News and Education Versi penuh
EBis

Harga Pangan di Bulukumba: Minyak Goreng Langka Jelang Idul Adha

Wakil Bupati Bulukumba soroti lonjakan harga pangan di Bulukumba, khususnya minyak goreng jelang Idul Adha. Bulog didesak segera intervensi pasar.

Oleh Uno 21 May 2026 21:20 4 menit baca

Jalurdua.com BULUKUMBA — Langkah kaki Wakil Bupati Bulukumba, Andi Edy Manaf, mendadak terhenti di salah satu lapak pedagang Pasar Tradisional Cekkeng, Kamis (21/5/2026) pagi. Di depannya, deretan botol minyak goreng dipajang dengan label harga yang melambung, kontras dengan laporan stabilitas di atas kertas. Menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Adha 1447 Hijriah, komoditas krusial ini justru mengalami kelangkaan pasokan yang memicu lonjakan harga di tingkat pedagang pasar.

Pemandangan ini menjadi antiklimaks dari Rapat Koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) yang digelar beberapa jam sebelumnya di Ruang Rapat Sekretaris Daerah. Dalam rapat tersebut, merujuk data High Level Meeting (HLM) TPID Sulawesi Selatan, Indeks Perkembangan Harga (IPH) dan tren harga pangan di Bulukumba diklaim aman dan berada dalam jangkauan daya beli masyarakat.

Namun, realitas di lantai pasar tradisional berbicara lain untuk satu komoditas spesifik: minyak goreng.

Anomali Stok di Lapak Tradisional

Aroma khas pasar tradisional, riuh tawar-menawar, dan tumpukan hasil bumi menyambut rombongan Forkopimda Bulukumba saat menyusuri lorong Pasar Cekkeng. Ikut dalam pemantauan ini Wakil Ketua DPRD Fahidin HDK, Kepala Kejari Erwin Juma, Sekda Muh. Ali Saleng, serta Kepala BPS Bulukumba Herbudiman Suandi.

Secara umum, sebagian besar komoditas memang menunjukkan tren menggembirakan. Edy Manaf mencatat sejumlah bahan pokok utama justru mengalami penurunan harga yang signifikan.

“Secara umum harga masih dalam kondisi stabil dan terjangkau. Ada beberapa komoditas yang sedikit naik, namun ada juga yang turun seperti cabai merah, cabai rawit, beras, telur, ayam potong, ikan kering, dan minyak goreng,” ungkap Edy Manaf di tengah riuhnya suasana pasar.

Meski sempat menyebut minyak goreng secara umum, Edy langsung memberikan catatan tebal dan perhatian khusus ketika berdialog langsung dengan pedagang eceran. Di tingkat lapak terkecil, pasokan minyak goreng bersubsidi dan kemasan justru tersendat. Stok yang terbatas membuat hukum pasar berlaku: barang langka, harga naik.

Suasana sempat mencair ketika Wakil Bupati membeli sejumlah dagangan lokal seperti gogos, sayuran, dan ikan, lalu membagikannya kepada warga. Namun, ganjalan di sektor distribusi minyak goreng ini tetap menjadi catatan merah yang dibawa rombongan.     

Serbuan Warga di Pasar Tua

Peta masalah semakin benderang saat rombongan bergeser ke kawasan Taman Kota/Pasar Tua, lokasi digelarnya Gerakan Pangan Murah (GPM). Di sini, kontras itu kembali terlihat nyata. Warga tampak menyemut dan mengantre panjang di depan tenant Perum Bulog. Komoditas yang mereka buru hanya satu: minyak goreng dengan harga HET (Harga Eceran Tertinggi).

Antusiasme warga yang luar biasa ini menjadi indikator valid bahwa ada sumbatan distribusi di pasar harian. Masyarakat terpaksa mencari alternatif ke pasar murah karena stok di pedagang tradisional tidak mampu memenuhi permintaan menjelang Lebaran Kurban. Kelancaran distribusi yang awalnya diprediksi aman oleh Dinas Perdagangan dan Perindustrian serta Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, kini menghadapi ujian riil di lapangan.

Melihat antrean yang mengular, Edy Manaf tidak menyembunyikan kegusarannya terhadap strategi distribusi logistik yang berjalan.

Desakan Intervensi Pasar untuk Bulog

Pemerintah Kabupaten Bulukumba langsung mengambil sikap tegas di lokasi GPM. Wakil Bupati meminta Bulog tidak hanya menjadi "pemadam kebakaran" lewat skema pasar murah temporer, melainkan aktif melakukan intervensi langsung ke ekosistem pasar tradisional guna menyeimbangkan kembali harga pangan di Bulukumba.

“Harusnya stok Bulog didistribusikan ke pasar-pasar sehingga stok dan distribusi tetap terjaga,” tegas Edy Manaf.

Menurutnya, menumpuk stok atau memusatkannya hanya pada satu titik bazar tidak akan menyelesaikan akar masalah kelangkaan di tingkat pedagang retail. Jika pasokan ke Pasar Cekkeng dan pasar tradisional lainnya tidak segera diguyur, gejolak harga berpotensi meluas seiring meningkatnya aktivitas dapur warga menjelang Idul Adha.

Langkah antisipatif kini bertumpu pada kecepatan TPID Kabupaten Bulukumba dan Bulog dalam mengeksekusi instruksi tersebut. Ke depan, pemantauan ketat akan terus dilakukan setiap hari.  pengendalian inflasi di Bulukumba untuk pekan-pekan mendatang akan sangat bergantung pada seberapa cepat pasokan minyak goreng dialirkan kembali ke urat nadi perdagangan tradisional, demi memastikan Idul Adha berjalan tanpa bayang-bayang kelangkaan pangan.***

Topik terkait
Harga pangan Bulukumba Bulog Bulukumba TPID Bulukumba