News and Education Versi penuh
Internasional

Membaca Strategi Rusia, Komandan Marinir Ukraina Minta Bantuan - 'Waktu kami hanya beberapa jam, tolong kami'

Ket gambar : Asap membumbung di pabrik baja Azovstal setelah Rusia melancarkan gempuran - foto : Reuters Jalurdua.com - Jakarta | Seorang komandan marinir di lini pertahanan terakhir Ukraina di Ko...

Oleh herwanto2582@gmail.com 20 Apr 2022 18:55 7 menit baca

Ket gambar : Asap membumbung di pabrik baja Azovstal setelah Rusia melancarkan gempuran - foto : Reuters

Jakarta | Seorang komandan marinir di lini pertahanan terakhir Ukraina di Kota Mariupol yang dikepung tentara Rusia merilis pesan video pada Rabu (20/04) pagi waktu setempat.

Menurutnya, dia dan anak buahnya hanya punya waktu beberapa jam lagi.

Dalam video yang dikirim ke BBC dan media lain, Mayor Serhiy Volyna mengatakan pasukannya tidak akan menyerah.

Namun, dia memohon bantuan internasional untuk 500 serdadu yang terluka danratusan perempuan dan anak-anak yang bersembunyi bersama pasukannya di sebuah pabrik baja di Mariupol.

"Ini adalah alamat terakhir kami di dunia ini. Ini mungkin yang terakhir. Mungkin waktu kami hanya tersisa beberapa hari atau beberapa jam lagi," kata Mayor Volyna.

"Kami berseru kepada para pemimpin dunia untuk membantu kami. Kami mendesak mereka untuk mengadakan upaya evakuasi ke negara ketiga," tambahnya.

Pabrik baja Azovstal, yang luasnya mencapai 10 kilometer persegi, adalah posisi pertahanan terakhir tentara Ukraina di Mariupol.

"Pihak musuh mengerahkan unit-unit yang melebihi jumlah kami puluhan kali, mereka unggul di udara, artileri, pasukan infanteri, mesin-mesin, dan tank-tank," kata Mayor Volyna, komandan Brigade 36 Marinir.

Dia tidak menyebut berapa banyak tentara Ukraina yang tersisa di pabrik itu, namun menurutnya mereka "punya semangat juang yang hebat". Akan tetapi, kondisi mereka yang terluka "sangat buruk".

"Mereka berada di ruang bawah tanah, mereka hanya membusuk di sana," ungkapnya.

Pekan lalu, Presiden Ukraina, Voloymyr Zelensky, mengatakan kepada BBC bahwa dia menyakini sebanyak 20.000 orang boleh jadi tewas di Mariupol akibat gempuran Rusia di kota itu.

Jumlah itu belum termasuk orang-orang yang dibawa ke wilayah Rusia.

Mengapa Mariupol penting bagi Rusia?
Rusia telah mengultimatum tentara Ukraina di Mariupol untuk meletakkan senjata mereka pada Rabu (20/04) pukul 11.00 GMT atau 17.00 WIB.

Peringatan itu diberikan setelah tentara Rusia mengepung sekitar 130.000 warga kota itu selama 50 hari. Akibatnya, warga kesulitan mendapatkan makanan, air bersih, dan obat-obatan, menurut wakil walikota.

Tapi mengapa Mariupol penting bagi Rusia sejak menginvasi Ukraina pada Februari lalu?

Daratan luas: Merebut Mariupol akan membuat Rusia bisa mengendalikan daratan luas di kawasan selatan dan timur Ukraina.

Mengendalikan ekonomi: Mariupol adalah pelabuhan penting bagi Ukraina. Sebelum perang, Pelabuhan itu memainkan peranan kunci dalam ekspor baja dan batubara.

Peluang propaganda: Mariupol adalah basis unit milisi Ukraina bernama Brigade Azov yang terdiri dari sejumlah orang berhaluan ekstrem kanan. Meski jumlah mereka hanya segelintir, menghancurkan mereka bakal menjadi alat propaganda yang efektif bagi Moskow.

Dorongan moril: Merebut Mariupol akan membuat Kremlin bisa menunjukkan kepada rakyat Rusia melalui media pemerintah bahwa tujuan aksi militer telah tercapai.

Rencana mengevakuasi 6.000 orang
Seiring dengan terpojoknya militer Ukraina di Mariupol, yang diharapkan kini adalah kesepakatan untuk menciptakan koridor kemanusiaan demi mengevakuasi perempuan, anak-anak, dan kaum lansia.

