Ketika Cerita Lama Mencari Pembaca Baru

Ketika Cerita Lama Mencari Pembaca Baru
Bacakan Artikel

Namun kekayaan tidak otomatis berarti keberlangsungan. Sebuah cerita bisa tersimpan dalam buku atau arsip, tetapi kehilangan kehidupan jika tidak lagi dituturkan, dibaca, atau ditafsirkan.

Karena itu, persoalannya bukan hanya apakah folklor Sumatera Utara masih ada. Yang lebih penting: apakah ia masih hidup dalam ingatan generasi berikutnya?

Festival Ngobrol Buku mencoba memperpanjang rantai itu melalui sastra. Karya 45 peserta akan diterbitkan dalam tiga antologi berdasarkan kategori peserta, masing-masing direncanakan 100 eksemplar, lalu dibicarakan dalam diskusi sastra pada September 2026. Kegiatan ini didukung Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra.

Ketua Komunitas Ngobrol Buku, Eka Dalanta mengatakan, “Kita berharap festival ini dapat mendorong lahirnya karya-karya cerpen berbasis budaya lokal yang layak dipublikasikan, sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap warisan budaya daerah.”

Persoalan folklor bukan sekadar menyelamatkan cerita lama, melainkan membuatnya tetap hidup di masa kini.

Sebuah cerita bertahan bukan karena bentuk lamanya dibekukan, melainkan karena selalu ada generasi yang merasa perlu menceritakannya kembali.

 

Pilih Halaman: