News and Education Versi penuh
Opini

Iran yang Terlalu Baik atau Indonesia yang Terlalu Tidak Tahu Diri?

Di tengah bayang-bayang perang dan luka diplomatik yang belum sembuh, Iran justru memberi jalan bagi kapal Indonesia di Selat Hormuz.

Oleh Alfian Nawawi 03 Apr 2026 13:25 4 menit baca

Di Selat Hormuz, laut tidak hanya asin—ia juga tampaknya punya rasa humor yang cukup gelap. Bayangkan: di satu sisi, ada tanker raksasa yang isinya bukan rahasia negara, bukan juga naskah film, melainkan sesuatu yang jauh lebih sensitif bagi peradaban modern: minyak.

Di sisi lain, ada negara-negara yang berbicara tentang stabilitas, keamanan, dan “kepentingan bersama”, sambil diam-diam menghitung siapa yang terakhir kali tersinggung, siapa yang masih ngambek, dan siapa yang sebaiknya diajak bicara dengan nada lebih sopan.

Geopolitik, jika dilihat dari jauh, terlihat seperti papan catur. Tapi jika didekati, ia lebih mirip ruang tunggu: semua orang duduk, saling melirik, pura-pura tidak saling menilai, sambil berharap giliran mereka dipanggil tanpa insiden. Lalu masuklah Iran—yang, dalam narasi global, sering diposisikan sebagai karakter yang selalu “tegang”. Namun di momen tertentu, karakter ini justru melakukan hal yang tidak tertulis dalam ekspektasi: membuka jalan. Tentu saja, jangan buru-buru terharu.

Dalam politik internasional, tindakan baik sering kali bukan karena semua orang tiba-tiba menjadi baik hati, melainkan karena semua orang sedang berhitung dengan kalkulator yang baterainya hampir habis. Namun tetap saja, ada sesuatu yang menggelitik di sini. Kapal Indonesia datang membawa muatan yang sangat “tidak dramatis” tapi sangat menentukan: energi. Tidak ada bendera kemenangan, tidak ada musik latar, tidak ada adegan slow motion.

Hanya mesin, logistik, dan jadwal yang kalau terlambat sedikit saja bisa membuat banyak orang tiba-tiba menjadi ahli keluhan di pom bensin. Dan Iran—yang baru saja keluar dari situasi yang, secara halus, bisa disebut “tidak ideal”—memilih untuk tidak menambahkan satu masalah lagi ke daftar masalah yang sudah panjang seperti kuitansi belanja akhir bulan. Alih-alih berkata, “ini saatnya membalas dendam dengan gaya sinematik,” mereka justru berkata (dengan versi diplomatik yang sangat sopan): silakan lewat.

Di titik ini, dunia geopolitik seperti kehilangan satu adegan klimaks yang sudah dipersiapkan penonton. Kita sudah siap dengan konflik, dengan eskalasi, dengan retorika yang semakin keras. Tapi yang terjadi malah sesuatu yang anti-klimaks, nyaris membosankan—dan justru karena itu terasa aneh. Seperti seseorang yang sudah siap bertengkar besar… lalu lawannya bilang, “ya sudah, tidak usah.” 

Tidak ada yang lebih membingungkan daripada kebaikan yang datang tanpa drama. Apalagi jika kebaikan itu muncul di tempat yang secara historis tidak dikenal sebagai lokasi rekonsiliasi spontan. Hormuz bukan kafe tempat orang saling minta maaf sambil minum kopi. Ia adalah jalur sempit yang dilalui kepentingan besar, tempat satu keputusan kecil bisa terasa seperti keputusan hidup-mati—atau setidaknya, hidup-macet bagi pasokan energi.

Di sisi lain, Indonesia juga tampil dalam perannya yang khas: mencoba berada di banyak percakapan sekaligus, dengan posisi yang secara teori “netral”, tetapi dalam praktiknya sering terlihat seperti ikut duduk di beberapa kursi yang jaraknya agak berjauhan. BoP, kerja sama internasional, keseimbangan diplomatik—semuanya terdengar rapi di dokumen. 

Namun di lapangan, hubungan antarnegara kadang lebih mirip grup chat besar: semua orang membaca, sebagian merespons, beberapa diam, dan satu-dua pihak masih mengingat pesan lama yang belum dibalas sejak tahun lalu. Dan Iran, tampaknya, termasuk yang masih menyimpan “arsip percakapan”. Jadi ketika kapal Indonesia datang, keputusan untuk memberi izin bukan sekadar urusan teknis navigasi. Itu seperti seseorang yang, setelah lama tidak dihubungi dengan cara yang menyenangkan, tiba-tiba memilih untuk tetap membuka pintu. Bukan karena lupa. Justru karena ingat.

Humornya di sini agak absurd: di dunia yang sering mengagungkan kekuatan, tindakan yang paling “berkuasa” justru bisa berupa tidak melakukan apa-apa—tidak menahan, tidak menghalangi, tidak memperpanjang masalah. Seolah-olah geopolitik sesekali berkata: “tenang, hari ini kita tidak usah dramatis.” Tentu saja, jangan terlalu cepat romantis.

Dalam hubungan internasional, tidak ada kebaikan yang benar-benar gratis, dan tidak ada keputusan yang benar-benar tanpa perhitungan. Tapi tetap saja, ada momen-momen ketika logika dan pengalaman masa lalu bertemu, lalu menghasilkan sesuatu yang terlihat sederhana di permukaan, namun rumit di dalam. Dan di situlah letak satire paling halus dari semuanya: Bahwa di antara ribuan analisis strategi, konferensi keamanan, dan pernyataan resmi yang penuh istilah elegan, terkadang dunia bergerak bukan karena skenario besar yang sempurna—melainkan karena satu keputusan kecil yang, jika diterjemahkan ke bahasa sehari-hari, terdengar seperti: “Ya sudah, lewat saja.” Mungkin memang tidak heroik. Tapi justru karena itu, ia terasa sangat manusiawi.***

Topik terkait
Iran Indonesia Selat Hormuz