Ukraina berharap bisa mengirim sebanyak 90 bus ke Mariupol pada Rabu (20/04) untuk mengevakuasi sebanyak 6.000 orang, kata Walikota Mariupol, Vadym Boichenko, kepada stasiun televisi nasional.

Menurutnya, sekitar 100.000 warga sipil tetap berada di Mariupol dan puluhan ribu lainnya tewas ketika tentara Rusia mengepung kota itu.

Ada empat alasan utama mengapa merebut kota pelabuhan itu akan menjadi kemenangan strategis bagi Rusia, tapi pada saat bersamaan menjadi pukulan besar bagi Ukraina.

Mariupol mengalami kerusakan terparah akibat bom dan serangan Rusia. Kota itu adalah kunci kesuksesan operasi militer Moskow di Ukraina, tapi mengapa?

Ada empat alasan utama mengapa merebut kota pelabuhan itu akan menjadi kemenangan strategis bagi Rusia, tapi pada saat bersamaan menjadi pukulan besar bagi Ukraina.

  1. Mengamankan koridor darat antara Krimea dan Donbas
    Secara geografis, Mariupol hanyalah wilayah kecil di peta Ukraina, tetapi sekarang penduduknya mati-matian mempertahankan kota itu dari kepungan pasukan Rusia.

Pasukan Rusia melaju ke arah timur laut, dari semenanjung Krimea, agar bisa terhubung dengan para kamerad mereka, kelompok separatis di Donbas, Ukraina timur.

Jenderal Sir Richard Barrons, mantan panglima Komando Pasukan Gabungan Inggris, mengatakan merebut Mariupol sangat penting bagi Rusia.

"Ketika Rusia merasa telah berhasil menyelesaikan pertempuran itu, mereka akan membuat jembatan darat dari Rusia ke Krimea dan mereka akan melihat ini sebagai keberhasilan strategis utama."

Jika Mariupol direbut, Rusia akan memiliki kendali penuh atas lebih dari 80% garis pantai Laut Hitam di Ukraina. Akibatnya, perdagangan maritim Ukraina akan terhenti dan negara itu semakin terisolasi dari dunia.

Tiga minggu bertahan melawan pasukan Rusia, pasukan Ukraina berhasil menyita konsentrasi sejumlah besar lawan mereka. Namun, kegagalan Rusia untuk merebut Mariupol dengan cepat, membuat komandannya menggunakan taktik pengepungan abad ke-21.

Mereka menyerang Mariupol dengan artileri, roket, dan rudal. Akibatnya, 90% kota itu hancur. Mereka juga telah memutus akses listrik, pemanas, air bersih, makanan, dan pasokan medis. Hal itu lantas menciptakan bencana kemanusiaan.

Moskow menyalahkan Ukraina karena menolak untuk menyerah pada batas waktu hari Senin (21/3) jam 05:00. Seorang anggota parlemen Ukraina menuduh Rusia "mencoba membuat warga Mariupol kelaparan agar mereka menyerah".

Ukraina sudah bertekad mempertahankan Mariupol habis-habisan hingga serdadu terakhir. Ini mungkin bakal terjadi.

Pasukan Rusia perlahan-lahan mendesak ke tengah, dan dengan tidak adanya kesepakatan damai apa pun yang bisa diterapkan, Rusia kemungkinan akan lebih intensif mengebom - tidak peduli apakah sasarannya orang-orang Ukraina bersenjata atau warga sipil yang masih terjebak. Jumlah warga sipil yang bernasib demikian lebih dari 200.000 jiwa.

Jika Rusia mengambil kendali penuh atas Mariupol, hampir 6.000 tentaranya - yang diorganisasikan ke dalam kelompok taktis berkekuatan 1.000 batalyon - leluasa bergerak dan memperkuat front Rusia lainnya di Ukraina.

Beberapa kemungkinan penugasan mereka antara lain:

ke timur laut untuk bergabung dalam pertempuran mengepung dan menghancurkan angkatan bersenjata reguler Ukraina yang memerangi separatis pro-Kremlin di wilayah Donbas.
ke barat untuk masuk ke Kota Odesa, yang menjadi pertahanan terakhir Ukraina yang tersisa di pesisir Laut Hitam.
ke barat laut menuju Kota Dnipro.

