News and Education Versi penuh
Daerah

Gabah Bergerak Keluar Daerah, Penggiling Bulukumba Desak DPRD Gelar RDP

Ketahanan pangan Bulukumba terancam akibat eksodus gabah ke luar daerah. FPPLB desak DPRD segera gelar RDP untuk bendung lonjakan harga beras lokal.

Oleh Uno 28 Apr 2026 21:54 3 menit baca

BULUKUMBA – Deru mesin di gudang penggilingan padi kini mulai melambat, berganti sunyi yang mencemaskan. Di saat fenomena "Godzilla El Nino" memangkas angka rendemen padi, para pengusaha penggilingan lokal di Bulukumba justru harus menghadapi kenyataan pahit: gabah petani "lari" ke luar daerah akibat gempuran pembeli luar yang berani menawar dengan harga di atas rata-rata pasar.

Situasi ini bukan sekadar soal persaingan bisnis, melainkan alarm keras bagi kedaulatan pangan di Bumi Panritalopi. Forum Penggiling Padi Lokal Bulukumba (FPPLB) secara resmi mengeluarkan peringatan serius mengenai ancaman efek domino yang mengintai. Jika aliran gabah ini tidak segera dibendung melalui regulasi yang ketat, warga Bulukumba diprediksi akan kesulitan mendapatkan beras dengan harga terjangkau di rumah sendiri.

Ancaman "Godzilla El Nino" dan Eksodus Bahan Baku


Fenomena iklim ekstrem tidak hanya membuat sawah meranggas, tetapi juga menurunkan kualitas butiran padi. Di tengah kondisi rendemen yang menurun, masifnya pergerakan tengkulak dari luar kota yang menyerap gabah petani secara besar-besaran menciptakan ketimpangan pasokan bahan baku di tingkat lokal.

"Kami melihat ada pergerakan masif pembeli dari luar daerah yang menyerap gabah petani kita dengan harga tinggi. Di satu sisi ini menguntungkan petani sesaat, namun di sisi lain, ini ancaman bagi kedaulatan pangan kita sendiri," tegas Koordinator FPPLB, Abbana, dengan nada penuh kekhawatiran.

Menurutnya, ironi sedang terjadi. Gabah dipanen dari tanah Bulukumba, namun segera diangkut keluar, meninggalkan gudang-gudang penggilingan lokal dalam keadaan kosong. Dampaknya nyata: operasional penggilingan terhenti, dan potensi lonjakan harga beras di pasar-pasar tradisional di Bulukumba pun tinggal menunggu waktu.

DPRD Didesak Gelar RDP Guna Perkuat Satgas Pangan


Meskipun Bupati Bulukumba telah memberikan respons cepat terhadap pernyataan sikap forum, FPPLB menilai perlu adanya langkah hukum yang lebih konkret. Payung kebijakan yang kuat diperlukan untuk memastikan stabilitas stok cadangan pangan daerah tetap terjaga di tengah krisis.

FPPLB mendesak DPRD Kabupaten Bulukumba untuk segera memfasilitasi Rapat Dengar Pendapat (RDP). Forum ini menuntut kehadiran Satgas Pangan, Bulog, Dinas Pertanian, hingga Dinas Perdagangan untuk duduk bersama menyusun strategi pengawasan lapangan.

“DPRD perlu segera memanggil pihak-pihak terkait. Kita butuh pengawasan ketat agar aliran gabah keluar daerah tidak sampai menguras habis cadangan pangan lokal," tambah Abbana. Ia mengingatkan agar lumbung daerah tidak kosong saat puncak kemarau melanda.

Menjaga Nafas Penggilingan Lokal dan Stabilitas Harga


Dampak krisis ini juga dirasakan langsung oleh para pelaku usaha di lapangan. Hj. Nir, salah satu pengusaha penggilingan padi di Bulukumba, mengungkapkan bahwa aktivitas usahanya menurun drastis akibat keterbatasan bahan baku.

Kurangnya pasokan gabah lokal memaksa mesin-mesin penggilingan berhenti berdenyut. Kondisi ini, menurut Hj. Nir, berujung pada potensi inflasi yang akan langsung membebani kantong masyarakat kecil. Koordinasi lintas sektoral pun dianggap mendesak agar Bulog bisa bersaing secara adaptif dalam menyerap gabah lokal untuk cadangan pemerintah.

Harapannya jelas: petani tetap mendapatkan kesejahteraan dari harga gabah yang layak, namun keberlangsungan penggilingan lokal harus tetap terjamin. Dengan pengawasan yang tepat, kedaulatan pangan Bulukumba tidak akan tergadai hanya demi keuntungan sesaat pihak luar.***

Topik terkait
Gabah Bulukumba Harga Beras Bulukumba Ketahanan Pangan