Iran yang Terlalu Baik atau Indonesia yang Terlalu Tidak Tahu Diri?
Di tengah bayang-bayang perang dan luka diplomatik yang belum sembuh, Iran justru memberi jalan bagi kapal Indonesia di Selat Hormuz.
JALURDUA Di Selat Hormuz, laut tidak hanya asin—ia juga tampaknya punya rasa humor yang cukup gelap. Bayangkan: di satu sisi, ada tanker raksasa yang isinya bukan rahasia negara, bukan juga naskah film, melainkan sesuatu yang jauh lebih sensitif bagi peradaban modern: minyak.
Di sisi lain, ada negara-negara yang berbicara tentang stabilitas, keamanan, dan “kepentingan bersama”, sambil diam-diam menghitung siapa yang terakhir kali tersinggung, siapa yang masih ngambek, dan siapa yang sebaiknya diajak bicara dengan nada lebih sopan.
Geopolitik, jika dilihat dari jauh, terlihat seperti papan catur. Tapi jika didekati, ia lebih mirip ruang tunggu: semua orang duduk, saling melirik, pura-pura tidak saling menilai, sambil berharap giliran mereka dipanggil tanpa insiden. Lalu masuklah Iran—yang, dalam narasi global, sering diposisikan sebagai karakter yang selalu “tegang”. Namun di momen tertentu, karakter ini justru melakukan hal yang tidak tertulis dalam ekspektasi: membuka jalan. Tentu saja, jangan buru-buru terharu.
Dalam politik internasional, tindakan baik sering kali bukan karena semua orang tiba-tiba menjadi baik hati, melainkan karena semua orang sedang berhitung dengan kalkulator yang baterainya hampir habis. Namun tetap saja, ada sesuatu yang menggelitik di sini. Kapal Indonesia datang membawa muatan yang sangat “tidak dramatis” tapi sangat menentukan: energi. Tidak ada bendera kemenangan, tidak ada musik latar, tidak ada adegan slow motion.
Hanya mesin, logistik, dan jadwal yang kalau terlambat sedikit saja bisa membuat banyak orang tiba-tiba menjadi ahli keluhan di pom bensin. Dan Iran—yang baru saja keluar dari situasi yang, secara halus, bisa disebut “tidak ideal”—memilih untuk tidak menambahkan satu masalah lagi ke daftar masalah yang sudah panjang seperti kuitansi belanja akhir bulan. Alih-alih berkata, “ini saatnya membalas dendam dengan gaya sinematik,” mereka justru berkata (dengan versi diplomatik yang sangat sopan): silakan lewat.
- Mariorennu United Siap All Out Lawan Mentari FC
- NasDem Bulukumba Protes Pemberitaan Tak Berimbang
- Penyelamatan Penyu Lekang Bulukumba: Kembali ke Laut Lepas
- Kawal Audit Aset, Sekdis Kominfo Bulukumba terjun langsung Cek Fisik Armada
- Bapenda Sulsel Tertibkan Pajak Kendaraan di Bulukumba