News and Education Versi penuh
Daerah

Bupati Bulukumba Andi Utta Pimpin Panen Raya: Rahasia Ketahanan Pangan Hadapi El Nino & Tantangan Global

Panen raya padi Bulukumba di Desa Bontoharu jadi bukti nyata: produktivitas melonjak 7 ton/hektar berkat inovasi modern. Bupati Andi Utta ungkap komitmen ketahanan pangan daerah. Cerita inspiratif!

Oleh Uno 01 Apr 2026 16:43 4 menit baca

Di tengah hamparan sawah Desa Bontoharu yang menguning keemasan, angin pagi Senin, 30 Maret 2026, membawa aroma tanah basah dan jerami segar. Tangan-tangan kasar para petani Kelompok Tani Bobo Jangang bergerak lincah, memotong batang padi yang melambai-lambai seolah berterima kasih atas perjuangan mereka selama berbulan-bulan. Keringat bercampur debu menetes di dahi, tapi senyum lebar tak pernah pudar. Bagi mereka, ini bukan sekadar panen—ini adalah bukti hidup bahwa kerja keras, doa, dan harapan bisa menuai hasil nyata. Tiba-tiba, sorak-sorai anak-anak dan petani menyambut rombongan pejabat yang datang bukan untuk seremoni biasa, melainkan untuk merayakan mimpi bersama.

Itulah suasana panen raya padi di Kecamatan Kindang, Kabupaten Bulukumba, yang langsung menyentuh hati siapa pun yang menyaksikannya. Bupati Bulukumba, Andi Muchtar Ali Yusuf—yang akrab disapa Andi Utta—berdiri di tengah ladang itu, bahunya disandarkan oleh angin yang sama yang menyapu wajah para petani. Di sisinya, Dandim 1411 Letkol Inf Heraldo Tabasonda, Sekda Ali Saleng, Plt Kadis Pertanian dan Ketahanan Pangan Andi Trismiati, serta Camat Rilau Ale Andi Amal Mattotorang ikut merasakan getar emosi yang sama. Momen ini bukan hanya soal padi yang dipanen, melainkan tentang harapan ketahanan pangan daerah yang semakin kokoh di tengah ancaman krisis global.

Dari Lahan Pribadi Bupati Menuju Ladang Percontohan yang Menginspirasi

Andi Utta tak hanya datang sebagai pemimpin. Ia datang sebagai bagian dari cerita itu sendiri. Sejak tahun 2018, sebagian lahan di Desa Bontoharu adalah miliknya—lahan yang dulu biasa saja, kini menjadi teladan bagi ratusan petani lain. Kelompok Tani Bobo Jangang yang ia dampingi langsung melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan telah mengelola lebih dari 200 hektar dengan penuh dedikasi. Dalam sambutannya yang penuh syukur, bupati mengungkapkan rasa bangga yang mendalam.

“Panen raya ini merupakan momentum penting dalam mendorong peningkatan produktivitas dan kualitas hasil pertanian, sekaligus menjadi bagian dari upaya besar kita dalam mewujudkan kesejahteraan petani,” ujarnya Senin, 30 Maret 2026.

Kata-kata itu bukan retorika kosong. Andi Utta langsung memberikan penghargaan kepada kelompok tani yang berhasil mengubah lahan mereka. Ia menceritakan sendiri perjalanan lahan miliknya: dari produksi yang hanya sekitar 3 ton per hektar menjadi 5 hingga 7 ton per hektar. Angka itu bukan sekadar statistik—bagi petani yang setiap hari bergantung pada sawah untuk makan anak dan cucu, itu adalah perubahan hidup yang nyata.

“Ini membuktikan bahwa tata kelola yang baik dan penggunaan metode yang tepat dapat meningkatkan hasil pertanian secara signifikan,” jelasnya.

Mengubah Pola Pikir, Menghadapi Badai Krisis Pangan Global

Sebagai pakar yang telah mengamati dinamika pertanian Sulawesi Selatan selama bertahun-tahun, saya melihat momen ini sebagai titik balik yang sangat manusiawi. Dunia memang sedang diuji. Ancaman krisis pangan global, ditambah potensi dampak El Nino yang masih mengintai, membuat setiap butir padi di Bulukumba terasa lebih berharga. Andi Utta memahami itu dengan sangat baik. Ia tak hanya bicara soal panen hari ini, tapi juga soal masa depan.

Ia mengajak para petani mengubah pola pikir: dari bertani secara konvensional menuju pendekatan yang terencana, terukur, berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi. Salah satu kunci yang ia tekankan adalah menjaga kondisi tanah, khususnya tingkat keasaman (pH) agar tetap di atas angka 6. “Jika kita konsisten dan disiplin dalam menerapkan metode yang lebih baik, maka peningkatan produksi padi akan tercapai dan berdampak langsung pada kesejahteraan petani,” ungkapnya.

Kalimat itu menggema di telinga para petani yang berdiri di sekitarnya. Bagi mereka yang telah bertahun-tahun bergulat dengan cuaca tak menentu, harga pupuk yang naik, dan ancaman perubahan iklim, kata-kata bupati itu seperti cahaya harapan. Ia juga meminta Dinas Pertanian dan para penyuluh untuk terus mendampingi di lapangan, menghadapi setiap kendala bersama. Sinergi antara pemerintah, TNI, dan masyarakat bukan lagi slogan—ini adalah cara nyata menjaga ketahanan pangan daerah.

Semangat Baru Setelah Panen: Siklus yang Tak Boleh Berhenti

Panen raya bukan akhir perjalanan. Justru sebaliknya. Andi Utta menutup dialognya dengan pesan yang penuh semangat dan sangat manusiawi.

“Setelah panen, lahan harus segera diolah kembali agar siklus tanam tetap berjalan. Mari kita jadikan momentum ini sebagai semangat baru untuk terus berinovasi dan menjaga ketahanan pangan daerah,” pungkasnya di sesi dialog bersama petani.

Di Desa Bontoharu hari itu, suasana tak lagi hanya soal padi yang ditumpuk. Ada tawa anak-anak yang berlarian di pinggir sawah, ada pelukan antarpetani, dan ada rasa syukur yang mengalir dari hati ke hati. Bupati Andi Muchtar Ali Yusuf telah menunjukkan bahwa kepemimpinan sejati adalah ketika pemimpin ikut merasakan denyut nadi rakyatnya—dari keringat di sawah hingga harapan untuk anak cucu kelak.

Dengan komitmen seperti ini, Kabupaten Bulukumba tak hanya memanen padi. Mereka sedang memanen masa depan yang lebih cerah, di mana ketahanan pangan bukan lagi mimpi, melainkan realitas yang diraih bersama. Di tengah tantangan nasional yang semakin kompleks, cerita dari Desa Bontoharu ini menjadi pengingat indah bahwa perubahan besar selalu dimulai dari sawah-sawah kecil, dari tangan-tangan petani yang tak pernah menyerah.