Program MBG Jadi Motor Ekonomi Rakyat di Makassar
BGN soroti peran tenaga kerja lokal Makassar dalam program gizi nasional. Dorong ekonomi rakyat dan lapangan kerja inklusif.
MAKASSAR - Pagi di Makassar tak lagi sekadar riuh aktivitas kota. Di balik dapur-dapur jasa boga, di ruang-ruang klinik, dan di laboratorium gizi yang terus bertumbuh, ada denyut baru yang menggerakkan harapan: tenaga kerja lokal yang perlahan menemukan perannya dalam ekosistem besar pembangunan gizi nasional.
Di tengah geliat itu, Badan Gizi Nasional melihat sesuatu yang lebih dari sekadar program. Mereka melihat peluang—peluang besar untuk menggerakkan ekonomi rakyat berbasis kebutuhan paling mendasar: pangan bergizi dan kesehatan.
Kunjungan yang Membaca Masa Depan
Dalam kunjungan kerjanya ke Makassar, Kepala Biro Hukum dan Humas BGN, Khairul Hidayati, tidak hanya meninjau kesiapan program, tetapi juga membaca arah masa depan kota ini.
Makassar, dengan visi “Unggul dan Inklusif,” dinilai memiliki fondasi kuat dalam mengintegrasikan pertumbuhan investasi dengan pemberdayaan tenaga kerja lokal. Sektor jasa boga dan kesehatan menjadi dua ruang strategis yang kini berkembang pesat, membuka peluang kerja baru yang sebelumnya belum tergarap optimal.
“Program MBG adalah mesin penggerak ekonomi rakyat. Melalui kunjungan ini, kami melihat komitmen Makassar dalam menciptakan lapangan kerja yang inklusif sangat sejalan dengan kebutuhan kami akan tenaga lokal yang terampil dan bersertifikasi untuk mendukung operasional di lapangan,” ujar Hidayati di Makassar, Kamis (2/4/2026).
Kutipan ini menjadi penanda penting: bahwa program Makan Bergizi Gratis bukan sekadar kebijakan sosial, tetapi juga strategi ekonomi yang menyentuh akar masyarakat.
Ketika Program Gizi Menjadi Mesin Ekonomi
Di banyak daerah, program nasional sering kali dipandang sebagai proyek jangka pendek. Namun di Makassar, pendekatan itu berbeda. Program gizi justru diposisikan sebagai ekosistem yang hidup—menghubungkan produksi, distribusi, hingga konsumsi.
Di titik ini, tenaga kerja lokal menjadi pusat dari seluruh pergerakan. Dari juru masak di dapur komunitas hingga tenaga analis di laboratorium gizi, semuanya menjadi bagian dari rantai nilai yang saling terhubung.
Hidayati menegaskan bahwa kebutuhan tenaga kerja terampil akan terus meningkat seiring berkembangnya investasi di sektor ini. Bukan hanya jumlah, tetapi juga kualitas yang menjadi perhatian utama.
Perizinan Cepat, SDM Berkualitas
Transformasi pelayanan publik yang dilakukan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kota Makassar menjadi faktor kunci dalam percepatan ini. Kemudahan perizinan bagi tenaga teknis dan pelaku usaha mikro membuka akses yang lebih luas bagi masyarakat untuk terlibat langsung.
Bagi banyak pekerja lokal, proses yang dulunya rumit kini menjadi lebih sederhana. Legalitas tidak lagi menjadi hambatan, melainkan jembatan menuju profesionalisme.
“Visi Makassar yang inklusif memastikan bahwa setiap lapisan masyarakat dapat terlibat dalam rantai pasok gizi. Dengan dukungan sistem perizinan yang cepat, kami yakin tenaga kerja lokal di Makassar dapat terserap secara maksimal dan profesional, sekaligus menjadi pilar utama dalam mewujudkan generasi sehat dan kuat,” pungkas Hidayati.
Pernyataan ini menegaskan hubungan erat antara kebijakan birokrasi dan kualitas sumber daya manusia.
Inklusivitas sebagai Kekuatan Utama
Makassar tidak hanya membangun sistem, tetapi juga membangun kepercayaan. Inklusivitas yang digaungkan bukan sekadar slogan, melainkan praktik nyata yang membuka ruang bagi semua lapisan masyarakat.
Dalam konteks ini, tenaga kerja lokal bukan hanya objek pembangunan, tetapi subjek utama. Mereka tidak hanya bekerja, tetapi juga tumbuh bersama sistem yang mendukung.
Dari perspektif sosial, hal ini menciptakan efek berantai. Ketika satu individu mendapatkan pekerjaan, maka satu keluarga memperoleh akses terhadap kehidupan yang lebih layak. Ketika banyak individu terserap, maka ekonomi lokal pun bergerak lebih dinamis.
Makassar dan Peta Gizi Nasional
Apa yang terjadi di Makassar memberi gambaran tentang bagaimana program nasional bisa diimplementasikan secara kontekstual. Kota ini tidak hanya mengikuti kebijakan pusat, tetapi juga menerjemahkannya sesuai dengan kebutuhan lokal.
Dalam peta besar pembangunan gizi nasional, Makassar mulai menempati posisi penting sebagai model integrasi antara investasi, tenaga kerja, dan pelayanan publik.
Dengan pertumbuhan investasi yang positif, dukungan sistem perizinan yang efisien, serta komitmen terhadap inklusivitas, kota ini menunjukkan bahwa pembangunan tidak harus meninggalkan siapa pun.
Membangun dari Akar
Pada akhirnya, kekuatan sebuah program tidak terletak pada besarnya anggaran, tetapi pada sejauh mana ia mampu menyentuh kehidupan nyata masyarakat.
Di Makassar, Program Makan Bergizi Gratis menemukan bentuknya yang paling konkret: membuka lapangan kerja, memberdayakan tenaga lokal, dan membangun masa depan generasi yang lebih sehat.
Dan di balik semua itu, ada satu hal yang menjadi fondasi—kepercayaan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari akar, dari manusia, dari mereka yang selama ini menunggu kesempatan.*