ketauladanan Tokoh Bangsa

Helena Lim, Kita, dan Ketauladanan Tokoh Bangsa

Oleh: Agusto Sulistio – Pegiat Sosmed.

Kisah Helena Lim, yang melibatkan kemewahan dan kontroversi korupsi, memberikan kita banyak pelajaran berharga tentang integritas dan kesederhanaan dalam kepemimpinan dan kehidupan kita sehari-hari. Namun, kisah Helena Lim juga menjadi titik awal untuk merenungkan nilai-nilai yang diperjuangkan oleh tokoh-tokoh bangsa kita.

Tokoh-tokoh seperti RA. Kartini, Cut Nyak Dien, Bung Hatta, Panglima Soedirman, Jenderal Hoegeng, dan banyak lagi, adalah contoh nyata dari kekuatan karakter, kejujuran, dan kesederhanaan dalam kepemimpinan dan kehidupan mereka. Mereka menunjukkan bahwa integritas dan kesederhanaan bukanlah hal yang kalah pentingnya dengan kekuasaan atau jabatan yang dimiliki.

RA. Kartini, misalnya, menolak hidup mewah dan memilih untuk hidup sederhana di desa. Cut Nyak Dien, meskipun dalam kondisi perang, tetap memprioritaskan kepentingan rakyat Aceh di atas kepentingan pribadi. Bung Hatta, Panglima Soedirman, Jenderal Hoegeng, dan banyak lagi, juga menunjukkan bahwa integritas dan kesederhanaan adalah pondasi yang kokoh dalam membangun bangsa.

Tidak hanya tokoh-tokoh besar, tetapi juga kisah-kisah kehidupan sehari-hari seperti Babil (15 Th) asal Desa Topejawa, Mangara Bombang, Takalar, Sulsel, seorang remaja yang hidup dalam kemiskinan namun tetap semangat dalam bekerja keras, jujur, dan merawat ibunya, memberikan inspirasi yang mendalam. Meskipun menghadapi berbagai kesulitan, Babil tetap tegar dalam menjalani hidup dan menjaga kejujuran serta kesederhanaannya (Detik.com)

Tak hanya terjadi pada Helena Lim, pemimpin negara, presiden Jokowi harus dapat membuktikan bahwa kesetaraan dan keadilan harus ditegakkan untuk semua orang, tanpa terkecuali, sebagaimana janjinya yang terus menerus disampaikan di hadapan publik. Semoga Presiden dan keluarganya tak latah meniru penampilan mewah Helena. Kejadian yang menimpa Crazy Rich PIK telah memberi sinyal yang penting untuk agar kita terus mewaspadai dan memerangi korupsi di semua tingkatan, demi kesejahteraan dan tujuan bernegara bersama.

Dari kisah Helena Lim hingga teladan dari tokoh-tokoh bangsa dan kisah-kisah kehidupan sehari-hari seperti Babi, kita diingatkan akan pentingnya untuk tetap teguh pada nilai-nilai kejujuran, kesederhanaan, dan pengabdian kepada sesama. Kita semua memiliki peran dalam membangun masa depan yang lebih baik bagi bangsa dan negara kita, dan itu dimulai dengan menjadi orang yang jujur, tulus, dan sederhana dalam segala hal.

Janji Presiden Jokowi

Namun, realitas di Indonesia tidaklah sederhana. Kasus korupsi di negara kita sangat kompleks, mulai dari korupsi bantuan bencana, dana pensiun, hingga korupsi pembangunan yang diselewengkan untuk kepentingan politik, dengan nilai yang mencapai ribuan trilyun rupiah. Ironisnya, pemerintahan Jokowi belum mampu menuntaskan masalah korupsi secara maksimal, bahkan terkesan perilaku korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) semakin marak.

Komitmen Presiden Jokowi untuk memberantas korupsi harus terus menjadi tujuan kita bersama agar bisa segera direalisasikan. Hal ini menjadi semakin penting di tengah keadaan ekonomi dan politik bangsa kita yang semakin merosot serta tantangan global dan perubahan iklim yang setiap saat akan terjadi. Hanya dengan komitmen dan kerja keras bersama, kita dapat membangun sebuah Indonesia yang bersih dari korupsi dan adil bagi seluruh rakyatnya.

Masjid Nurullah, Kalibata City, Jakarta Selatan, Minggu 31 Maret 2024, 15:54 Wib.