Ayah, ‘Bentar ya’, dan Tragedi yang Terlambat Disadari

Satu berita, satu tamparan: hubungan ayah dan anak retak diam-diam. Kita sibuk scroll, tapi lupa benar-benar hadir.

Ayah, ‘Bentar ya’, dan Tragedi yang Terlambat Disadari
Seorang anak menunggu di hadapan sepiring makan yang mulai dingin, sementara di sampingnya sang ayah tenggelam dalam layar ponsel—di antara notifikasi dan kata “bentar ya”, jarak yang tak terlihat perlahan tumbuh menjadi jurang. (AI Generated by DALL-E)
Bacakan Artikel
Alfian Nawawi

Alfian Nawawi, S.I.Kom., seorang eks penyiar radio di Bulukumba yang pernah juga "tersesat" jadi pelukis surealis dan kartunis. Belakangan kadang jadi peneliti dan pemateri budaya, sastra, dan jurnalistik. Esais dan kolumnis di sejumlah media. Cerpenis, penyair, penulis buku, editor, dan penggembira gerakan literasi ini juga tergolong pencandu kopi kelas menengah.

Tragedi Itu Tidak Datang Tiba-Tiba

Kasus anak membunuh ayah bukan seperti mie instan yang matang dalam 3 menit. Ini lebih seperti nasi yang lupa dimasak, lalu tiba-tiba semua orang lapar dan panik. Dalam teori Erik Erikson, seorang anak butuh pengakuan untuk membangun identitas. Kalau tidak dapat, dia seperti akun media sosial tanpa followers: eksis, tapi merasa tidak terlihat. “Ayah tidak mengakui saya” mungkin terdengar sederhana. Tapi bagi anak yang lainnya itu bisa juga berarti: Tidak pernah didengar. Tidak pernah dipuji. Selalu dibandingkan.  Atau lebih sering diajak bicara oleh algoritma daripada oleh manusia.

Dan ketika emosi menumpuk tanpa ventilasi, ia tidak hilang. Ia hanya menunggu momen yang salah.

Sekarang bayangkan ini. Bagaimana kalau kantor pemerintah dan swasta punya ruang ramah anak? Bukan sekadar ruangan formal dengan satu boneka berdebu, tapi ruang hidup: ada buku cerita, ada karpet empuk, ada warna-warni yang tidak membuat stres seperti Excel.

Seorang ASN bisa membawa anaknya sesekali. Seorang karyawan bisa bekerja sambil sesekali melihat anaknya menggambar matahari dengan senyum yang terlalu besar. Produktivitas mungkin turun sedikit. Tapi kemanusiaan naik. Dan di sana ada ayah.***

Lanjut ke Halaman 4
Pilih Halaman: