News and Education Versi penuh
Daerah

Surah Al-Baqarah Ayat 26: Hikmah Nyamuk dalam Taklim RSUD

Ustadz Rofiuddin kupas tuntas Surah Al-Baqarah ayat 26 dalam taklim RSUD Bulukumba. Temukan hikmah mendalam di balik perumpamaan nyamuk bagi pasien.

Oleh Uno 12 Jun 2026 19:38 4 menit baca

Jalurdua.com BULUKUMBA — Suasana hening dan khusyuk menyelimuti Masjid Nurul Afiat RSUD H. Andi Sulthan Daeng Radja Bulukumba pada Kamis, 11 Juni 2026. Di tengah hilir mudik tenaga medis dan aroma khas bangsal rumah sakit, puluhan pasang mata—yang sebagian besar menyimpan gundah akibat ujian kesembuhan—tertuju pada satu titik. Mereka mendengarkan dengan khidmat kupasan mendalam mengenai Surah Al-Baqarah ayat 26 yang dibawakan oleh penceramah terkemuka, Ustadz Rofiuddin, Lc.

Pertemuan berkala dalam program taklim rutin ini bukan sekadar rutinitas formalitas. Bagi para pasien yang sedang berjuang melawan penyakit, keluarga pasien yang setia mendampingi, hingga pegawai rumah sakit yang bersiaga 24 jam, majelis ilmu ini menjadi oase psiko-spiritual yang sangat krusial. Kehadiran mereka di rumah Allah tersebut laksana penyejuk di tengah ketidakpastian kondisi kesehatan.

Ustadz Rofiuddin, Lc, membuka tausiyahnya dengan membedah realitas kehidupan di lingkungan rumah sakit. Beliau mengaitkan momentum bulan-bulan Hijriah yang penuh kemuliaan dengan panggilan untuk menata kembali niat. Salah satu poin tajam yang ia sampaikan adalah pentingnya menanamkan niat yang tulus dalam setiap jengkal amal saleh. Termasuk, menghadirkan niat kuat untuk melaksanakan ibadah haji bagi umat Islam yang hingga hari ini belum mendapatkan kesempatan untuk menunaikannya.

Membedah Isyarat Ilahi Melalui Mahluk Kecil

Memasuki inti kajian, perhatian jemaah semakin tersedot ketika penceramah mulai mengulas kandungan Surah Al-Baqarah ayat 26. Ayat ini secara spesifik berbicara mengenai bagaimana Allah SWT memberikan perumpamaan makhluk-makhluk-Nya yang kerap dianggap remeh oleh manusia, seperti seekor nyamuk.

"Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan seekor nyamuk atau yang lebih kecil dari itu," ujar Ustadz Rofiuddin menyitir potongan firman-Nya. Beliau menjabarkan bahwa di balik penciptaan mahluk sekecil nyamuk, terdapat tanda-tanda kebesaran yang luar biasa bagi mereka yang mau berpikir secara mendalam.

Kajian ini memberikan insight atau wawasan spiritual baru bagi para pencari kesembuhan di RSUD Bulukumba. Ustadz Rofiuddin menerangkan secara gamblang dualisme respons manusia terhadap stimulus firman Allah. Bagi orang-orang yang beriman, perumpamaan tersebut akan langsung diyakini sebagai sebuah kebenaran mutlak yang datang langsung dari Tuhan mereka. Sebaliknya, orang-orang yang hatinya tertutup atau kafir justru akan mempertanyakan dengan nada meremehkan mengenai apa maksud tersembunyi di balik perumpamaan mahluk kecil tersebut.

Polarisasi Hati Antara Petunjuk dan Kesesatan

Di hadapan pengurus masjid dan pegawai rumah sakit, alumnus Timur Tengah ini menekankan bahwa setiap perumpamaan di dalam kitab suci Al-Qur'an memuat pelajaran serta hikmah yang sangat mendalam. Tidak ada satupun ciptaan Allah yang sia-sia, bahkan hewan sekecil nyamuk yang sering kali diidentikkan dengan sumber penyakit di area rumah sakit.

