BABADESAIN.COM

web desa, Portal Berita, Instansi, Lembaga, Personal, Online shop

Survei: Perilaku Publik Kian Membaik Saat Merespons Kondisi Pandemi

JalurDua.Com, Jakarta: Hasil survei menunjukkan bahwa respons masyarakat terhadap wabah Covid-19 cenderung negatif berupa ketakutan berlebihan, kondisi ini justru bisa mengarahkan perilaku seseorang untuk bertindak positif dalam mencegah penularan virus.

Hal ini dikatakan Rizky Ika Syafitri, UNICEF Communications Development Specialist dalam Diskusi Media Forum Merdeka Barat 9 (FMB 9) yang digelar secara vurtual melalui kanal YouTube FMB9 seperti dikutip di Jakarta, Senin (21/11).

Rizky mengungkapkan, respons publik tersebut didasari survei AC Nielsen yang bertujuan menggali sikap masyarakat terkait praktik pencegahan virus corona pada kehidupan sehari-hari. Survei yang bekerjasama dengan UNICEF ini dilakukan di enam kota besar di Indonesia dengan 2.000 responden.

Hasil survei menyimpulkan, sebesar 69,6 persen responden mengaitkan Covid-19 dengan sejumlah aspek negatif, seperti berbahaya, menular, darurat, mematikan, menakutkan, khawatir, wabah, pandemi, dan penyakit. Tetapi, rasa ketakutan ini bisa dimanfaatkan untuk mengarahkan perilaku masyarakat agar bisa lebih antisipatif dalam menghadapi kondisi pandemi.

“Karena kalau tidak diolah dengan baik, ketakutan ini hanya akan menjadi ketakutan saja, tidak menjadi aset untuk mengolah perubahan perilaku,” kata Rizki.

Dia mengatakan, upaya mengedukasi dan mengubah perilaku masyarakat harus memperhatikan pula media penyaluran yang tepat. Saat ini, sumber informasi yang dinilai paling dipercayai masyarakat mengenai virus corona adalah media massa televisi, koran, radio, media sosial, WhatsApp Group, pemberitaan media online.

“Jadi kalau untuk perubahan perilaku, kita cari tahu yang terpercaya. Karena, kalau terpercaya asumsinya masyarakat akan mau melakukan perubahan yang dipromosikan. Medium televisi masih menjadi salah satu penyaluran terkuat untuk dimanfaatkan. Yang menarik juga di sini adalah tokoh masyarakat dan tokoh agama masih didengarkan oleh masyarakat,” papar Rizky.

Dengan demikian, jelas dia, masyarakat harus terus diingatkan soal kampanye memakai masker, menjaga jarak aman, dan mencuci tangan (3M). “Imbauan ini perlu dipatuhi dan dijalankan secara disiplin, mengingat langkah ini adalah rekomendasi dari para ahli dan dokter,” imbuhnya.

Selain itu, hasil survei juga mengungkap adanya perilaku masyarakat terkait 3M secara riil di lapangan. Sebanyak 31,5% persen responden melakukan secara disiplin, sebesar 36 persen melakukan dua dari perilaku 3M. Sedangkan sebesar 23,2 persen melakukan satu perilaku 3M dan hanya 9,3 persen dari responden yang sama sekali tidak mematuhi ketentuan 3M.

Dia menyebutkan, hasil survei menunjukkan bahwa perilaku menjaga jarak (47 persen) atau lebih rendah daripada memakai masker (71 persen) dan mencuci tangan (72 persen). “Khusus untuk perilaku jaga jarak, didapatkan ternyata ada aspek norma sosial yang berperan di sini, misalnya merasa tidak enak menjauh dari orang lain, orang lain yang mendekat ke saya atau berpikir bahwa semua orang juga tidak menjaga jarak,” ujar Konsultan UNICEF, Risang Rimbatmaja.

Selain itu, adanya kesalahan persepsi bahwa orang yang terlihat sehat dianggap tidak bisa menularkan penyakit, juga menjadi faktor rendahnya penerapan perilaku menjaga jarak. “Kelihatannya konsep OTG (orang tanpa gejala) masih belum betul-betul berada di benak masyarakat,” kata Risang.

Kebanyakan, responden berpikir bahwa penularan Covid-19 melalui orang yang batuk dan bersin (71 persen). Hanya 23-25 persen responden yang menyebutkan penularan virus corona melalui berbicara dan bernafas. Hasil survei ini menjelaskan bahwa mengapa jaga jarak dianggap tidak terlalu perlu saat berbicara dengan orang lain, selama lawan bicara tidak batuk atau bersin. (Budi)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

BABADESAIN.COM

web desa, Portal Berita, Instansi, Lembaga, Personal, Online shop

Latest Posts