News and Education Versi penuh
Daerah

BPS Canangkan Desa Cantik Rilau Ale, Ubah Desa Jadi Subjek Data

BPS dan Pemkab Bulukumba luncurkan Program Desa Cantik di Rilau Ale untuk tingkatkan literasi data desa demi pembangunan tepat sasaran dan akuntabilitas anggaran.

Oleh Uno 16 Apr 2026 18:38 3 menit baca

BULUKUMBA – Riuh tepuk tangan pecah di aula Desa Bonto Matene, Kamis, 16 April 2026. Di sana, Badan Pusat Statistik (BPS) bersama Pemerintah Kabupaten Bulukumba resmi memancangkan tonggak baru: Program Desa Cinta Statistik (Cantik). Bukan sekadar seremoni, langkah ini adalah upaya sistematis untuk membedah data dari unit terkecil pemerintahan agar pembangunan tak lagi meraba-raba dalam gelap.

Kecamatan Rilau Ale menjadi panggung utama, dengan tiga desa. Bonto Matene, Tanah Harapan, dan desa Topanda sebagai lokus pembinaan. Inisiatif strategis ini lahir dari kegelisahan panjang tentang seringnya bantuan sosial atau anggaran pembangunan meleset dari target akibat karut-marutnya pendataan di tingkat akar rumput.

Mengubah Desa dari Objek Menjadi Produsen Data

Kepala BPS Kabupaten Bulukumba, Herbudiman Suwandi, berdiri di depan forum dengan nada bicara yang visioner. Baginya, sudah saatnya desa berhenti menjadi objek yang hanya disodori formulir oleh petugas pusat. Desa harus berdaulat atas datanya sendiri.

"Bayangkan jika hari ini kita menanam benih kesadaran data di tiga desa ini. Suatu hari nanti, kita akan memanen kebijakan yang benar-benar tepat guna," ujar Herbudiman. Ia menegaskan bahwa desa adalah produsen data dasar paling utama di republik ini.

Herbudiman memberikan perspektif menarik: desa yang memiliki basis data statistik yang kuat, mulai dari monografi hingga publikasi digital, punya peluang jauh lebih besar untuk menyerap alokasi anggaran dan bantuan pusat. Data, menurutnya, adalah "paspor" untuk mendapatkan kepercayaan anggaran.

Sinergi Walidata: Membangun Fondasi RPJMDes


Di sisi lain, Andi Uke Indah Permatasari, Kepala Dinas Komunikasi Informatika dan Persandian Bulukumba, menekankan pentingnya ekosistem data yang terpadu. Sebagai walidata daerah, ia melihat kolaborasi antara BPS, Kominfo, dan Dinas PMD sebagai "segitiga emas" pembangunan.

"Data yang akurat dan mutakhir adalah fondasi utama. Tanpa itu, kebijakan hanya akan menjadi spekulasi," tegas Andi Uke dalam sesi diskusi yang hangat. Ia ingin memastikan bahwa desa bukan lagi sekadar pelapor administratif, melainkan aktor utama pembangunan.

Senada dengan itu, Fadli Nadjib yang mewakili Dinas PMD, menyoroti aspek teknis pada penyusunan RPJMDes dan RKPDes. Menurutnya, banyak desa terjebak dalam rutinitas laporan formalitas. Dengan literasi statistik yang mumpuni, aparat desa diharapkan bisa memetakan masalah secara lebih tajam dan objektif.

Harapan dari Bonto Matene: Menuju Desa Percontohan


Sebagai tuan rumah, Kepala Desa Bonto Matene, Syahiruddin, tidak menyembunyikan rasa bangganya. Ia menyadari beban sekaligus peluang besar yang ada di pundak desanya. Komitmen untuk mencetak aparatur desa yang cakap mengelola data menjadi prioritasnya dalam waktu dekat.

Camat Rilau Ale, Andi Amaluddin, pun menggantungkan harapan besar agar sinergi ini melahirkan kemandirian. 

"Kami ingin ketiga desa ini menjadi role model. Bukan hanya untuk Rilau Ale, tapi untuk seluruh desa di Kabupaten Bulukumba," tuturnya optimis.

Program Desa Cantik di Bulukumba kini bukan lagi sekadar akronim yang manis didengar. Ini adalah langkah konkret menuju transparansi dan akuntabilitas. Jika program ini berhasil, maka drama bantuan salah sasaran atau pembangunan infrastruktur yang sia-sia di pelosok Sulawesi Selatan diharapkan segera menjadi cerita masa lalu.**

Topik terkait
Bulukumba BPS Rilau Ale