Etika Jurnalistik Dipertanyakan, Pakar Soroti Framing Media
Dr Iqbal Sultan kritik media mainstream soal judul bombastis Rp2 miliar helikopter Sulsel. Tekankan pentingnya verifikasi dan edukasi publik.
JALURDUA - Makassar - Di era kecepatan informasi, satu kata dalam judul berita bisa mengubah persepsi publik secara drastis. Kata “habiskan” misalnya, terdengar tegas, keras, bahkan memicu emosi. Namun, bagaimana jika kata itu belum sepenuhnya mewakili fakta?
Di tengah dinamika media digital yang semakin kompetitif, Pakar komunikasi publik dan media massa, Dr Iqbal Sultan, mengingatkan kembali esensi jurnalisme: mendidik, bukan menggiring opini.
Antara Data dan Sensasi
Pernyataan ini muncul sebagai respons terhadap pemberitaan salah satu media lokal Sulawesi Selatan yang mengangkat judul “Pemprov Sulsel Habiskan Rp2 Miliar untuk Sewa Helikopter”.
Padahal, jika ditelusuri dari sumber data primer di situs resmi pengadaan pemerintah, yakni sirup.inaproc.id—platform milik LKPP—informasi tersebut masih berupa rencana pengadaan, bukan realisasi anggaran.
Di sinilah letak persoalannya. Dalam perspektif komunikasi publik, pemilihan diksi memiliki dampak besar terhadap framing berita.
“Padahal ini kan baru rencana, belum dilaksanakan di tahun 2026, kenapa menggunakan diksi menghabiskan,” ujar Dr Iqbal Sultan, dikutip dari laman sulselprov.go.id, kamis 2 April 2026.
Pilar Demokrasi yang Tidak Boleh Goyah
- BPS Canangkan Desa Cantik Rilau Ale, Ubah Desa Jadi Subjek Data
- Apdesi Merah Putih Deklarasi Desa Bersinar di Bulukumba
- Pemkab Bulukumba Perkuat Tata Kelola Data Berbasis Spasial
- Jelang 70 Tahun Diplomasi: Indonesia-Jepang Kian Solid
- WNI di Malaysia Diimbau Ikut Repatriasi Migran Sebelum Berakhir