Selasa, Mei 26, 2020

Tidak Usah Jaga Jarak

Pada sebuah lorong sempit dan kumuh di sebuah kota. Warganya yang tidak cukup 30 KK membutuhkan grup WhatsApp untuk saling berinteraksi. Jagad virtual memungkinkan seluruh penghuni lorong bisa berbagi informasi apa saja dalam hitungan detik. Di sanalah ruang tempat link-link berhamburan entah dari mana saja. Di sana mudah ditemukan cerita-cerita konyol, meme yang tidak lucu, hingga sejuta keluhan khas kaum urban.

Sedikitnya dalam dua puluh tahun terakhir interaksi sosial kita sudah berjarak begitu jauh. Jagad virtual memungkinkan semua perihal di sekitar kita hingga belahan dunia lainnya cukup diletakkan dalam android. Benda itu masuk dalam list primer di rumah kita. Ada banyak kasus orang bisa lupa makan ketika asyik dengan gadget. Benda ini sudah setara atau bahkan lebih penting dibanding beras.

Benda ajaib kecil tipis itu cukup dibawa dalam saku celana. Bahkan bisa dibawa ke dalam kakus. Manusia milenial mampu mengkritik seorang calon bupati bahkan ketika dia sendiri belum sempat cebok. Seorang remaja jaman now bisa menghujat Bill Gates dan Rockefeller sementara pipisnya belum selesai.

Kita sudah terbiasa berjarak dengan teman semeja, sekantor, sejalan, bahkan serumah. Gadget telah mengambil alih sebagian besar waktu kita termasuk saat bekerja. Namun untungnya, kita bisa langsung menolong tetangga yang lagi terkunci di kamar mandi karena kita menyaksikan dia meminta pertolongan dalam siaran langsung di akun Facebooknya. Seseorang bisa mengabarkan kepada dunia melalui video tentang sebuah kasus perundungan. Seseorang di negara lain bisa mengajari kita secara gratis bagaimana cara mengganti resluiting rusak dalam tempo lima menit.

Kita sudah begitu lama menikmati physical distancing. Bertemu teman-teman lama dalam lima jam di kafe kita habiskan empat jam memelototi gadget. Cukup satu jam untuk hahahihi.

Barangkali ada enaknya juga pandemi covid-19. Terlepas apakah wabah itu hasil rancangan Rockefeller atau murni kecelakaan dari sebuah laboratorium atau bagian dari perang asimetris atau perang hibrida, yang jelas sebagian kita akhir-akhir ini benar-benar mulai memahami fungsi rumah yang sebenarnya.

Kita mulai berpikir tentang kebiasaan kakek nenek kita dahulu. Betapa pentingnya bagi mereka memajang gentong berisi air di depan rumah. Mereka suka menjaga wudhu. Mereka menyuruh kita diam ketika adzan terdengar. Mereka marah melihat kita masih bermain di luar rumah saat maghrib tiba. Biasanya mereka langsung menyuruh kita membuang kembali uang logam di tangan kita padahal baru saja kita pungut dari selokan.

Sejauh ini teknologi manusia belum menemukan “time machine”. Namun untuk mengembalikan waktu silam sesungguhnya mudah saja. Cukup kita kembali merapatkan jarak dengan rumah masa lampau. Di sana tempat kearifan lokal pertama kali dipraktekkan, kitab suci diajarkan, dan penghuninya memiliki kekebalan terhadap virus apapun tanpa vaksinasi.

Pustaka RumPut, 19 Mei 2020

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Index

Cerpenis Ini Ibu Rumah Tangga Biasa di Salassae

"Cinta Dua Zaman" dan "Cinta Dua Sahabat." Tulisan lainnya sementara dalam proses penerbitan.

Andi Mappasomba Menarik Pelatuk

Dia sedang mengimbau agar para netizen Bulukumba mau belajar memproduksi narasi-narasi cerdas dan elegan terkhusus seputar pemilukada.

Cara Klasik Grebek Sahur Karang Taruna Harapan Baru Desa Taccorong

Bulukumba - Banyak cara yang di lakukan warga untuk membangunkan makan sahur slah satunya dengan cara berkeliling kampung dan menabuh genderang beduk...

Setelah Sembako, JOIN Bulukumba Kembali Bagi-bagi Ratusan Nasi Kotak

Koordinator Pelaksana, Muhlis (jalurdua.com ) mengungkapkan, pihaknya bekerjasama dengan sejumlah swasta untuk melakukan kegiatan berbagi.