Iran yang Terlalu Baik atau Indonesia yang Terlalu Tidak Tahu Diri?

Di tengah bayang-bayang perang dan luka diplomatik yang belum sembuh, Iran justru memberi jalan bagi kapal Indonesia di Selat Hormuz.

Iran yang Terlalu Baik atau Indonesia yang Terlalu Tidak Tahu Diri?
llustrasi oleh H. Helian.
Bacakan Artikel
Alfian Nawawi

Alfian Nawawi, S.I.Kom., seorang eks penyiar radio di Bulukumba yang pernah juga "tersesat" jadi pelukis surealis dan kartunis. Belakangan kadang jadi peneliti dan pemateri budaya, sastra, dan jurnalistik. Esais dan kolumnis di sejumlah media. Cerpenis, penyair, penulis buku, editor, dan penggembira gerakan literasi ini juga tergolong pencandu kopi kelas menengah.

Dalam hubungan internasional, tidak ada kebaikan yang benar-benar gratis, dan tidak ada keputusan yang benar-benar tanpa perhitungan. Tapi tetap saja, ada momen-momen ketika logika dan pengalaman masa lalu bertemu, lalu menghasilkan sesuatu yang terlihat sederhana di permukaan, namun rumit di dalam. Dan di situlah letak satire paling halus dari semuanya: Bahwa di antara ribuan analisis strategi, konferensi keamanan, dan pernyataan resmi yang penuh istilah elegan, terkadang dunia bergerak bukan karena skenario besar yang sempurna—melainkan karena satu keputusan kecil yang, jika diterjemahkan ke bahasa sehari-hari, terdengar seperti: “Ya sudah, lewat saja.” Mungkin memang tidak heroik. Tapi justru karena itu, ia terasa sangat manusiawi.***

Pilih Halaman: