Ayah, ‘Bentar ya’, dan Tragedi yang Terlambat Disadari
Satu berita, satu tamparan: hubungan ayah dan anak retak diam-diam. Kita sibuk scroll, tapi lupa benar-benar hadir.
JALURDUA Di layar ponsel, berita itu muncul seperti tamparan yang datang tanpa aba-aba—jenis tamparan yang tidak membuat pipi merah, tapi membuat pikiran diam beberapa detik. Seorang anak membunuh ayahnya sendiri. Alasannya terdengar seperti kalimat yang biasa kita dengar di rumah, hanya saja kali ini berakhir tragis: merasa tidak diakui. Lalu seperti biasa, setelah beberapa detik terdiam, kita melakukan ritual paling sakral abad ini: scroll.
Thumbnail di konten-konten berita itu seperti poster film yang terlalu jujur. Ada wajah aparat, ada judul besar, ada emosi yang dikemas seperti diskon akhir tahun. Tragedi keluarga berubah jadi konten. Kalau zaman dulu orang nangis di pelukan keluarga, sekarang nangisnya kemungkinan besar juga diiringi notifikasi.
Dalam Analects, Confucius bilang bahwa keluarga adalah fondasi negara. Kalau keluarga harmonis, negara ikut stabil. Kalau keluarga kacau… ya, kita lihat sendiri timeline medsos. Dulu, ayah itu seperti WiFi utama di rumah. Semua bergantung padanya. Tanpa dia, sinyal kehidupan putus. Lalu datanglah Sigmund Freud yang bilang, “Tunggu dulu, hubungan anak dan ayah itu tidak sesederhana itu.”
Ada konflik, ada kecemburuan, ada drama yang bahkan lebih rumit dari sinetron jam prime time. Sekarang? Ayah masih ada. Tapi seringkali berubah status jadi “typing…” yang tidak pernah terkirim.
Ketika Gadget Lebih Menarik dari Genetika
- Mariorennu United Siap All Out Lawan Mentari FC
- NasDem Bulukumba Protes Pemberitaan Tak Berimbang
- Penyelamatan Penyu Lekang Bulukumba: Kembali ke Laut Lepas
- Kawal Audit Aset, Sekdis Kominfo Bulukumba terjun langsung Cek Fisik Armada
- Bapenda Sulsel Tertibkan Pajak Kendaraan di Bulukumba