Update Gempa M7.6 Sulawesi Utara: Tanggap Darurat Prabowo, Dana Siap Pakai, dan Rencana Ketangguhan Jangka Panjang
Presiden Prabowo gerak cepat tangani gempa M7.6 Sulut-Malut. Menko PMK Pratikno dan BNPB pastikan evakuasi korban, dana DSP, plus pembangunan ketangguhan. Detail lengkap di sini.
Bumi di Laut Maluku bergetar hebat. Gempa bermagnitudo 7,6 mengguncang Sulawesi Utara dan Maluku Utara. Di Manado, gedung KONI Sario runtuh, merenggut nyawa seorang warga berusia 69 tahun. Warga Bitung, Ternate, dan sekitarnya berlarian keluar rumah, gereja rusak, rumah warga retak-retak.
Aftershock masih bergemuruh lebih dari 90 kali. Di tengah kepanikan itu, satu hal yang langsung terasa berbeda: pemerintah pusat tak menunggu lama.
Presiden Prabowo Subianto langsung memerintahkan jajaran terkait untuk fokus pada pencarian, penyelamatan, dan evakuasi korban. Kecepatan menjadi napas utama operasi ini. Bukan sekadar perintah di atas kertas, tapi aksi nyata yang dirasakan masyarakat di wilayah rawan Ring of Fire ini.
Arahan Presiden: Kecepatan dan Akurasi Jadi Kunci
Dalam Rapat Koordinasi Penanganan Darurat Bencana Gempa Bumi M 7,6 yang digelar hybrid pada Kamis (2 April 2026), Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno menyampaikan pesan langsung dari Presiden.
“Kecepatan menjadi kunci. Pendataan juga harus dilakukan secara akurat agar penanganan dapat berlangsung efektif. Sebagaimana arahan Bapak Presiden, pelayanan harus dilakukan secara cepat, dan penyelamatan masyarakat adalah prioritas utama,” ujar Pratikno.
Kata-kata itu bukan basa-basi. Di lapangan, tim Basarnas, TNI, Polri, dan BPBD sudah bersiap bergerak. Warga yang kehilangan rumah di Ternate dan Manado tak perlu menunggu berhari-hari seperti bencana-bencana sebelumnya. Kali ini, respons datang dalam hitungan jam.
Dana Siap Pakai BNPB: Bantuan Langsung ke Lapangan
Pratikno memastikan anggaran tak jadi hambatan. Dana Siap Pakai (DSP) dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sudah siap dicairkan sesuai ketentuan. Logistik makanan, pakaian, air bersih, dan tenda darurat bisa langsung mengalir ke posko-posko yang dibentuk di setiap kabupaten/kota terdampak.
Sementara itu, Kepala BNPB Suharyanto menegaskan komitmen Presiden yang diterima sejak pagi hari.
“Bapak Presiden sejak tadi pagi sudah mendapat laporan dan sudah memerintahkan kami BNPB, BMKG, dan Basarnas di bawah koordinasi Bapak Menko PMK untuk terus langsung membantu masyarakat terdampak. Dan, kami sudah diperintahkan di kesempatan awal hari ini juga sudah harus berangkat ke daerah bencana,” ujar Suharyanto.
Kolaborasi Lapangan: Posko Darurat dan Pemenuhan Kebutuhan Dasar
Suharyanto meminta seluruh unsur daerah—BPBD, TNI, Polri, kementerian, dan lembaga—segera mengaktifkan posko tanggap darurat. Tujuannya satu: memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi tanpa cela.
“Dari posko itu yakinkan kebutuhan dasar masyarakat terdampak seperti logistik permakanan, pakaian, air bersih, dan sebagainya ini betul-betul bisa dipenuhi,” tegasnya.
Tak hanya itu, BNPB juga mendorong pembentukan tim assessment cepat untuk mendata dan memverifikasi kerusakan rumah warga, rumah sakit, hingga fasilitas umum.
“Mohon ini juga segera dibentuk tim untuk melakukan assessment, melakukan verifikasi, sehingga data-data yang hari ini baru terkumpul sebagian, semakin hari semakin lengkap dan semakin sempurna,” tambah Suharyanto.
Momentum untuk Ketangguhan Jangka Panjang
Di balik urgensi darurat, Pratikno melihat peluang besar. Ia menekankan pentingnya memperkuat sistem manajemen bencana secara berkelanjutan—evaluasi kelembagaan, peningkatan peralatan, kapasitas SDM, dan edukasi kebencanaan yang masif.
“Momentum ini harus dimanfaatkan untuk memperkuat ketangguhan ke depan—baik ketangguhan masyarakat, infrastruktur, maupun kelembagaan,” tegasnya.
Pemerintah daerah diminta melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kapasitas kelembagaan penanggulangan bencana, termasuk kesiapan personel dan peralatan. Edukasi kebencanaan pun harus digencarkan melalui sekolah, pemerintah desa, hingga lembaga keagamaan.
“Terima kasih kepada seluruh jajaran TNI, Polri, pemerintah daerah, dan masyarakat yang telah bekerja keras dalam penanganan awal kedaruratan ini,” imbuh Pratikno.
Bagi warga Sulawesi yang masih ingat gempa dan tsunami Palu 2018, respons kali ini terasa berbeda—lebih cepat, lebih terkoordinasi. Di Manado, keluarga korban yang kehilangan saudara di reruntuhan gedung KONI tak sendirian. Tim SAR sudah turun, bantuan mengalir, dan janji ketangguhan jangka panjang memberi harapan bahwa besok akan lebih baik.
Gempa M7.6 ini mengingatkan kita semua: Indonesia berada di Ring of Fire. Tapi dengan kepemimpinan yang sigap, kolaborasi yang erat, dan komitmen membangun ketangguhan, bencana tak lagi hanya soal duka—tapi juga pelajaran untuk bangkit lebih kuat.