Ayah, ‘Bentar ya’, dan Tragedi yang Terlambat Disadari

Satu berita, satu tamparan: hubungan ayah dan anak retak diam-diam. Kita sibuk scroll, tapi lupa benar-benar hadir.

Ayah, ‘Bentar ya’, dan Tragedi yang Terlambat Disadari
Seorang anak menunggu di hadapan sepiring makan yang mulai dingin, sementara di sampingnya sang ayah tenggelam dalam layar ponsel—di antara notifikasi dan kata “bentar ya”, jarak yang tak terlihat perlahan tumbuh menjadi jurang. (AI Generated by DALL-E)
Bacakan Artikel
Alfian Nawawi

Alfian Nawawi, S.I.Kom., seorang eks penyiar radio di Bulukumba yang pernah juga "tersesat" jadi pelukis surealis dan kartunis. Belakangan kadang jadi peneliti dan pemateri budaya, sastra, dan jurnalistik. Esais dan kolumnis di sejumlah media. Cerpenis, penyair, penulis buku, editor, dan penggembira gerakan literasi ini juga tergolong pencandu kopi kelas menengah.

Mari kita jujur sebentar. Kalau anak memanggil: “Ayah…”

Responnya: “Bentar ya…”

5 menit, 10 meni, 30 menit.Akhirnya: “Kenapa tadi?”

Padahal notifikasi grup WhatsApp RT langsung dibalas dalam 3 detik, lengkap dengan stiker ketawa.

Menurut penelitian Harvard University, otak kita kecanduan dopamin dari notifikasi. Setiap bunyi “ting!” itu seperti dikasih permen kecil oleh semesta. Masalahnya, otak tidak bisa membedakan mana yang lebih penting: pesan dari anak atau promo flash sale. Jadilah kita hidup di era di mana anak harus bersaing dengan diskon 11.11 untuk mendapatkan perhatian ayahnya sendiri.

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: