Iran yang Terlalu Baik atau Indonesia yang Terlalu Tidak Tahu Diri?
Di tengah bayang-bayang perang dan luka diplomatik yang belum sembuh, Iran justru memberi jalan bagi kapal Indonesia di Selat Hormuz.
Di titik ini, dunia geopolitik seperti kehilangan satu adegan klimaks yang sudah dipersiapkan penonton. Kita sudah siap dengan konflik, dengan eskalasi, dengan retorika yang semakin keras. Tapi yang terjadi malah sesuatu yang anti-klimaks, nyaris membosankan—dan justru karena itu terasa aneh. Seperti seseorang yang sudah siap bertengkar besar… lalu lawannya bilang, “ya sudah, tidak usah.”
Tidak ada yang lebih membingungkan daripada kebaikan yang datang tanpa drama. Apalagi jika kebaikan itu muncul di tempat yang secara historis tidak dikenal sebagai lokasi rekonsiliasi spontan. Hormuz bukan kafe tempat orang saling minta maaf sambil minum kopi. Ia adalah jalur sempit yang dilalui kepentingan besar, tempat satu keputusan kecil bisa terasa seperti keputusan hidup-mati—atau setidaknya, hidup-macet bagi pasokan energi.
Di sisi lain, Indonesia juga tampil dalam perannya yang khas: mencoba berada di banyak percakapan sekaligus, dengan posisi yang secara teori “netral”, tetapi dalam praktiknya sering terlihat seperti ikut duduk di beberapa kursi yang jaraknya agak berjauhan. BoP, kerja sama internasional, keseimbangan diplomatik—semuanya terdengar rapi di dokumen.
Namun di lapangan, hubungan antarnegara kadang lebih mirip grup chat besar: semua orang membaca, sebagian merespons, beberapa diam, dan satu-dua pihak masih mengingat pesan lama yang belum dibalas sejak tahun lalu. Dan Iran, tampaknya, termasuk yang masih menyimpan “arsip percakapan”. Jadi ketika kapal Indonesia datang, keputusan untuk memberi izin bukan sekadar urusan teknis navigasi. Itu seperti seseorang yang, setelah lama tidak dihubungi dengan cara yang menyenangkan, tiba-tiba memilih untuk tetap membuka pintu. Bukan karena lupa. Justru karena ingat.
Humornya di sini agak absurd: di dunia yang sering mengagungkan kekuatan, tindakan yang paling “berkuasa” justru bisa berupa tidak melakukan apa-apa—tidak menahan, tidak menghalangi, tidak memperpanjang masalah. Seolah-olah geopolitik sesekali berkata: “tenang, hari ini kita tidak usah dramatis.” Tentu saja, jangan terlalu cepat romantis.
- Jelang 70 Tahun Diplomasi: Indonesia-Jepang Kian Solid
- WNI di Malaysia Diimbau Ikut Repatriasi Migran Sebelum Berakhir
- Mendes Yandri ke Bupati Gowa: Desa Wisata Jangan Jadi Penonton
- Desa Tematik Didorong, Bulukumba Siap Jadi Percontohan
- Mariorennu United Siap All Out Lawan Mentari FC