Listrik RSUD Bulukumba Padam 2 Jam, DPRD Desak Sistem Ganda
DPRD Bulukumba sidak RSUD usai listrik padam 2 jam pada 23 April 2026. Komisi II desak pemasangan UPS, sistem genset ganda, dan pengelolaan listrik diserahkan ke pihak ketiga.
BULUKUMBA - Lampu ruang perawatan tiba-tiba padam. Genset berputar, namun kepanikan sempat mewarnai lorong-lorong Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) H. Andi Sulthan Daeng Radja Bulukumba pada Kamis sore, 23 April 2026—insiden yang akhirnya mendorong Komisi II DPRD Kabupaten Bulukumba turun langsung ke lapangan.
Pemadaman listrik RSUD Bulukumba berlangsung sejak pukul 17.35 hingga 19.45 WITA. Dua jam lebih, fasilitas kesehatan yang melayani ribuan warga Bulukumba itu beroperasi dalam kondisi darurat. Ironisnya, insiden ini bermula dari pekerjaan yang seharusnya memperbarui layanan—penyambungan instalasi listrik untuk peralatan operasi jantung di Gedung Perawatan Jantung Terpadu.
Dari Rapat ke Sidak: DPRD Bulukumba Bergerak Cepat
Kejadian itu tak dibiarkan berlalu begitu saja. Sehari setelah insiden mencuat dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) di DPRD Bulukumba pada Senin, 27 April 2026, Komisi II langsung menggelar inspeksi mendadak ke RSUD H. Andi Sulthan Daeng Radja keesokan harinya, Selasa, 28 April 2026.
Sidak dipimpin langsung oleh Ketua Komisi II, H. Muhdar, dan dihadiri sejumlah anggota dewan—Kaspul BJ selaku Wakil Ketua, Dr. Supriadi, Anhar Sakti, H. Musa Lirpa, serta anggota Komisi I Juandy Tandean. Turut hadir pula Sekretaris Daerah Bulukumba Muh. Ali Saleng, Direktur RSUD dr. Rizal Ridwan Dappi, serta jajaran manajemen PLN ULP Panritalopi.
Ini bukan kunjungan seremonial biasa. Tim memastikan kondisi genset, menelusuri jalur distribusi listrik, dan menilai kesiapan sistem cadangan di objek-objek vital rumah sakit.
Wakil Ketua DPRD: Ruang Operasi Wajib Punya UPS
Wakil Ketua Komisi II, Kaspul BJ, berbicara tegas usai sidak. Menurutnya, sistem kelistrikan RSUD Bulukumba butuh pembenahan menyeluruh—bukan tambal sulam.
"Kita melakukan kroscek di rumah sakit dalam rangka memastikan bahwa proses kelistrikan di rumah sakit terjadi pemadaman karena memang ada trouble di luar kemampuan manajemen rumah sakit," ungkapnya.
Namun kroscek bukan akhir dari segalanya. Kaspul menegaskan, ruang-ruang vital seperti ruang operasi tidak bisa lagi bergantung pada satu sumber daya listrik.
"Seperti ruang operasi, itu perlu cadangan seperti UPS (Uninterruptible Power Supply)," katanya.
Lebih dari itu, Kaspul mendorong agar jaringan genset dan distribusi listrik dirancang secara ganda—sehingga jika ada perbaikan di satu jalur, suplai ke titik kritis tidak ikut terganggu.
"Kemudian kita minta yang mengelola listrik rumah sakit untuk dipihak ketigakan saja, karena ini objek vital yang menyangkut nyawa manusia," tegasnya.
Pernyataan keras itu menjadi sorotan. Pengelolaan kelistrikan RSUD Bulukumba dinilai sudah saatnya diserahkan kepada pihak yang kompeten dan berdedikasi penuh—bukan sekadar dikelola secara internal dengan kapasitas terbatas.
Kronologi Insiden: Panel Rusak, Pemadaman Melebar
Apa yang sesungguhnya terjadi malam itu?
Pihak rumah sakit menjelaskan, pemadaman awalnya direncanakan hanya 15 hingga 20 menit—waktu yang dibutuhkan untuk proses penyambungan instalasi listrik guna mendukung operasional peralatan bedah jantung. Sebuah langkah yang seharusnya memperkuat layanan.
Namun di luar perkiraan, motorized panel pembagi mengalami kerusakan mendadak setelah proses penyambungan dilakukan. Akibatnya, pemadaman yang mestinya singkat justru berlangsung hampir dua jam penuh—dari pukul 17.35 hingga 19.45 WITA.
Insiden ini membuka realita yang lebih besar: infrastruktur kelistrikan RSUD Bulukumba belum memiliki sistem redundansi yang memadai untuk objek vital sekelas rumah sakit daerah.
Direktur RSUD: Kami Minta Maaf dan Terus Berbenah
Di tengah sorotan tajam, Direktur RSUD H. Andi Sulthan Daeng Radja Bulukumba, dr. Rizal Ridwan Dappi, menyambut positif kunjungan Komisi II. Ia justru berterima kasih atas perhatian dewan.
"Kami atas nama direksi dan jajaran menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya apabila ada pelayanan yang kurang nyaman pada saat pemadaman kemarin," ujarnya.
Lebih dari sekadar permohonan maaf, dr. Rizal menegaskan komitmen untuk terus memperbaiki sistem layanan. Sidak DPRD ini, menurutnya, menjadi dorongan sekaligus cermin bagi manajemen rumah sakit untuk bergerak lebih cepat.
Jalan Panjang Menuju Rumah Sakit yang Aman
Insiden listrik di RSUD Bulukumba bukan sekadar soal padam dan nyala. Ini adalah cerminan dari tantangan nyata yang dihadapi banyak rumah sakit daerah di Indonesia: infrastruktur yang belum sepenuhnya siap untuk kebutuhan medis modern.
Desakan DPRD agar sistem kelistrikan dirombak—mulai dari pemasangan UPS di ruang operasi, penerapan jaringan genset ganda, hingga penyerahan pengelolaan listrik kepada pihak ketiga—menjadi agenda mendesak yang harus segera ditindaklanjuti.
Ke depan, publik dan pasien RSUD Bulukumba berharap komitmen pembenahan ini bukan sekadar janji pasca-sidak, melainkan langkah nyata yang terukur dan segera terwujud. Karena di ruang operasi, satu detik pun tanpa listrik bisa berarti segalanya.***