News and Education Versi penuh
Opini

Ayah, ‘Bentar ya’, dan Tragedi yang Terlambat Disadari

Satu berita, satu tamparan: hubungan ayah dan anak retak diam-diam. Kita sibuk scroll, tapi lupa benar-benar hadir.

Oleh Alfian Nawawi 02 Apr 2026 05:29 3 menit baca

Di layar ponsel, berita itu muncul seperti tamparan yang datang tanpa aba-aba—jenis tamparan yang tidak membuat pipi merah, tapi membuat pikiran diam beberapa detik. Seorang anak membunuh ayahnya sendiri. Alasannya terdengar seperti kalimat yang biasa kita dengar di rumah, hanya saja kali ini berakhir tragis: merasa tidak diakui. Lalu seperti biasa, setelah beberapa detik terdiam, kita melakukan ritual paling sakral abad ini: scroll.  

Thumbnail  di konten-konten berita itu seperti poster film yang terlalu jujur. Ada wajah aparat, ada judul besar, ada emosi yang dikemas seperti diskon akhir tahun. Tragedi keluarga berubah jadi konten. Kalau zaman dulu orang nangis di pelukan keluarga, sekarang nangisnya kemungkinan besar juga diiringi notifikasi.

Dalam Analects, Confucius bilang bahwa keluarga adalah fondasi negara. Kalau keluarga harmonis, negara ikut stabil. Kalau keluarga kacau… ya, kita lihat sendiri timeline medsos. Dulu, ayah itu seperti WiFi utama di rumah. Semua bergantung padanya. Tanpa dia, sinyal kehidupan putus. Lalu datanglah Sigmund Freud yang bilang, “Tunggu dulu, hubungan anak dan ayah itu tidak sesederhana itu.”

Ada konflik, ada kecemburuan, ada drama yang bahkan lebih rumit dari sinetron jam prime time. Sekarang? Ayah masih ada. Tapi seringkali berubah status jadi “typing…” yang tidak pernah terkirim.

Ketika Gadget Lebih Menarik dari Genetika

Mari kita jujur sebentar. Kalau anak memanggil: “Ayah…”

Responnya: “Bentar ya…”

5 menit, 10 meni, 30 menit.Akhirnya: “Kenapa tadi?”

Padahal notifikasi grup WhatsApp RT langsung dibalas dalam 3 detik, lengkap dengan stiker ketawa.

Menurut penelitian Harvard University, otak kita kecanduan dopamin dari notifikasi. Setiap bunyi “ting!” itu seperti dikasih permen kecil oleh semesta. Masalahnya, otak tidak bisa membedakan mana yang lebih penting: pesan dari anak atau promo flash sale. Jadilah kita hidup di era di mana anak harus bersaing dengan diskon 11.11 untuk mendapatkan perhatian ayahnya sendiri.

Tragedi Itu Tidak Datang Tiba-Tiba

Kasus anak membunuh ayah bukan seperti mie instan yang matang dalam 3 menit. Ini lebih seperti nasi yang lupa dimasak, lalu tiba-tiba semua orang lapar dan panik. Dalam teori Erik Erikson, seorang anak butuh pengakuan untuk membangun identitas. Kalau tidak dapat, dia seperti akun media sosial tanpa followers: eksis, tapi merasa tidak terlihat. “Ayah tidak mengakui saya” mungkin terdengar sederhana. Tapi bagi anak yang lainnya itu bisa juga berarti: Tidak pernah didengar. Tidak pernah dipuji. Selalu dibandingkan.  Atau lebih sering diajak bicara oleh algoritma daripada oleh manusia.

Dan ketika emosi menumpuk tanpa ventilasi, ia tidak hilang. Ia hanya menunggu momen yang salah.

Sekarang bayangkan ini. Bagaimana kalau kantor pemerintah dan swasta punya ruang ramah anak? Bukan sekadar ruangan formal dengan satu boneka berdebu, tapi ruang hidup: ada buku cerita, ada karpet empuk, ada warna-warni yang tidak membuat stres seperti Excel.

Seorang ASN bisa membawa anaknya sesekali. Seorang karyawan bisa bekerja sambil sesekali melihat anaknya menggambar matahari dengan senyum yang terlalu besar. Produktivitas mungkin turun sedikit. Tapi kemanusiaan naik. Dan di sana ada ayah.***

**Penulis adalah pengurus Konsorsium Penggiat dan Komunitas Ayah Teladan Indonesia (Kompak tenan) Bidang Media dan Informasi, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.

Topik terkait
ayah Bulukumba Kompak Tenan