Kurdiansyah Anggoro Pantau Pesanan Pinisi Surya Paloh
Kurdiansyah Anggoro tinjau kapal pinisi pesanan Surya Paloh di Tana Beru usai rapat Pansus LKPJ Bulukumba.
BULUKUMBA - Langkahnya belum sempat melambat usai rapat panas Panitia Khusus (Pansus) LKPJ, Kurdiansyah Anggoro langsung bergegas menuju pesisir Tana Beru, Kecamatan Bonto Bahari, Rabu, 15 April 2026. Di tengah padatnya agenda sebagai anggota DPRD Bulukumba sekaligus Ketua Fraksi NasDem, ia mengantar tamu dari Jakarta sekaligus meninjau langsung progres kapal pinisi pesanan Surya Paloh.
Dari Ruang Rapat ke Galangan Kapal
Seusai mengikuti pembahasan Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Bupati Tahun Anggaran 2025, Anggoro tak memilih jeda. Ia justru berpindah dari ruang rapat formal ke lanskap pesisir yang sarat sejarah maritim.
“Sebenarnya saya masih sibuk di pansus LKPJ, tapi ada arahan dari pengurus partai di pusat. Saya terjun langsung ke Tana Beru mengantar tamu,” ujarnya.
Perpindahan itu terasa kontras. Dari diskusi angka dan kebijakan, ia kini berada di antara kayu-kayu ulin, aroma laut, dan suara ketukan palu para perajin pinisi.
Namun di situlah letak maknanya politik tak selalu berhenti di meja sidang, tetapi juga menyentuh denyut ekonomi dan budaya masyarakat.
Menyaksikan Lahirnya Kapal Pinisi
Di galangan kapal tradisional Tana Beru, Anggoro berjalan menyusuri rangka kapal yang mulai terbentuk. Kayu-kayu besar tersusun, membentuk tulang utama pinisi yang kelak akan mengarungi lautan.
“Saya lihat langsung proses awal pembuatan kapal ini, mulai dari rangka kapal,” tuturnya sambil menunjuk bagian konstruksi.
Ia mengaku mengikuti proses tersebut sejak awal, memastikan bahwa pesanan kapal pinisi milik Surya Paloh berjalan sesuai harapan.
Kehadirannya bukan sekadar simbolis. Ia tampak berdialog dengan para pekerja, mengamati detail pekerjaan, hingga memastikan kualitas pengerjaan tetap terjaga.
Di tengah percakapan santai itu, terlihat hubungan yang cair antara politisi dan pengrajin, dua dunia yang saling terhubung oleh kepentingan yang lebih besar: menjaga warisan maritim.
Tana Beru, Jantung Industri Pinisi Bulukumba
Tana Beru bukan sekadar lokasi, melainkan pusat peradaban kapal pinisi yang telah dikenal hingga mancanegara. Di sinilah tradisi turun-temurun para pembuat kapal tetap hidup, meski zaman terus berubah.
Kehadiran proyek kapal pesanan tokoh nasional seperti Surya Paloh memberi sinyal penting: industri lokal masih dipercaya dan memiliki daya saing tinggi.
Bagi Anggoro, momentum ini bukan hanya soal pesanan kapal, tetapi juga peluang memperkuat ekonomi daerah.
“Ini kebanggaan kita. Pinisi bukan hanya warisan budaya, tapi juga sumber penghidupan masyarakat,” ungkapnya.
Ia menilai, perhatian dari tokoh nasional terhadap industri pinisi bisa menjadi pintu masuk untuk promosi yang lebih luas, termasuk penguatan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
Peran Politik dan Budaya yang Bertemu
Keterlibatan Anggoro dalam kunjungan ini menunjukkan bagaimana peran politik bisa bersinggungan langsung dengan pelestarian budaya.
Di satu sisi, ia menjalankan tugas sebagai legislator dalam pembahasan LKPJ. Di sisi lain, ia hadir di tengah masyarakat, memastikan roda ekonomi lokal tetap berputar.
Peran ganda ini menjadi cerminan pendekatan bahwa kebijakan dan realitas lapangan harus berjalan seiring.
Kehadirannya juga memperlihatkan bagaimana komunikasi antara pusat dan daerah dapat diterjemahkan dalam aksi nyata, bukan sekadar instruksi administratif.
Dampak dan Harapan ke Depan
Kunjungan Anggoro ke Tana Beru menegaskan bahwa pembangunan daerah tidak hanya bergantung pada kebijakan formal, tetapi juga pada perhatian terhadap sektor-sektor tradisional yang menjadi identitas lokal.
Proyek kapal pinisi pesanan Surya Paloh berpotensi memberi dampak ekonomi langsung bagi para pengrajin, sekaligus memperkuat citra Bulukumba sebagai pusat industri maritim tradisional.
Ke depan, sinergi antara pemerintah daerah, pelaku industri, dan tokoh nasional diharapkan mampu mendorong keberlanjutan industri pinisi bukan hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai kekuatan ekonomi yang relevan di era modern.**