Kedaulatan Ustadz

  • Whatsapp
banner 300600

Setiap predikat di tengah sosial membutuhkan legitimasi. Salah satunya adalah ustadz. Setiap ustadz kerap kita elu-elukan keilmuannya lantaran dianggap bisa menjadi kamus berjalan. Kamus hidup bagi persoalan-persoalan agama. Pintu ilmu untuk mengorek seputar fiqih, syariat, dan konversi-konversi yang menyertai ‘keustadzan’ seseorang di tengah kita.

Lalu kita pun terbiasa mengelu-elukan simbol-simbol. Kadang teramat aneh memang jika seseorang yang kita sepakati sebagai ustadz mengecewakan dalam hal penampilan. Standar fisik seorang ustadz tidak pernah jauh-jauh dari peci, kopiah, baju koko, gamis, dan sarung. Kalau perlu dlengkapi jenggot.

Bacaan Lainnya

banner 300600

Sebagian kita mungkin toleran terhadap penampilan ustadz. Kita lebih merujuk kepada rutinitas ibadah seseorang yang kita sepakati sebagai ustadz dibandingkan penampilan kesehariannya.

Ketika seorang ustadz melanggar pakem-pakem sosial yang tidak tertulis itu maka keustadzannya akan mengalami resistensi publik. Setidaknya kekecewaan. Sebab begitulah kita sejak jaman baheula. Mentradisikan kulit luar sebagai acuan utama. Kita lebih sering menyenangi cover dibandingkan isi.

Di masa kini siapapun bisa jadi ustadz. Meskipun dia hanya alumni S1 perguruan tinggi. Meskipun ilmunya tentang Islam masih sangat hijau sebab hanya diperoleh dari buku-buku dan pesantren. Itupun yang dikuasainya hanya dasar-dasar Ilmu Fiqih dan sedikit ilmu hadits.

Merujuk kamus Bahasa Arab, ustadz adalah orang yang sangat ahli dalam suatu bidang. Menurut pengertian ini, seseorang disebut Ustadz apabila dia memiliki keahlian dari 18 atau 12 ilmu atau bidang studi. Dalam sastra Arab seperti ilmu nahwu, shorof, bayan, badi’, ma’ani, adab, mantiq, kalam, perilaku, ushul fiqih, tafsir, hadits. Istilah ustadz merujuk pada dosen atau ahli atau akademisi yang memiliki kepakaran di bidang tertentu. Ustadz setara dengan professor kalau di negeri kita.

Banyaknya ustadz di lingkungan sosial kita tentunya sangat menyenangkan. Dan kitalah yang mendaulat mereka menjadi ustadz. Mendaulat tanpa melalui uji 12 bidang studi. Namun itu ternyata memang jauh lebih baik dibandingkan ketika di sekitar kita banyak preman atau begal. Masalah seriusnya adalah ketika ada seorang begal suka berpenampilan ustadz. Dia bisa lolos dengan mudah sebagai ustadz. Akibat itu tadi, kita punya hobi mendaulat.

Di dunia maya pun setiap netizen bisa jadi ustadz. Sekali dua kali memposting ayat ataupun hadits maka netizen lainnya akan segera mendaulatnya sebagai ustadz. Di depan rumah kami sering lewat seorang anak muda lulusan pesantren. Dia rajin ke masjid. Biasanya kami menyapa atau berseru penuh keramahan selaku tetangga, “Singgahmaki’ ustadz!” Dia pun menjawab, “Iye puang, ke masjidka dulu ye.”

Begitulah, betapa menyenangkannya jika ada atau banyak ustadz di tengah-tengah kita. Para ustadz akan selalu aman dan berdaulat di tengah lingkungan sosial yang juga berdaulat.(*)

Pustaka RumPut, 16 Mei 2020.

Pos terkait

banner 300600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.