BerandaEdukasiKelasnya di Pekarangan, Papan Tulisnya adalah Dinding Rumah

Kelasnya di Pekarangan, Papan Tulisnya adalah Dinding Rumah

Bulukumba, JalurDua.Com – Di pekarangan sebuah rumah yang nampak luas, asri, dan menghijau, anak-anak duduk beralas tikar dan plastik. Kerumunan anak-anak itu seolah menghiasi rerumputan. Mereka mengelilingi seorang lelaki muda yang rupanya sedang mengajarkan Bahasa Inggris kepada anak-anak itu.

“Beberapa hari di rumah, saya mohon izin kepada orangtua untuk menggunakan halaman rumah sebagai tempat belajar dan bermain, termasuk menggunakan dinding rumah yang terbuat dari tegel putih sebagai papan tulis.” Kata lelaki muda itu. Jenggot sekepal menghiasi dagunya. Matanya tajam tapi bersahabat.

Dia sedang membuka kembali Kelas Belajar Gratis Bahasa Inggris, matematika, public speaking, dan lain-lainnya. Dia seorang trainer, motivator, da’i, dan hipnoterapis. Hadi Kasmaja namanya. Publik Bulukumba juga lebih mengenalnya sebagai dedengkot Kelas Inspirasi Bulukumba.

JalurDuaCom mencoba lebih intim menemukenalinya pada sejak Rabu kemarin dan lanjut ke Kamis pagi (9/7/2020).

“Sebelumnya saya pernah sampaikan kepada mereka, jika di sore hari tidak turun hujan maka adik-adik boleh datang ke rumah untuk belajar. Benar sore tadi tidak hujan dan kelas pun dimulai walau dengan kondisi yang sederhana.” Katanya.
“Anak-anak di sini memiliki semangat belajar yang tinggi. Pagi harinya mereka belajar Alqur’an, sore harinya mereka belajar ilmu umum. Dan kalau hari ini mereka hanya datang bertujuh, esok pasti akan bertambah.” Urainya dengan wajah bercahaya.

Hadi meyakini penguatan literasi adalah faktor penting dalam upaya mewujudkan sumber daya manusia (SDM) yang unggul dan berkarakter. Keyakinan itu memicunya untuk mencipta awalan penting gerakan literasi yang dimulainya pada tahun 2012 di Desa Karama, Kecamatan Rilau Ale, Kabupaten bulukumba, Sulawesi Selatan.

“Saat itu saya baru saja kembali dari Kampung Inggris Kediri Jawa Timur, setelah belajar selama setahun.” Kenang Hadi.

Gerakan literasi yang dilakukan Hadi memantik kerja-kerja serupa yang dilakukan anak-anak muda di kampungnya bertahun-tahun kemudian. Tidak heran, di Desa Karama bertumbuhanlah anak-anak muda lainnya yang juga peduli literasi. Salah satinya, komunitas literasi Karama Literatur. Komunitas itu bersinergi dengan karang taruna setempat dalam program kelas belajar gratis hampir setiap hari.

Desa Karama, -kacamata versi JalurDua.Com– dari berbagai sisi, tampaknya cukup representatif untuk disebut sebagai sebuah kampung literasi.(*)

Alfian Nawawihttp://jalurdua.com/
Kolumnis dan Editor JalurDua.Com
Stay Connected
16,985FansSuka
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan
Must Read
Related News