Hutan di Kepala
Jalurdua.com Hutan di Kepala
pada akhirnya, aku ciptakan hutan di kepalaku
dan aku berencana merahasiakannya dari siapa pun
bahkan dari rambutku sendiri
hutan di kepalau selalu riuh
tak ingin jeda, meski sekejap saja
banyak penghuni di sana selalu terjaga
sepanjang waktu, serentang ingatan
aku menanaminya semua jenis pohon
lalu melepaskan burung-burung
kecuali kelelawar
aku bingung memasukkan makhluk hitam itu ke mana
burung atau bukan?
kau pernah bertanya, apa aku suka hutan atau alismu?
aku tak jawab, dan kau pergi dengan korek api di matamu
aku tahu, kelak, pada hari libur
kau akan kembali mencari hutan di ujung kampung
tapi hutan itu telah tiada
kata ayah, hutan dimakan orang kota
aku pernah berpikir membuat hutan di tanah warisan ayah
tak aman, kata ayah
ia sarankan aku membuat hutan di kepalaku
lebih aman, tak ada api
tak ada mulut orang kota memakannya
tapi, aku harus merahasiakannya
pun darimu
Kindang, Agustus 2026
--
Kota tanpa Sarung
Semua bermula saat aku ke kotamu di utara
aku bawa sarung, juga selimut
kau menertawakanku. kota tak butuh sarung, tak perlu selimut
dan benar saja, sarung dan selimut tak keluar ransel
aku bahkan lupa cara pakai baju
juga celana dalam
semua poriku jadi mata air
asin dan asing
aku cari pohon di kotamu itu
tak ada, hanya gedung dan gudang
Kamu tahu, langit selalu benci pada gedung
langit tak suka dicakar
“pernahkah kamu melihat pohon durian?”
“sering,” jawabmu
“di mana?”
“di sini,” jawabmu, singkat menggemaskan
kau mainkan gawaimu di depan mataku
aku ingin tertawa
ingin mengajakmu ke kampungku
tak perlu membawa selimut dan sarung
………ada pelukku…….
Kindang, Agustus 2026
---
Bau Tubuhmu
dan sungguh, jaket merah mawar ini masih menyimpan bau tubuhmu
aku telah mencucinya tujuh kali
dan bau tubuhmu gagal pergi
aku memilih menyerah
tak pernah lagi kucuci jaket itu
sekarang sedang kemarau
pak desa memujiku hemat air
sebab tak pernah mencuci jaket pemberianmu itu
besok, katanya aku akan diberi penghargaan
berupa jaket baru
Kindang, Agustus 2026