Membaca Strategi Rusia, Komandan Marinir Ukraina Minta Bantuan - 'Waktu kami hanya beberapa jam, tolong kami'

Ket gambar : Asap membumbung di pabrik baja Azovstal setelah Rusia melancarkan gempuran - foto : Reuters Jalurdua.com - Jakarta | Seorang komandan marinir di lini pertahanan terakhir Ukraina di Ko...

Membaca Strategi Rusia, Komandan Marinir Ukraina Minta Bantuan - 'Waktu kami hanya beberapa jam, tolong kami'
Bacakan Artikel

"Ketika Rusia merasa telah berhasil menyelesaikan pertempuran itu, mereka akan membuat jembatan darat dari Rusia ke Krimea dan mereka akan melihat ini sebagai keberhasilan strategis utama."

Jika Mariupol direbut, Rusia akan memiliki kendali penuh atas lebih dari 80% garis pantai Laut Hitam di Ukraina. Akibatnya, perdagangan maritim Ukraina akan terhenti dan negara itu semakin terisolasi dari dunia.

Tiga minggu bertahan melawan pasukan Rusia, pasukan Ukraina berhasil menyita konsentrasi sejumlah besar lawan mereka. Namun, kegagalan Rusia untuk merebut Mariupol dengan cepat, membuat komandannya menggunakan taktik pengepungan abad ke-21.

Mereka menyerang Mariupol dengan artileri, roket, dan rudal. Akibatnya, 90% kota itu hancur. Mereka juga telah memutus akses listrik, pemanas, air bersih, makanan, dan pasokan medis. Hal itu lantas menciptakan bencana kemanusiaan.

Moskow menyalahkan Ukraina karena menolak untuk menyerah pada batas waktu hari Senin (21/3) jam 05:00. Seorang anggota parlemen Ukraina menuduh Rusia "mencoba membuat warga Mariupol kelaparan agar mereka menyerah".

Ukraina sudah bertekad mempertahankan Mariupol habis-habisan hingga serdadu terakhir. Ini mungkin bakal terjadi.

Pasukan Rusia perlahan-lahan mendesak ke tengah, dan dengan tidak adanya kesepakatan damai apa pun yang bisa diterapkan, Rusia kemungkinan akan lebih intensif mengebom - tidak peduli apakah sasarannya orang-orang Ukraina bersenjata atau warga sipil yang masih terjebak. Jumlah warga sipil yang bernasib demikian lebih dari 200.000 jiwa.

Jika Rusia mengambil kendali penuh atas Mariupol, hampir 6.000 tentaranya - yang diorganisasikan ke dalam kelompok taktis berkekuatan 1.000 batalyon - leluasa bergerak dan memperkuat front Rusia lainnya di Ukraina.

Beberapa kemungkinan penugasan mereka antara lain:

ke timur laut untuk bergabung dalam pertempuran mengepung dan menghancurkan angkatan bersenjata reguler Ukraina yang memerangi separatis pro-Kremlin di wilayah Donbas.
ke barat untuk masuk ke Kota Odesa, yang menjadi pertahanan terakhir Ukraina yang tersisa di pesisir Laut Hitam.
ke barat laut menuju Kota Dnipro.

  1. Menghantam perekonomian Ukraina
    Mariupol sudah sejak lama menjadi pelabuhan penting yang strategis di Laut Azov, bagian dari Laut Hitam.

Kota ini merupakan pelabuhan terbesar di wilayah Laut Azov dan tempat pabrik-pabrik besi dan baja unggulan.

Di masa-masa normal, Mariupol adalah pusat ekspor utama untuk baja, batu bara, dan jagung Ukraina yang dikirim ke para pelanggannya di Timur Tengah dan sekitarnya.

Selama delapan tahun, sejak Moskow mencaplok Krimea secara ilegal pada 2014, Mariupol terjepit di antara pasukan Rusia di Semenanjung Krimea dan separatis pro-Kremlin di Republik Donetsk dan Luhansk yang memisahkan diri.

Kehilangan Mariupol akan menjadi pukulan besar bagi perekonomian Ukraina yang tersisa.

Lanjut ke Halaman 4
Pilih Halaman: