Rahasia Kebahagiaan Sejati: 7 Pesan Ustaz Yusran dari Kajian Subuh Bulukumba
Kajian Subuh di Bulukumba ungkap 7 tanda kebahagiaan sejati menurut Ustaz Yusran. Bukan soal harta, tapi amal, waktu, dan kepedulian.
BULUKUMBA - Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang sering mengukur bahagia dari materi, sebuah kajian sederhana selepas Subuh justru menghadirkan perspektif yang menenangkan jiwa.
Di Masjid Pejuang Subuh di Jalan Yos Sudarso, Kelurahan Terang-Terang, Kecamatan Ujung Bulu, menjadi saksi bagaimana makna kebahagiaan dibedah secara mendalam bukan dari apa yang dimiliki, tetapi dari apa yang dijalani.
Ketua Dewan Syariah Wahdah Islamiyah, Ustaz Dr. Muh. Yusran Anshar, Lc., MA, dalam kajian bertema “Tanda-Tanda Kebahagiaan”, mengajak jamaah merenung: apakah benar kebahagiaan bisa dibeli?
“Ada yang bisa membeli tempat tidur yang empuk. Tapi, ia tidak bisa membeli tidur itu sendiri. Ada yang bisa membeli obat, tapi ia tidak bisa membeli kesembuhan itu sendiri,” ujarnya.dikutip dari laman wahdah.or.id, Minggu, 5 April 2026.
Kajian berlangsung di Masjid Pejuang Subuh, pusat aktivitas dakwah masyarakat Bulukumba. Sosok Ustaz Yusran, alumnus Universitas Islam Madinah, dikenal luas sebagai ulama dengan pendekatan ilmiah dan menyentuh sisi emosional jamaah.
beliau membahas poin keenam—tentang kepedulian terhadap umat Islam global, khususnya di Gaza. Suaranya berat, matanya berkaca-kaca. Sebuah momen yang tak hanya informatif, tetapi juga menggugah empati kolektif.
Dalam perspektif spiritual, harta hanyalah alat, bukan tujuan. Ustaz Yusran menekankan bahwa banyak hal esensial dalam hidup tidak bisa dibeli. Ini sejalan dengan tren pencarian global yang menunjukkan peningkatan minat terhadap makna hidup dan keseimbangan batin.
Tujuh Tanda Kebahagiaan Sejati
1. Dimudahkan dalam Ketaatan
Kebahagiaan pertama adalah ketika seseorang merasa ringan dalam beribadah. Ustaz Yusran mengutip doa Rasulullah yang meminta kemudahan untuk berzikir, bersyukur, dan beribadah dengan baik.
2. Amal Sesuai Sunnah
Kehidupan yang selaras dengan sunnah menjadi indikator kebahagiaan. Seorang Muslim tidak hanya beramal, tetapi memahami dasar dalil dari setiap perbuatannya.
3. Bersahabat dengan Orang Saleh
Dalam analogi yang indah, Rasulullah menggambarkan teman baik seperti penjual parfum selalu memberi aroma kebaikan. Sebaliknya, teman buruk seperti pandai besi yang bisa membakar.
4. Akhlak yang Baik
Kebaikan tidak hanya vertikal kepada Tuhan, tetapi juga horizontal kepada sesama. Akhlak menjadi cermin kebahagiaan yang nyata.
5. Gemar Membantu
Mengambil pelajaran dari kisah Nabi Musa dalam Surah Al-Qashash, membantu sesama adalah jalan menuju kebahagiaan yang hakiki.
6. Peduli terhadap Umat
Poin ini menjadi momen emosional dalam kajian. Kepedulian terhadap saudara Muslim di Palestina menjadi bukti bahwa hati yang hidup adalah hati yang merasa.
7. Menjaga Waktu
Manajemen waktu bukan sekadar produktivitas, tetapi investasi akhirat. Ustaz Yusran mendorong jamaah untuk memiliki “proyek kebaikan” sebagai warisan.
Kebahagiaan Adalah Perjalanan, Bukan Tujuan Instan
Kajian Subuh ini menjadi pengingat bahwa kebahagiaan bukanlah sesuatu yang instan atau bisa dibeli. Ia adalah hasil dari perjalanan spiritual, hubungan sosial yang sehat, dan manajemen diri yang baik.*