Sejak Kapan Tuhan Bertamu Ke Rumah Kita?

Barangkali hanya ramadhan yang selalu membuat rumah kita bercahaya. Setidaknya dari pagi ke malam kita punya kunang-kunang.Mungkin pijar bacaan Al Quran, sholat, ataupun dzikir. Ornamen ibadah itu bisa jadi telah mendesain diam-diam rumah kita menjadi sepotong surga kecil. Sebuah tempat berkembangbiaknya serangkaian ritus.

Dua perihal mengharuskan sebagian dari kita harus memilih di rumah saja: hujan menderas dan wabah! Saat seperti itulah sebagian dari kita mengaku merasakan “kehadiran Tuhan”. Persis kesadaran awal seorang anak kecil, betapa ritus di rumahnya tidak seheboh di luar ramadhan.

Rumah kita kali ini jelas berbeda dengan yang lalu-lalu. Rumah kita pada ramadhan kali ini menjadi tempat berlatih para ayah dan suami untuk menjadi Imam sholat yang baik. Setidaknya, “Imam sholat spesialis tiga-empat Qul.” Sungguh,Itu pencapaian sangat luar biasa. Kesyukuran harus dihamparkan. Belum tentu rumah-rumah lainnya juga memiliki “Imam internal.”

Namun, “Sejak kapan Tuhan bertamu ke rumah kita?” Sepotong pertanyaan sederhana ini meluncur begitu saja dari bibir seorang bocah yang kami produksi lima tahun lalu. Pertanyaannya saya terjemahkan ke dalam teks kalimat di atas agar mudah dipahami.

Salah satu syarat untuk menjadi bocah adalah memiliki stok pertanyaan yang terus bertambah. Dan tidak akan pernah ada satu jawaban bisa memuaskan mereka. Berbeda dengan bermain sebab bermain punya kelelahan. Apakah jawaban yang paling tepat adalah “Tuhan bertamu ke rumah kita jauh sebelum kamu diproduksi,” ataukah jawaban yang lebih rumit lainnya?

Imam spesialis tiga-empat Qul harus berlatih menjawab. Dan jawabannya adalah menemani bocah bermain untuk mengalihkan perhatiannya. Melupakan pertanyaan, tepatnya.

Kepada bocah lima tahun kita tidak bisa seenaknya membacakan serpihan sejarah. Kita harus menjadi Imam sholat yang khatam 5 juz lebih dulu. Barulah ada kepercayaan diri mengisahkan, misalnya ketika seorang Portugis bernama Browerius, pada tahun 1663, menyebut Yesus dengan istilah Tuan. Atau ketika seorang Belanda bernama Leijdecker pada tahun 1678 menerjemahkan surat-surat Paulus, maka sebutan Tuan telah berubah menjadi Tuhan. Diserap dari Bahasa Melayu ‘tuan’. Leijdecker itulah yang pertama kali menulis Tuhan. Itulah awal kosakata Tuhan masuk kedalam Bahasa Indonesia.

Namun terlalu rumit juga kita menjelaskan kepada bocah lima tahun bahwa pada mulanya kata “Tuhan” hanya sebagai ‘plesetan’ atau ‘salah tulis’ oleh orang Belanda, tapi selanjutnya dibakukan sebagai kosakata baru yang disejajarkan dengan kata ‘ilah’ dalam bahasa Arab. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, W.J.S. Poerwadarminta, yang kebetulan orang Katolik, beliau tidak memberikan keterangan apa pun tentang kata Tuhan, kecuali menyamakan kata Tuhan dengan “Allah.“

Bagaimana awal mula sampai Allah pun disebut dengan “Puang Allah Ta’ala” atau “Pung Allah Tala” yang dalam Bahasa Bugis “Puang” berarti “tuan”. Bocah lima tahun tentu akan sangat penasaran, Allah ternyata kerap dipersonifikasikan sama halnya dengan manusia, dengan gelar yang juga banyak disandang manusia.

Baiklah, kita di rumah saja. Menjawab pertanyaan-pertanyaan sederhana dengan jawaban semampu kita. Menjadi Imam sholat semampu kita, “spesialis tiga-empat Qul.” Semampu kita menjelaskan bagaimana tarif listrik bisa melonjak, BPJS naik, semua naik. Sementara itu di luar yang turun adalah hujan yang menderas. Dan do’a-do’a pun meluncur. Semoga menghanyutkan segala keburukan maupun virus corona. Semoga banjir kali ini hanya sampai ke mata kaki.

Banyak hal yang belum bisa kita rampungkan di rumah. Pertanyaan sederhana anak-anak kita, Work From Home, beban moral akibat PHK, dan hal-hal lainnya yang membuat sebagian kita serasa ingin menjadi petinju!

Di rumah saja itu berat. Sama beratnya yang dialami orang-orang yang tidak bisa mudik pulang ke rumah. Kita yang di rumah saja mungkin masih lebih baik dibandingkan mereka yang tertahan menumpuk di bandara.

Meskipun hanya bunga bakung yang tumbuh di halaman, seperti dalam lirik lagu “Rumah Kita” milik God Bless. Namun kita tidak bisa menjamin untuk menyepakati bagian lirik: “Haruskah kita beranjak ke kota yang penuh dengan tanya?” manakala wabah berakhir suatu hari nanti. Di rumah -sebagian saudara-saudara- kita, sembako menipis atau bahkan sudah habis. Saat ini, satu-satunya yang bisa dilakukan mungkin adalah memproduksi sesuatu yang nantinya “produksi bernyawa” itu akan bertanya hal-hal sederhana. Kapan lagi.(*)

Pustaka RumPut, 15 Mei 2020

26 KOMENTAR

  1. We spent a lot of time at her home. Maybe so her mother could keep an eye on us. Mrs. Spencer made sure to be around, offering drinks, snacks, chit chat. I noticed that she was fairly young herself. Granted at my age, anyone over 25 was old, but she was probably mid-30s, divorced. If she was a indiction of how Carley would develop, maybe I should wait. Mrs. Spencer had fuller breasts and a nice butt. She appeared to be in great shape for her “advanced” age. I knew she was keeping an eye on me as much as I was on her and her younger daughter. Her eldest, Sharon was away at college at the time. With Mrs. Spencer around we mostly limited ourselves to holding hands and sneaking in a few light kisses. One day Mrs. Spencer caught us by surprise walking in as I’d slid my hand up from Carley’s stomach to rub her right breast through her shirt. She didn’t really need a bra yet, so I could feel her nipple, hard, through her shirt. Just this much contact had me hard also.

    https://sites.google.com/view/Yo4qSwSwDsERhFbH https://sites.google.com/view/Tq83z0KBTOFesDKy

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Index