News and Education Versi penuh
Daerah

Respons Henti Jantung, RSUD Bulukumba Gembleng CS hingga Satpam

RSUD Bulukumba latih satpam & cleaning service kuasai respons henti jantung. Langkah taktis pangkas risiko fatalitas pasien lewat rantai penyelamatan.

Oleh Uno 12 Jun 2026 19:02 4 menit baca

Jalurdua.com BULUKUMBA - Detik-detik kritis akibat henti jantung dan henti napas kini tidak lagi hanya bertumpu pada kesiapan dokter atau perawat di lini depan medis. Sebuah terobosan sistemik diambil oleh RSUD H. Andi Sulthan Daeng Radja Bulukumba dengan menggembleng barisan petugas nonmedis, mulai dari petugas keamanan (satpam) hingga petugas kebersihan (cleaning service), untuk menguasai kompetensi taktis respons henti jantung secara cepat dan tepat demi menyelamatkan nyawa pasien.

Langkah tak biasa ini terekam jelas dalam agenda Sosialisasi Pelatihan Kesiapsiagaan Darurat Rumah Sakit untuk Merespons Henti Jantung dan Henti Napas yang digelar di Aula Pertemuan IGD Lantai III, Rabu, 10 Juni 2026. Di ruangan yang dipenuhi atmosfer keseriusan tersebut, sebanyak 149 peserta berkumpul tanpa sekat profesi. Di antara seragam putih para perawat, tampak barisan seragam cokelat tegap khas satpam serta baju kerja lapangan tim cleaning service yang menyimak setiap arahan teknis dari pemateri dengan saksama.

Selama ini, publik sering kali melihat penanganan pasien yang mendadak kolaps di lingkungan rumah sakit sebagai wilayah eksklusif tenaga medis. Namun, realitas di lapangan menunjukkan hal yang berbeda. Orang yang pertama kali berada di dekat pasien ketika situasi darurat terjadi di koridor, ruang tunggu, atau area parkir justru sering kali adalah petugas kebersihan yang sedang menyapu lantai atau satpam yang tengah berjaga di pintu gerbang utama.

Memutuskannya Keterlambatan Lewat Rantai Penyelamatan Inklusif

Sadar akan pentingnya memangkas setiap detik keterlambatan respons dari hulu ke hilir, Wakil Direktur Pelayanan Medik, Penunjang Medik dan Keperawatan RSUD Bulukumba, dr. Rismayanti Waris, M.Kes., Sp.GK, menegaskan bahwa kesiapsiagaan darurat merupakan instrumen yang mutlak dikuasai oleh seluruh unsur sumber daya manusia tanpa terkecuali. Kemampuan merespons kondisi kegawatdaruratan seperti henti jantung dan henti napas secara cepat dan tepat merupakan faktor utama dalam upaya penyelamatan pasien yang tidak bisa ditawar lagi.

“Setiap petugas di lingkungan rumah sakit memiliki peran penting dalam rantai penyelamatan pasien. Oleh karena itu, pengetahuan dan keterampilan dasar dalam menghadapi situasi henti jantung maupun henti napas perlu dimiliki dan terus ditingkatkan melalui pelatihan seperti ini,” ujar dr. Rismayanti Waris secara lugas saat membuka kegiatan tersebut.

Melalui pendekatan inklusif ini, pihak rumah sakit berusaha memutus mata rantai birokrasi penanganan darurat yang kaku. Ketika seorang penunggu pasien tiba-tiba mengalami henti jantung di selasar rumah sakit, satpam yang bertugas di dekatnya kini tidak perlu panik mencari perawat terlebih dahulu hanya untuk melakukan tindakan awal. Dengan pelatihan ini, koordinasi antarprofesi diharapkan menguat secara organik, menciptakan sistem pelayanan kesehatan yang aman, cepat, dan berkualitas di tingkat daerah.

Standardisasi Prosedur dan Aktivasi Bantuan Kegawatdaruratan

Setelah seremoni pembukaan usai, fokus beralih sepenuhnya pada pemaparan materi teknis yang dibawakan oleh dr. Muliawan Mubarak. Sebagai pemateri utama, ia membedah berbagai aspek vital penanganan kegawatdaruratan medis. Materi yang disajikan sengaja dirancang agar mudah dicerna oleh tenaga nonmedis tanpa mengurangi bobot ilmiah, mulai dari pengenalan dini tanda-tanda fisik henti jantung dan henti napas, prosedur baku aktivasi bantuan darurat internal, hingga langkah penanganan awal sebelum tim medis khusus tiba di lokasi kejadian.

Pelatihan ini dipantau langsung oleh jajaran manajemen kunci, termasuk Kepala Bidang Keperawatan, St. Daharia, SKM., M.Kes, serta Kepala Bidang Pengembangan SDM, Penelitian dan Pengembangan, dr. Andi Marla Susyanti Akbar, M.Tr.Adm.Ked. Kehadiran mereka menegaskan bahwa keterlibatan 149 peserta yang mencakup koordinator ruangan perawatan, staf perawat, satpam, hingga cleaning service merupakan bagian dari cetak biru jangka panjang untuk menciptakan budaya keselamatan dan kesiapsiagaan yang menyeluruh dan merata di seluruh sudut rumah sakit.

Bagi tim cleaning service dan petugas keamanan, pelatihan ini memberikan wawasan baru yang mengubah paradigma kerja mereka. Mereka kini memahami bahwa fungsi mereka bukan sekadar menjaga kebersihan fisik dan ketertiban area, melainkan juga bertindak sebagai mata dan telinga medis yang mampu mengidentifikasi bahaya fatalitas pasien sejak dini. Standardisasi ini memastikan tidak ada ruang bagi kelalaian akibat ketidaktahuan prosedur dasar ketika nyawa manusia sedang dipertaruhkan di lantai perawatan.

Membangun Budaya Keselamatan Publik yang Responsif

Komitmen nyata yang ditunjukkan oleh manajemen RSUD H. Andi Sulthan Daeng Radja Bulukumba lewat agenda ini memberikan sinyal positif bagi peningkatan mutu pelayanan kesehatan masyarakat di Sulawesi Selatan. Dengan memperkuat kompetensi sumber daya manusia di segala lini, rumah sakit daerah ini berusaha membuktikan bahwa layanan medis profesional, responsif, dan berorientasi pada keselamatan pasien dapat diwujudkan secara konsisten melalui penguatan sistem respons kegawatdaruratan internal yang solid.

Ke depan, tantangan terbesar bagi rumah sakit adalah menjaga konsistensi dan kesiapan mental para petugas nonmedis ini ketika menghadapi situasi riil di lapangan. Pelatihan berkala dan simulasi mendadak tanpa pemberitahuan perlu dipertimbangkan sebagai langkah lanjutan. Melalui ekosistem yang siaga ini, masyarakat Bulukumba dapat merasa lebih aman, mengetahui bahwa setiap individu yang mengenakan seragam rumah sakit—apa pun posisinya—adalah bagian dari benteng penyelamat nyawa yang terlatih.***

Topik terkait
Respons Henti Jantung Satpam Rumah Sakit Keselamatan Pasien