Mengapa Hujan Makassar Menggenangi Jalan, Bukan Kanal?
JALURDUA - Klikhijau.com - Selama berbulan-bulan musim kemarau, dasar Kanal di Jalan Inspeksi Kanal Tamangapa Utara, Kelurahan Paccinongang, Kecamatan Somba Opu, tampak meretas kering. Kanal bawah Jembatan Jalan Tun Abdul Razak yang menjadi pembatas lanskap perkotaan ini menyisakan ceruk air yang menyusut drastis.
Ketika hujan deras berdurasi dua jam mengguyur wilayah tersebut pada Selasa akhir Oktober lalu, harapan akan pulihnya volume air di cekungan ekosistem perairan buatan ini tak kunjung terealisasi. Air kanal tetap bertahan pada elevasi rendah. Ironisnya, limpasan air hujan justru beralih memenuhi ceruk-ceruk aspal di pusat kota.
Ruas jalan sekitar kawasan Mall Panakkukang hingga sepanjang koridor utama Jalan AP Pettarani mendadak berubah menjadi genangan tinggi. Pengendara roda dua terpaksa mengangkat barang bawaan agar terhindar dari luapan air banjir local, sebuah pemandangan yang memperlihatkan adanya gangguan fungsi pada sistem tata air perkotaan.
Fenomena pertukaran peran antara kanal dan jalan raya ini menggarisbawahi disfungsi fatal pada tata kelola lingkungan dan drainase mikro di Makassar dan sekitarnya. Kanal yang seharusnya dirancang sebagai penampung utama (retention basin) dan penyalur air menuju muara justru tak terisi optimal, sementara permukaan jalan kedap air berfungsi ganda menjadi wadah penampung limpasan hujan (runoff).
Disorganisasi ekologis ini berakar dari dua persoalan mendasar: penyumbatan sedimentasi serta tumpukan limbah domestik pada saluran drainase pemukiman, dan degradasi kondisi fisik kanal itu sendiri. Sisa-sisa limbah dapur dan sampah rumah tangga yang terbuang bebas ke saluran pembuangan mempersempit celah aliran drainase mikro. Akibatnya, air dari pemukiman terkunci di permukaan jalan sebelum sempat mencapai kanal utama.
Di sisi lain, Kanal Tamangapa menghadapi tekanan ekologis berupa peledakan populasi eceng gondok (Eichhornia crassipes). Tumbuhan air invasif ini menutup permukaan air dan mempercepat penyangkalan volume efektif penyimpanan air melalui penumpukan biomassa dan sedimen. Tanpa pengelolaan terpadu atau pemanfaatan biomassa secara sistematis, keberadaan Eichhornia crassipes menumpuk batas daya tampung air kanal.
Kondisi tersebut diperparah oleh ancaman pencemaran di wilayah bantaran (riparian zone). Sampah padat tak terkelola menumpuk di sepanjang tepian Jalan Inspeksi Kanal Tun Abdul Razak. Limbah plastik dan sisa konsumsi yang berserakan di tepi jalan kerap tertiup angin atau tergilas roda kendaraan hingga hancur menjadi partikel kecil sebelum jatuh terakumulasi ke dalam air kanal. Pemandangan limbah yang diabaikan oleh pengguna jalan harian ini menjadi cerminan belum terbangunnya tata kelola sampah terpadu berbasis komunitas.
Memasuki puncak musim penghujan, debit air kanal diperkirakan akan melonjak drastis secara mendadak. Namun, tanpa pembenahan struktur drainase dan pembersihan limbah padat secara berkelanjutan, kenaikan air kanal hanya akan mengapungkan ribuan ton sampah plastik yang terperangkap di dasar dan tepian kanal.
Krisis lingkungan skala mikro di Kanal Tamangapa ini menuntut perubahan mendasar pada pengelolaan ruang hidup perkotaan. Pembukaan sumbatan drainase, pemulihan fungsi bentang perairan buatan, serta edukasi penanganan limbah dari sumbernya di tingkat rumah tangga menjadi kebutuhan mendesak agar saluran air tak lagi kehilangan fungsinya, dan jalan raya tidak terus-menerus mengambil alih peran sebagai tempat penampungan banjir.