Lebih lanjut, tafsir Surah Al-Baqarah ayat 26 ini menggarisbawahi sebuah konsekuensi besar. Perumpamaan tersebut menjadi batu ujian yang memisahkan antara petunjuk dan kesesatan. Melalui perumpamaan itu, banyak manusia yang dibiarkan-Nya sesat, namun tidak sedikit pula manusia yang justru mendapatkan hidayah atau petunjuk baru. Ustadz Rofiuddin mengingatkan dengan tegas bahwa Allah tidak akan pernah menyesatkan siapapun melalui perumpamaan tersebut, kecuali orang-orang yang fasik—yaitu mereka yang secara sadar keluar dari ketaatan kepada-Nya.

Pesan ini terasa berdenyut kuat di dalam ruang masjid. Bagi keluarga pasien, penjelasan mengenai kefasikan dan keimanan ini seolah menjadi tamparan sekaligus obat penenang. Ujian sakit yang sedang dialami oleh anggota keluarga mereka di RSUD H. Andi Sulthan Daeng Radja Bulukumba pada dasarnya juga merupakan perumpamaan atau bentuk ujian kecil dari Allah untuk melihat sejauh mana kualitas keimanan seseorang bertahan.

Ikhtiar Memakmurkan Masjid di Tengah Ujian Sakit

Selain membedah lembaran tafsir, taklim rutin ini juga dipakai sebagai sarana penguat ukhuwah Islamiyah dan kebersamaan dalam beribadah. Ustadz Rofiuddin mengingatkan kembali esensi dan keutamaan luar biasa dari mendirikan shalat berjamaah di masjid. Mengingat pahala yang dijanjikan begitu agung dalam berbagai hadis sahih, keterbatasan fisik di lingkungan rumah sakit seharusnya tidak menjadi penghalang total untuk tetap memakmurkan masjid.

Langkah kaki yang berat dari selasar bangsal perawatan menuju Masjid Nurul Afiat dinilai sebagai bentuk berkah dan rahmat yang sangat nyata dari Allah SWT. Di tempat ini, taklim bukan lagi sekadar transfer teori agama, melainkan wadah katarsis emosional bagi jemaah yang sedang dirundung kedukaan dan keletihan fisik. Momentum hari-hari penuh keutamaan di bulan Hijriah ini seyogianya diisi secara konsisten dengan memperbanyak amal saleh, zikir, serta tadarus Al-Qur'an.

Acara spiritual yang berlangsung penuh kekhusyukan ini kemudian dipuncaki dengan ritual doa bersama. Seluruh jemaah yang hadir, mulai dari jajaran pegawai, pengurus masjid, hingga pasien yang tangannya masih terikat selang infus, menundukkan kepala. Mereka melangitkan doa, memohon kesembuhan fisik, keselamatan dunia akhirat, serta limpahan keberkahan bagi seluruh masyarakat Bulukumba.

Keberlanjutan program pembinaan spiritual seperti taklim rutin di RSUD H. Andi Sulthan Daeng Radja Bulukumba ini memegang peranan vital dalam sistem pelayanan kesehatan modern. Pendekatan kesembuhan jangka panjang tidak boleh hanya bertumpu pada aspek medis-klinis semata, namun wajib mengintegrasikan aspek mental-spiritual pasien.

Ke depan, replikasi kajian berbasis tafsir mendalam seperti Surah Al-Baqarah ayat 26 ini diharapkan mampu melahirkan ekosistem rumah sakit yang lebih humanis. Ketika pasien dan keluarganya memiliki ketahanan spiritual yang kokoh, proses pemulihan fisik pun secara psikologis akan berjalan jauh lebih optimal dan penuh kepasrahan yang positif.***

Topik terkait
Taklim Rumah Sakit Pembinaan Spiritual Pasien Masjid Nurul Afiat