  1. Menghantam perekonomian Ukraina
    Mariupol sudah sejak lama menjadi pelabuhan penting yang strategis di Laut Azov, bagian dari Laut Hitam.

Kota ini merupakan pelabuhan terbesar di wilayah Laut Azov dan tempat pabrik-pabrik besi dan baja unggulan.

Di masa-masa normal, Mariupol adalah pusat ekspor utama untuk baja, batu bara, dan jagung Ukraina yang dikirim ke para pelanggannya di Timur Tengah dan sekitarnya.

Selama delapan tahun, sejak Moskow mencaplok Krimea secara ilegal pada 2014, Mariupol terjepit di antara pasukan Rusia di Semenanjung Krimea dan separatis pro-Kremlin di Republik Donetsk dan Luhansk yang memisahkan diri.

Kehilangan Mariupol akan menjadi pukulan besar bagi perekonomian Ukraina yang tersisa.

  1. Peluang propaganda
    Mariupol adalah markas bagi unit milisi Ukraina yang disebut Brigade Azov. Nama itu diambil dari nama Laut Azov yang menghubungkan Mariupol dengan Laut Hitam. Brigade Azov beranggotakan ekstremis sayap kanan, termasuk neo-Nazi.

Meskipun mereka hanya membentuk fraksi terkecil dari pasukan tempur Ukraina, keberadaan unit itu dimanfaatkan sebagai alat propaganda yang berguna bagi Moskow.

Moskow jadi punya alasan untuk mengumumkan kepada penduduk Rusia bahwa para pemuda mereka dikirim berperang ke Ukraina demi menumpas neo-Nazi.

Jika Rusia berhasil menangkap banyak anggota Brigade Azov hidup-hidup, kemungkinan mereka akan ditampilkan di media yang dikendalikan pemerintah Rusia sebagai bagian dari perang informasi untuk mendiskreditkan Ukraina dan pemerintahnya.

  1. Mendongkrak semangat Rusia
    Jika Mariupol berhasil dikuasai Rusia, kedua belah pihak akan mengalami dampak psikologis yang signifikan dalam perang ini.

Kemenangan Rusia di Mariupol akan memberikan kemungkinan bagi Kremlin untuk menunjukkan kepada penduduknya - melalui media yang dikendalikan negara - bahwa Rusia mencapai tujuannya dan membuat kemajuan.

Bagi Presiden Putin, yang tampaknya menjadikan perang ini lebih bersifat pribadi, ada makna historis dari semua ini. Dia melihat garis pantai Laut Hitam Ukraina adalah bagian dari Novorossiya (Rusia Baru), wilayah Rusia yang berasal dari kekaisaran abad ke-18.

Putin ingin menghidupkan kembali konsep itu, "menyelamatkan Rusia dari tirani pemerintah pro-Barat di Kyiv", seperti pandangannya selama ini. Saat ini, Mariupol menghalanginya mencapai tujuan itu.

Namun, bagi warga Ukraina, hilangnya Mariupol akan menjadi pukulan besar, tidak hanya secara militer dan ekonomi, tetapi juga bagi mereka yang berjuang di lapangan, membela negara mereka.

Mariupol akan menjadi kota besar pertama yang jatuh ke tangan Rusia setelah Kherson, kota yang secara strategis jauh lebih penting, yang nyaris tidak dipertahankan.

Ada aspek moral lain di sini, yaitu penggentaran.

Mariupol telah melakukan perlawanan sengit, tetapi lihatlah ganjarannya.

Kota ini hancur, sebagian besar luluh lantak. Kota itu akan tercatat dalam sejarah bersama Grozny dan Aleppo, tempat-tempat yang akhirnya dibom dan digempur oleh Rusia sampai menyerah, dan kemudian dibuat tinggal puing-puing.

Pesan ke kota-kota Ukraina lainnya sangat jelas, jika kalian memilih sikap yang sama dengan Mariupol, maka kalian bisa mengalami nasib yang sama pula.

"Rusia tidak bisa masuk ke Mariupol," kata Jenderal Sir Richard Barrons, "mereka tidak bisa masuk menggunakan tank-tank, jadi mereka menghancurkannya menjadi puing-puing. Dan itulah yang akan kita lihat di tempat lain yang mereka anggap benar-benar penting." (Agusto / Sumber : Frank Gardner, BBC News - Reuters)