Peringatan Hari Santri di Bulukumba, AM Sukri Dapat Kado Istimewa

  • Whatsapp
banner 300600

JALURDUA.COM, BULUKUMBA- Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) tahun 2019 di Kabupaten Bulukumba diperingati melalui upacara penaikan bendera merah putih yang dilaksanakan di Lapangan Pemuda, Selasa, (29/10/2019).

Dalam upacara HSN ini Bupati AM Sukri Sappewali yang mengenakan baju koko warna putih yang dipadukan peci hitam bertindak selaku inspektur upacara yang dihadiri oleh ratusan santri, yang didominasi dari Pondok Pesantren Babul Khaer Kalumeme. Bahkan para santri Babul Khaer ini berjalan kaki dari ponpesnya menuju Lapangan Pemuda sekitar 4 kilometer.

Bacaan Lainnya

banner 300600

Hari Santri yang jatuh pada setiap tanggal 22 Oktober terasa istimewa. Oleh karena pada tanggal tersebut, juga merupakan hari ulang tahun orang nomor 1 di Bulukumba AM Sukri Sappewali. Makanya dirangkaian acara Ketua MUI Bulukumba KH Tjamiruddin menyuapkan nasi tumpeng kepada Bupati AM Sukri Sappewali usai pelaksanaan upacara bendera.

Selaku inspektur upacara, Bupati AM Sukri Sappewali membacakan sambutan Menteri Agama. Dalam sambutan yang ditandatangani Sekretaris Jenderal Kemenag M. Nur Kholis Setiawan.

Berikut sebagian kutipan dari sambutan tersebut:

Peringatan Hari Santri 2019 mengusung tema “Santri Indonesia untuk Perdamaian Dunia”. Isu perdamaian diangkat berdasar fakta bahwa sejatinya pesantren adalah laboratorium perdamaian. Sebagai laboratorium perdamaian, pesantren merupakan tempat menyemai ajaran Islam rahmatanlilalamin, Islam ramah dan moderat dalam beragama. Sikap moderat dalam beragama sangat penting bagi masyarakat yang plural dan multikultural.

Dengan cara seperti inilah keragaman dapat disikapi dengan bijak serta toleransi dan keadilan dapat terwujud. Semangat ajaran inilah yang dapat menginspirasi santri untuk berkontribusimerawat perdamaian dunia. Setidaknya ada sembilan alasan dan dasar mengapa layak disebut sebagai laboratorium perdamaian.

Pertama; Kesadaran harmoni beragama dan berbangsa. Perlawanan kultural di masa penjajahan, perebutan kemerdekaan, pembentukan dasar negara, tercetusnya Resolusi Jihad 1945, hingga melawan pemberontakan PKI misalnya, tidak lepas dari peran kalangan pesantren. Sampai hari ini pun komitmen santri sebagai generasi pecinta tanah air tidak kunjung pudar. Sebab, mereka masih berpegang teguh pada kaidah hubbul wathan minal iman (cinta tanah air sebagian dari iman).

KH Tjamiruddin menyuapkan nasi tumpeng kepada Bupati AM Sukri Sappewali usai pelaksanaan upacara bendera. (Dok : Humas Pemkab).

Kedua; Metode mengaji dan mengkaji. Selain mendapatkan bimbingan, teladan dan transfer ilmu langsung dari kiai, di pesantren diterapkan juga keterbukaan kajian yang bersumber dari berbagai kitab, bahkan sampai kajian lintas mazhab. Tatkala muncul masalah hukum, para santri menggunakan metode bahsulmasail untuk mencari kekuatan hukum dengan cara meneliti dan mendiskusikan secara ilmiah sebelum menjadi keputusan hukum. Melalui ini para santri dididik untuk belajar menerima perbedaan, namun tetap bersandarpada sumber hukum yang otentik.

Ketiga; Para santri biasa diajarkan untuk khidmah (pengabdian). Ini merupakan ruh dan prinsip loyalitas santri yang dibingkai dalam paradigma etika agama dan realitas kebutuhan sosial.

Keempat; Pendidikan kemandirian, kerja sama dan saling membantu di kalangan santri. Lantaran jauh dari keluarga, santri terbiasa hidup mandiri, memupuk solidaritas dan gotong-royong sesamaparapejuang ilmu.

Gerakan komunitas seperti kesenian dan sastra
tumbuh subur di pesantren. Seni dan sastra sangat berpengaruh pada perilaku seseorang, sebab dapat mengekspresikan perilaku yang mengedepankan pesan-pesan keindahan, harmoni dan kedamaian.

Keenam adalah Lahirnya beragam kelompok diskusi dalam skala kecil maupun besar untuk membahas hal-hal remeh sampai yang serius. Dialog kelompok membentuk santri berkarakter terbuka terhadap hal-hal berbeda dan baru.

Ketujuh, Merawat khazanah kearifan lokal. Relasi agama dan tradisi begitu kental dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Pesantren menjadi ruang yang kondusif untuk menjaga lokalitas di tengah arus zaman yang semakin pragmatis dan materialistis.

Kedelapan; Prinsip Maslahat (kepentingan umum) merupakan pegangan yang sudah tidak bisa ditawar lagi oleh kalangan pesantren. Tidak ada ceritanya orang-orang pesantren meresahkan dan menyesatkan masyarakat. Justru kalangan yang membina masyarakat kebanyakan adalah jebolan pesantren, baik itu soal moral maupun intelektual.

Kesembilan; Penanaman spiritual. Tidak hanya soal hukum Islam (fikih) yang didalami, banyak pesantren juga melatih para santrinya untuk tazkiyatunnafs, yaitu proses pembersihan hati. Ini biasanya dilakukan melalui amalan zikir dan puasa, sehingga akan melahirkan fikiran dan tindakan yang bersih dan benar. Makanya santri jauh dari pemberitaan tentang intoleransi, pemberontakan, apalagi terorisme. (Uno)

Rilis Humas Pemkab

Pos terkait

banner 300600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.