Hari Penyiaran Nasional 2026: Peran Strategis Media dalam Menangkal Disinformasi

93 tahun Hari Penyiaran Nasional, kolaborasi media jadi kunci menjaga ketahanan informasi dan persatuan bangsa di era digital.

Hari Penyiaran Nasional 2026: Peran Strategis Media dalam Menangkal Disinformasi
Foto: Ilustrasi penyiar radio/AI Gemini/Jalur Dua/
Bacakan Artikel

Ketahanan nasional hari ini telah mengalami pergeseran makna. Ia tidak lagi hanya berbicara tentang kekuatan militer atau stabilitas ekonomi, tetapi juga tentang ketahanan informasi dan budaya. Dalam konteks ini, penyiaran memegang peran strategis yang sering kali tidak terlihat, namun sangat menentukan.

Informasi yang salah, jika dibiarkan, dapat menggerus kepercayaan publik, memicu konflik, bahkan merusak kohesi sosial. Sebaliknya, informasi yang akurat dan berimbang mampu memperkuat rasa kebangsaan, meningkatkan literasi media, dan membangun masyarakat yang lebih kritis.

Di sinilah penyiaran bekerja dalam diamโ€”menjadi penjaga harmoni. Ia tidak selalu tampak di garis depan, tetapi kehadirannya menentukan arah percakapan publik. Ketika masyarakat dihadapkan pada banjir informasi, penyiaran hadir sebagai kompas yang membantu membedakan mana yang fakta dan mana yang sekadar opini.

Adaptif Tanpa Kehilangan Jati Diri

Refleksi 93 tahun Hari Penyiaran Nasional juga membawa satu pesan penting: perubahan adalah keniscayaan, tetapi jati diri tidak boleh hilang. Transformasi digital memang membuka peluang besar, mulai dari perluasan jangkauan hingga peningkatan kualitas konten. Namun, di balik semua itu, integritas tetap menjadi mata uang utama.

SAS meyakini bahwa masa depan penyiaran Indonesia sangat bergantung pada kemampuan untuk beradaptasi tanpa kehilangan nilai-nilai dasar jurnalistik. Etika, verifikasi, dan keberpihakan pada kepentingan publik harus tetap menjadi kompas di tengah perubahan.

Lanjut ke Halaman 4
Pilih Halaman: