Kemenko Marinvest: Ayo Putus Penularan Covid-19 Melalui Praktik 3M dan 3T

  • Whatsapp
banner 300600

JalurDua.Com, Jakarta: Penerapan praktik Tracing, Testing and Treatment (3T) sama pentingnya dengan penerapan perilaku (menggunakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak (3M). Keduanya merupakan upaya memutus mata rantai penularan Covid-19, namun harus ada peningkatan pemahaman kepada masyarakat mengenai praktik 3T.

Menurut Penasihat Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi (Menkomarinvest), Monica Nirmala, sejauh ini perilaku 3M banyak membicarakan peran individu. Dia menilai bahwa 3M dan 3T sama pentingnya dan merupakan satu kesatuan untuk memutus mata rantai penularan Covid-19.

Bacaan Lainnya

banner 300600

“Sementara itu, 3T berbicara tentang bagaimana kita memberikan notifikasi atau pemberitahuan pada orang di sekitar kita untuk waspada,” katanya dalam dalam dialog virtual melalui kanal YouTube FMB9 bertema “Optimisme Masyarakat terhadap 3T yang diselenggarakan Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), seperti dikutip di Jakarta, Selasa (24/11).

Monica mengungkapkan, pemeriksaan dini menjadi penting agar bisa mendapatkan perawatan secara cepat, bahkan upaya deteksi dini bisa menghindari potensi penularan ke orang lain. Lalu, pelacakan dilakukan pada kontak-kontak terdekat pasien positif Covid-19. Setelah diidentifikasi oleh petugas kesehatan, kontak erat pasien harus melakukan isolasi atau mendapatkan perawatan.

“Seandainya ketika dilacak si kontak erat menunjukkan gejala, maka perlu dilakukan tes, kembali ke praktik pertama (testing)”, kata Monica sembari mengatakan bahwa perawatan akan dilakukan apabila seseorang positif Covid-19.

Jika tidak ditemukan gejala, maka orang tersebut harus melakukan isolasi mandiri di fasilitas yang sudah ditunjuk pemerintah. Sebaliknya, jika menunjukkan gejala, maka para petugas kesehatan akan memberikan perawatan di rumah sakit yang sudah ditunjuk pemerintah.

Hingga saat ini, jelas Monica, ada tiga indikator yang menjadi standarisasi pemeriksaan Covid-19 yakni, jumlah spesimen, kecepatan hasil pemeriksaan, dan rasio positif. “Di Indonesia angka testing rata-rata mencapai 24.000-34.000 orang per hari,” ungkapnya.

Dia menyebutkan, kapasitas laboratorium di Indonesia sangat memadai untuk melakukan pemeriksaan sesuai standar WHO. Kapasitas tes di laboratorium hampir 80.000. Kendalanya justru pada individu, ketika seseorang menunjukkan gejala Covid-19, kontak eratnya takut untuk memeriksakan diri (testing). “Setiap orang harus mengambil peranan untuk memutus rantai dengan berpartisipasi kooperatif menerapkan 3M dan 3T,” ujar Monica.

Pada kesempatan yang sama, Managing Director Ipsos Indonesia, Soeprapto Tan mengemukakan bahwa masih ada 29 persen masyarakat yang tidak paham mengenai 3T. Sebaliknya, 99 persen masyarakat mengaku paham terhadap 3M. Artinya, masih ada masyarakat yang menganggap perilaku 3M dan 3T adalah dua hal yang terpisah, padahal kedua merupakan satu paket dalam memutus mata rantai penularan COVID-19.

“Kampanye 3M di awal-awal sangat kencang sekali dan terus berjalan sampai sekarang. Jika 3M tidak berjalan, maka 3T pasti akan lebih parah. Sekarang 3M sudah berjalan, saatnya kita mulai membicarakan 3T,” jelas Soeprapto.

Menurut dia, pemerintah perlu mengimbau masyarakat agar tidak mengucilkan pasien positif Covid-19, namun harus memberikan dukungan dan keprihatinan agar stigma negatif terhadap pasien bisa menghilang. Jika vaksin Covid-19 sudah ditemukan, kata dia, masyarakat harus tetap menjalankan perilaku 3M dan 3T.

“Kalau misalkan mendapatkan vaksin pada Mei atau Juni 2021, maka kebiasan terhadap 3M dan 3T harus tetap kita jalankan sampai pemerintah benar-benar memberikan informasi bahwa Covid-19 sudah tidak ada,” ucap Soeprapto. (Budi)

Pos terkait

banner 300600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.