Tragedi UNIFIL: SBY Ungkap Realitas Berat Misi Perdamaian Indonesia

SBY soroti gugurnya prajurit RI di Lebanon, desak investigasi PBB dan evaluasi misi perdamaian di zona konflik aktif.

Tragedi UNIFIL: SBY Ungkap Realitas Berat Misi Perdamaian Indonesia
Foto: screenshot/X/JalurDua/
Bacakan Artikel

JALURDUA JAKARTA - Duka mendalam kembali menyelimuti Indonesia. Kabar gugurnya tiga prajurit penjaga perdamaian di Lebanon bukan sekadar angka dalam laporan konflik, tetapi luka nyata yang dirasakan keluarga dan bangsa.

Dalam cuitannya, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengungkap sisi paling manusiawi dari tragedi ini air mata, kehilangan, dan tuntutan keadilan yang tak bisa diabaikan.

Ketika Pengabdian Dibayar dengan Nyawa

Dalam tulisannya, SBY menggambarkan momen yang mengguncang batin saat memberikan penghormatan terakhir kepada para prajurit yang gugur. Ia menyaksikan langsung kesedihan keluarga yang ditinggalkan istri, anak, dan orang tua yang harus menerima kenyataan pahit.

“Air mata yang jatuh di pipi mereka bukan sekadar simbol duka, melainkan bukti nyata dari harga yang harus dibayar atas sebuah pengabdian kepada negara.”tulisnya. Minggu, 5 April 2026.

Tragedi ini terjadi di wilayah Lebanon Selatan, lokasi penugasan pasukan perdamaian di bawah mandat PBB. Namun, situasi di lapangan telah berubah drastis. Kawasan yang sebelumnya relatif stabil kini menjadi zona konflik aktif antara Israel dan Hizbullah.

SBY menyoroti bahwa perubahan eskalasi konflik ini membuat para peacekeeper menghadapi risiko yang jauh melampaui mandat awal mereka.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: