News and Education Versi penuh
Daerah

Masalah Digitalisasi Bulukumba, Puluhan Website Desa Tak Terusur

Hasil evaluasi Diskominfo Bulukumba menunjukkan 54 persen website desa tidak aktif optimal. Ini kendala dan daftar desa dengan rapor merah.

Oleh Uno 07 Jul 2026 20:06 3 menit baca

Jalurdua.com BULUKUMBA – Agenda transformasi digital di tingkat pemerintahan desa Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, tampaknya masih menghadapi jalan terjal.

Hasil evaluasi terbaru menunjukkan bahwa mayoritas situs web (website) resmi desa di wilayah tersebut tidak dikelola dengan optimal, bahkan beberapa di antaranya mati total.

Dari total 109 website desa dengan domain resmi `desa.id` yang dievaluasi oleh Pemerintah Kabupaten Bulukumba, lebih dari separuhnya (54 persen) masuk dalam kategori kurang aktif hingga tidak beroperasi.

Fakta tersebut dipaparkan dalam kegiatan Pemetaan Kebutuhan Pembinaan dan Tata Kelola Website Desa yang digelar di Gedung Pinisi, Bulukumba, Senin (6/7/2026).

Rincian Rapor Keaktifan Website Desa

Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) bersama Dinas Komunikasi, Informatika, dan Persandian (Diskominfo) Bulukumba memetakan tingkat keaktifan 109 situs web desa tersebut ke dalam tiga kategori utama:

Aktif: 50 website (46 persen)
Kurang Aktif: 48 website (44 persen)
Tidak Aktif (Mati Total): 11 website (10 persen)

"Data ini menunjukkan masih ada sejumlah website desa yang memerlukan perhatian dan pendampingan serius agar dapat dimanfaatkan secara optimal sebagai sarana keterbukaan informasi publik," ujar Kepala Bidang Humas Diskominfo Bulukumba, Andi Ayatullah Ahmad, Senin.

 5 Website Desa Terbaik dan Contoh Percontohan

Di tengah mandeknya pengelolaan literasi digital di tingkat desa, Pemkab Bulukumba merilis lima website desa terbaik yang dinilai konsisten dalam memperbarui informasi pelayanan, publikasi berita, transparansi anggaran, hingga galeri kegiatan.

Berikut adalah 5 desa terbaik dalam produktivitas konten 2026:

1. Desa Oro Gading (Kecamatan Kindang)
2. Desa Dwi Tiro (Kecamatan Bontotiro)
3. Desa Dampang (Kecamatan Gantarang)
4. Desa Benteng Palioi (Kecamatan Kindang)
5. Desa Batulohe (Kecamatan Bulukumpa)

Selain kelima desa di atas, Kecamatan Ujungloe juga mendapat apresiasi khusus sebagai wilayah percontohan. Dari 12 desa yang ada di Ujungloe, 9 website desa berstatus aktif dan tidak ada satu pun website desa yang mati total.

Tiga Akar Masalah Utama di Lapangan

Tim evaluasi mengungkapkan bahwa masalah mandeknya digitalisasi desa bukan sekadar persoalan teknis, melainkan menyangkut manajemen SDM di internal pemerintahan desa. Ada tiga kendala utama yang ditemukan:

Tingginya Pergantian Operator: Kebijakan pergantian perangkat atau operator desa yang terlalu sering membuat transfer keahlian pengelolaan komputasi dan web tidak berjalan berkesinambungan.

Keterbatasan Infrastruktur: Akses internet yang belum merata di beberapa wilayah pelosok Bulukumba.

Minimnya Kemampuan Jurnalistik: Keterbatasan aparatur desa dalam memproduksi berita, foto, dan mengelola konten digital yang menarik bagi publik.

Menanggapi kendala ini, Kepala Dinas PMD Bulukumba, Asdar A. Bennu, menegaskan bahwa dukungan penuh dari kepala desa adalah kunci keberlanjutan platform digital ini.

"Website desa bukan sekadar pelengkap administrasi atau media publikasi pajangan, melainkan wajah pemerintahan desa yang mencerminkan transparansi dan profesionalisme layanan publik," tegas Asdar.

Sebagai langkah konkret jangka pendek, Diskominfo bersama Dinas PMD Bulukumba merekomendasikan pelaksanaan bimbingan teknis (coaching clinic) mengenai tata kelola web dan jurnalistik desa secara berkala, khususnya bagi para operator baru.

Topik terkait
website desa bulukumba diskominfo bulukumba digitalisasi desa